jenayspace

Alden yang heran mengapa ada lelaki yang menghampirinya, dan tau nama panggilan nya ini.

“Iya, gue Alden. Lo siapa?”

“Liam.”

Liam akhirnya mengajak Alden berbicara sebentar diluar. Lalu, menjelaskan bahwa ia ini mantan nya Denara.

“Kita ngga ada kata putus sebenernya, tapi memang gue yang brengsek ninggalin dia tanpa kabar.”

BUGG. Satu tonjokan mendarat di pipi Liam, ia tersenyum tipis, “gapapa Den, gue emang pantes dapetin ini.”

“Lo selingkuh?” tanya Alden.

Liam menggeleng, “gue sakit, gue sembuhin diri dulu. Gue balik kesini artinya gue udah sembuh. Tadi nya gue mau ngelamar Nara, tapi ternyata dia udah suka sama lo. Dan gue sebenernya udah lama balik, dari sebelum lo bedua jadian.” Liam menunduk sembari tertawa sedikit, “Denara lebih pantes dapetin lo.”

Alden terpaku diam mendengar penjelasan Liam.

“Lo tau kan minggu depan Denara ulang tahun?” tanya Liam.

Alden mengangguk.

“Kasih suprise buat dia Den. Dan sekalian gue mau tau, apa bener dia milih lo atau gue.”

“Maksudnya?”

“Suruh dia temuin gue, kalau dia ngajak gue ketemuan artinya dia emang milih lo. Kalau emang dia tetep sama kemauannya gamau ketemu gue, itu artinya gue masih bisa perjuangin dia.”

Alden sebenarnya bimbang menerima tawaran ini tapi ia pun ingin tau, hati Denara untuk siapa sebenarnya.

“Oke.” jawab Alden dengan singkat dan tegas.

Pagi ini mereka bertemu untuk melakukan olahraga bersama, Alden yang sudah membawa sepeda nya dan begitu juga dengan Denara. Mereka mulai mengayuh sepedanya masing-masing. Canda dan tawa penuh pada pagi ini. Mereka melepaskan beban nya dengan tertawa lepas. Masalah-masalah yang datang pada mereka beberapa waktu lalu, membuat hubungan mereka semakin kuat satu sama lain.

“Sini minum dulu.” Alden menepikan sepedanya di bawah pohon.

Denara menurutin perkataan Alden, lalu duduk dan meminum minuman yang diberikan oleh Alden.

“Pelan-pelan, sayang.”

“Hehehe, haus soalnya.”

Alden tiba-tiba tersenyum melihat Denara, mengingat beberapa waktu lalu ia pernah berselisih paham dengan Denara dan akhirnya semua terselesaikan. Alden mengelus puncak kepala Denara, “sayang.” ujarnya.

Denara yang salah tingkah terlihat oleh Alden karena wajahnya memerah, “kamu ih!”

“Apa?” jawab Alden mendekatkan wajahnya.

“Eh, jangan deket-deket!”

Alden terkekeh, lalu mencubit pipi Denara, “i love you, anak kecil.”

Denara membalas kembali dengan mencubit hidung Alden, “ i love you more gantengku!” dengan nada meledek lalu ia pergi berlari, kabur dari Alden.

Kisah mereka memang seperti pasangan umum lainnya, yang bertemu lalu dekat dan jatuh cinta. Tapi, siapa sangka dengan takdir bahwa mereka pernah bertemu sebelum nya. Dari, buku memory Alden dan Denara memang sudah dipertemukan, namun belum waktunya. Setelah mereka dewasa mereka dipertemukan sebagai sepasang kekasih yang akan menjadi sepasang suami istri.

“Dena, selamanya ya? Sampe aku udah gak ada nanti.”

“Iya, Alden.”

“Harsaka Alden Keizano, sangat sayang dengan perempuan yang bernama Denara Orla Arcelia.”

Denara tersenyum, “Denara Orla Arcelia juga, sangat sayang kepada Harsaka Alden Keizano!”


-END-

Setelah membaca buku memory 2, Denara mulai menangis, ia mengira Alden sudah lupa padanya, ia juga mengira akan putus dengan Alden. Namun, nyata nya tidak, Alden sudah mempersiapkan ini semua. Alden benar-benar pria penuh dengan kejutan baginya.

“Hai, anak kecil!” ucap Alden dari belakang sambil berjalan menuju Denara.

Denara menoleh dengan mata yang merah, Alden pun terkejut, “eh? kenapa?”

“PIKIR AJA! MASIH AJA NANYA AKU KENAPA?”

Alden segera memeluk wanita nya ini, lalu mengelus rambutnya, “keren banget pacar aku tadi nyanyi nya.”

“Kamu liat?”

“Liat dong.”

“Dimana? kok aku ga liat kamu?”

“Rahasia.”

Alden melepaskan pelukannya ini, “jadi gimana?”

“Gimana apanya?”

“Jawaban kamu? kan tadi ada pertanyaan di belakang buku nya.”

Denara mengangguk dengan cepat, “mau!”

Alden memeluk Denara kembali, “makasih ya, nikah nya nanti. Yang penting kamu udah aku ikat sebagai calon istri aku.”

Denara sedang bersiap-bersiap untuk bertemu Liam. Liam dan Denara bertemu di taman yang dulu pernah menjadi tempat favorit nya mereka berdua ini.

“Masih sama.” batin Denara lalu melihat keliling sekitar taman tersebut.

Lalu datang lah sosok laki-laki berkulit putih, bibir merah jambu, tersenyum lebar kepada Denara, “hai, nara.”

Jawaban Denara hanya memberi senyuman balik pada Liam dengan canggung.

“Sini.” ajak Liam untuk duduk disebelahnya.

Denara menuruti lalu duduk disebelah Liam.

“Selesai ya, Nar?” tanya Liam membuka suaranya.

“Iya, selesai.”

Liam menunduk lesu, memang sudah tidak ada harapan lagi untuk kembali bersama Denara.

Denara menoleh kepada Liam, “kenapa kak? kenapa baru sekarang kakak kembali? disaat aku udah punya masa depan aku.”

“Maaf.” hanya itu yang bisa Liam ucapkan kepada Denara, lebih baik dia terlihat brengsek depan Denara, jika ingin membela diri pun, Denara tidak bisa kembali padanya.

Denara berdesis, “aku kira, kakak udah berubah. Masih sama aja kayak dulu.”

“Nar..”

“Kak Liam, kita udah selesai.”

“Apa ada harus yang diperjelas lagi?” tambahnya.

Liam mengelus puncak kepala Denara, “boleh kakak peluk kamu buat yang terakhir kalinya?”

Denara menolak, ia tidak mau menyakiti Liam lebih dalam lagi.

“Sebagai adik, bukan sebagai mantan.” ucap Liam.

Pelukan terakhir itu menjadi saksi bahwa kisah Denara dan Liam memang sudah selesai.

Sampailah Alden dikosan Denara. Benar saja pintunya tidak dikunci, Setelah Alden masuk, ia melihat ada seorang wanita yang mungkin seumuran dengan bundanya, sedang duduk berdua bersama Denara. Wajah Denara tampak sedang menahan tangis.

“A-alden?”

Alden segera mendekat lalu memeluk Denara, “kamu gapapa kan? aku khawatir.”

“Ini pacar kamu sayang?” tanya wanita yang ada dihadapan Denara dan Alden.

“Tante, saya mohon. Jangan ganggu keluarga saya lagi. Jangan ganggu papi dan abang saya.” jawab Denara yang menurut Alden itu melenceng dari pertanyaan wanita tersebut.

“Ini mami, Denara.”

“Selama 20 tahun, saya hidup tanpa seorang ibu. Dan tante sekarang dengan seenaknya datang. Tanpa dosa yang tante perbuat selama ini? Tante tau? papi saya banting tulang cari pekerjaan tetap, buka restoran yang selalu gagal tiap tahunnya, dan akhirnya restoran papi sekarang sudah mulai mempunyai cabang. Tante kemana? tante ada?” jawab Denara dengan nada terbata-bata.

“Denara..”

“Apa tante tau makanan kesukaan saya? tante tau kebiasaan saya dirumah apa? apa tante tau saya punya alergi apa? a-apa tante tau, tentang D-denara?” lepas tangisan Denara yang sudah ia tahan.

Alden mengusap-ngusap punggung Denara. Kini ia tau apa yang selalu kenapa dia takut dengan ibu nya.

“Dena.. mami sudah punya suami baru.” satu kalimat yang membuat hati Denara makin sakit.

“See? anda selingkuh.”

“Tampar saya lagi tante. Kenapa depan pacar saya, tante jadi baik seperti ini?”

Alden terkejut mendengar omongan Denara kali ini, karena ia tadinya hanya ingin diam saja, karena ini urusan mereka. Namun jika sudah memakai fisik, Alden pun turun tangan.

“Ini yang dinamakan seorang ibu? bermain fisik? apalagi ini anak perempuan tante sendiri?” Alden membenarkan posisinya dan melihat mami nya Denara.

Mami Denara berdiri, “disini saya hanya ingin minta maaf kepada Denara, tapi dia menjawab dengan tidak sopan!”

“Kamu memang tidak berubah, Rana.” tegas seseorang yang tiba-tiba datang.

“Papi? abang?” ucap Denara.

“Saya bisa laporkan kamu kepada pihak berwajib karena berani bermain fisik dengan Denara!” tambah nya.

“Jika anda masih mengusik keluarga kami, tidak segan-segan saya akan memberi peringatan, Ibu Rana yang terhormat.” Darka yang tersenyum sinis, “silahkan anda keluar dari sini.” Darka dan Papi nya memberi jalan untuk Rana keluar dari kosan nya Denara.

Denara benar-benar kecewa terhadap ibunya sendiri, sudah bermain belakang dan meninggalkan keluarga nya ini.

Pria ber-hoodie hitam ini masuk lalu berjalan kearah Denara dan Darka. Denara yang mencubit Darka, karena abang nya ini sedang menahan tawa melihat kelakuan adik nya yang sekarang seperti orang kebingungan.

“Bang.” sapa Alden.

“Yo, Sak. Yaudah abang ke gudang dulu ya, hati-hati pulang nya. Sak, hati-hati awas lo bawa ngebut.” ujar Darka sembari jalan meninggalkan mereka.

Denara kini sedang membereskan laptop dan bukunya. Lalu, Alden pun membuka suara, “mau pulang?”

Denara hanya memberi jawaban dengan memangutkan kepalanya.

“Ayo.” ajak Alden sembari mengulurkan tangannya.

Denara melihat kepada Alden, lalu Alden memberi isyarat dengan alis yang naik turun lalu senyum, “pegang tangan akunya.” ujarnya.

Denara menuruti perintah dari Alden, namun setelah masuk ke dalam mobil mereka berdua saling diam. Alden yang fokus menyetir dan Denara yang sibuk memainkan ponselnya. Setelah setengah jam mereka saling diam, mereka juga sampai di kosan nya Denara.

“Makasih ya.” ucap Denara sembari membuka pintu mobil.

Alden menahan pergelangan tangan Denara, “kamu kenapa?”

Denara menggeleng, “aku gapapa kok. Kamu ini lagi sakit, kenapa bandel keluar terus anterin aku pulang?”

Alden membenarkan posisinya lalu melihat Denara dengan tatapan serius, “selesain sesuatu biar gaada yang salah paham.”

Denara mengerutkan kening nya, “salah paham?”

“Aku jelasin ya, anak kecil nya Alden.” ucap nya lalu mengelus puncak kepalanya wanita nya ini, “dengerin baik-baik ya. Kemarin itu aku lagi ada adu argumen sama Hana, asalnya aku mau pulang dan selesain secara langsung, tapi ada notif pesan masuk dari mantan aku Airis, yang katanya dia lagi ada didepan rumah aku. Akhirnya aku balik arah dan ajak anak-anak nge-band. Aku nge-band itu ngilangin kemarahan aku, aku tumpahin disitu. Anak-anak juga udah ngerti jadi mereka langsung mau. Ada pertanyaan dulu? biar aku jelasin secara detail lagi.”

“Ada, terus kenapa kamu sampe segitunya? maksud aku, sampe sakit?”

Alden tersenyum, “jangan salah paham ya, itu bukan karena Airis kok. Ayah, aku inget sama ayah. Aku tiap denger nama Airis, jadi inget hari dimana ayah meninggal. Dan, hari itu juga Airis minta putus dan Oma pergi ke KL. Aku sakit hati, karena disini ayah cari mereka pada saat itu. Dan keadaan ayah lagi sekarat, Den.” tutur dengan jelas Alden yang matanya mulai memerah.

“Alden, udah aja ya, jangan dipaksa cerita.”

“Aku gamau kamu salah paham. Aku emang belum cerita tentang ini, emang salah aku, maaf ya?”

Denara benar-benar merasa bersalah telah memikirkan yang tidak-tidak pada Alden, “aku juga minta maaf, harusnya aku ngertiin kamu. Harusnya aku tanya dulu kamu.” ucapnya lalu menunduk, “Alden maaf.”

“Ngga, jangan gitu. Kamu gasalah.” jawab Alden lalu mengangkat dagu Denara agar menatap wajahnya.

“Denara, only you now have become the key to my heart.” jelas Alden lalu mengelus pipi Denara dan mencubitnya, “i love you, anak kecil.”

Wanita yang sedang menyimpan makanan didepan pintu apartemen, terkejut mendapat pesan dari kekasihnya ini untuk masuk saja ke apartemen nya.

“Cenayang ya tu orang.” batin nya.

Denara pun segera masuk, lalu melihat Alden yang sedang duduk dibawah sofa sembari menunduk lesu.

“Alden?”

Alden mendongakan kepala dengan matanya yang sayup lalu tersenyum tipis kepada Denara, “sini.” katanya dengan suara serak.

Denara segera mendekat kepada Alden lalu memegang kening nya, “kamu demam.”

“Pas banget aku beliin kamu bubur, ayo pindah dulu ke sofa, jangan dibawah gini.” tambahnya.

“Dena.” panggil Alden dengan suara yang samar-samar.

“Kenapa? sakit? mau ke dokter?”

Alden menggeleng, “bukan itu, kamu ngga ada kelas?”

“Dosen nya ngga masuk. Udah ya, sekarang aku suapin kamu bubur.” jawab Denara.

Alden menuruti perintah wanita yang ada dihadapannya sekarang, setelah memakan bubur, Alden pun meminum obat demam. Denara sudah siapkan obat-obatan dari jauh-jauh hari karena ia tau Alden kadang ceroboh dalam hal kesehatannya sendiri.

“Tidurin, ya?” ucap Denara sembari menyelimuti Alden.

Alden menahan Denara, persis seperti pertama kali mereka bertemu pada waktu acara makan malam bersama dengan papi dan Darka. Ketika itu, Alden sedang demam juga.

“Tangan kamu, jangan kemana-mana.”

Denara tersenyum, lalu duduk dibawah karena Alden tidak mau pindah ke tempat tidurnya.

“Jangan dibawah, nanti dingin.”

“Terus dimana?”

Alden mulai memberi tempat kepada Denara agar tidur di samping nya, “disini.” perintah Alden sambil menepuk-nepuk sofa nya.

Untung nya sofa yang ada di apartemen Alden itu agak lebar, sehingga mereka tidak akan terlalu berdekatan.

Denara pun sekarang sudah berada di samping Alden.

“Kamu kenapa?”

“Kenapa bisa sampe sakit kayak gini?”

“Aku takut kamu kayak Liam.”

Itulah pertanyaan-pertanyaan batin Denara sekarang, karena khawatir melihat pria yang ia sayangi bisa seperti ini.

Suara notif ponsel Alden terdengar oleh Denara dan terlihat ada pesan masuk.

“Airis?”

Akhirnya mereka sampai ditempat makan yang mereka tuju. Namun, Alden sudah peka terhadap makanan yang Denara inginkan di siang hari.

“Tau banget ya kamu, aku suka makan mie ayam disini.” ucap Denara melirik kepada Alden.

“Iya dong.” jawab nya.

Alden dan Denara duduk secara berhadapan, mereka sedang menunggu mie ayam yang sudah Alden pesankan tadi.

“Dena.” panggil Alden.

Denara yang tadinya sedang memainkan ponselnya, mendongakan kepala nya, “apa?”

“Sekarang ada hal yang lagi kamu suka gak?” tanya Alden.

Denara diam sebentar, lalu menjawab, “dalam hal apa?”

“Apa aja.”

“Kalo sekarang sih, aku lagi suka baca-baca buku tentang musik, ngga suka banget juga sih, tapi ya harus terbiasa juga, bentar lagi UAS kan.”

“Kamu sendiri apa?” tanya balik Denara kepada Alden.

“Aku suka empat kata dari kamu.”

“Maksudnya?”

Alden tersenyum, “i love you.”

Denara menjawab, “i love you more.”

“Nah itu, aku suka itu.” ucap Alden.

Denara diam membeku, tidak habis pikir kepada pria yang ada dihadapannya ini, bisa-bisanya ia membuat wajah Denara memerah dalam keadaan di tukang mie ayam.

Alden mengepuk-ngepuk puncak kepala Denara, “dihabisin ya mie ayamnya, anak kecilnya Alden.”

Wanita berambut panjang terurai memakai jaket jeans dan kaos polos putih, lalu memakai celana jeans serta sepatu bertali sudah mulai terlihat oleh Alden.

Alden tersenyum kearahnya, pun wanita tersebut membalas senyuman Alden sembari berlari kecil kearahnya, “manis.” ucap Alden dalam hatinya.

“Hai!” sapa Denara.

“Hai, cantik. Udah siap?”

“Udah!”

Denara dan Alden pun memasuki mobil dan segera melajukan mobil nya. Denara yang teramat banyak bicara membuat Alden hanya bisa diam dan menyimak, lalu sesekali menanggapi. Mereka juga, menyetel lagu The Simple Things-Michael Carreon.

Denara terus menerus melirik pria yang ada disebelahnya ini, ia selalu tidak menyangka seorang Harsaka Alden Keizano bisa menjadi miliknya. Padahal dulu ia hanya menyukainya dengan embel-embel kagum karena Alden ini mahasiswa aktif dan juga pintar, terlebih lagi dia bisa tau Alden karena Eja dan Eja adalah sahabat dekat nya Alden.

Setelah setengah jam perjalanan, mereka sampai. Alden dan Denara masuk. Kedatangan Denara disambut oleh bunda nya Alden, Hana dan Helena.

“Sebentar.” ucap Alden.

Denara melirik Alden, “kenapa?”

“Bunda, Kak Hana, Helena, aku mau kenalin Denara.”

“Kan udah waktu kemarin?” tanya Bunda Alden dengan heran.

Alden menggeleng, “itu beda, waktu Denara kesini perkenalannya belum jadi pacar.”

Hana tertawa kecil, “yaudah cepet kenalan dulu.”

“Bunda, Kak Hana, Helena, kenalin ini Denara pacar Harsaka tapi merangkap jadi calon istri.” ujar jelas Alden lalu melirik Denara dan tersenyum.

Mata Denara membelalak, lalu mencubit tangan Alden, “sakit sayang, akunya jangan dicubit.” ucap Alden malah semakin sengaja menggoda Denara.

Bunda Alden pun tertawa melihat tingkah laku dari pasangan ini, “udah-udah, yuk masuk calon menantu bunda.” goda Bunda, pipi Denara memerah, “bunda ih! kok sama aja kayak Alden!” jawab Denara dengan memajukan bibirnya.

“Jangan gemes gitu, aku makin sayang.” celetuk Alden.

Denara pun berjalan cepat meninggalkan Alden yang terus menggodanya. Alden hanya tertawa kecil melihat wanita yang ia cintai nya sedang salah tingkah.

Hana tersenyum lega, melihat adiknya bisa tertawa lepas lagi, “gitu dong ketawa, hidup lo biar ga flat banget.” ledek Hana.

“Cari pacar, kak.” timpal Alden tak mau kalah.

“Ngomong gitu sekali lagi, gue getok pala lo.”


Denara diajak oleh bunda, ke studio mendiang ayah nya Alden. Harum ruangan ini khas seperti parfum yang selalu dipakai Hema. Melihat banyak pajangan foto ketika Hema masih bernyanyi, “mirip Alden banget.” ucap Denara dalam hati.

Setelah masuk ke studio Hema, Denara diajak bunda masuk ke kamar nya, lalu memperlihat foto ketika Alden masih kecil.

“Nih, waktu itu dia mau berenang, terus minta tolong bunda fotoin.”

“Kalau ini, waktu Harsa lagi mau nyanyi disuruh ayahnya.”

Denara gemas melihat foto-foto Alden ketika ia masih kecil, “lucu-lucu ya bunda.”

Bunda mengangguk, “iya, dan sekarang dia punya pacar secantik kamu.” balas bunda kemudian mengelus pipi Denara.

Denara tiba-tiba meneteskan air mata nya,“kok nangis?” tanya bunda.

“Bunda, makasih ya. Aku belum pernah dielus pipinya sama seorang ibu. Bahkan aku belum pernah peluk ibu aku sendiri.” jawab Denara.

Dengan sigap, bunda Alden segera memeluk Denara, “peluk bunda aja. Bunda siap kapanpun kalau kamu butuh.”

Wanita berambut panjang itu keluar dari mobil lalu berlari keluar menuju apartemen. Diikuti oleh seorang pria yang memakai kaos polos warna hitam dan topi hitam yang ia pakai.

“Dena, jangan lari.” ucap Alden agak keras.

Wanita tersebut menghiraukan perkataan pria yang ada dibelakang nya.

“Yeay! sampe!!”

“Passwordnya, apa?” tanya Denara kepada Alden yang masih berjalan menuju Denara.

Alden diam tidak menjawab, Denara menghentakan kaki nya, “ish nyebelin gadijawab!”

Alden tersenyum, lalu mendekatkan dirinya kepada Denara lalu berbisik di telinga Denara, “tanggal lahir kamu.”

“Kamu tau tanggal lahir aku dari mana?”

“Bang Darka.” jawab dengan wajah polos Alden.

“Eh, Den bentar.”

“Apa?”

“Can i hold your hand?”

“Kenapa harus izin segala? kemaren aja langsung peluk.”

“Boleh ya?”

“IYAA, AYO MASUK!!”

Pria itu tersenyum lebar, dan segera memegang tangan kekasihnya ini.

“Udah ya pegangan nya aku mau simpenin barang.” ujar Denara.

Alden pun menuruti perkataan Denara, ia pun segera membersihkan diri dan membereskan barang-barangnya.

Setelah beberapa menit Alden membereskan barang dan membersihkan badan nya ia duduk di sofa, kemudian melihat Dena yang sedang lalu-lalang dihadapannya.

“Kenapa?” tanya Alden.

“Aku mau tidur, tapi aku masa tidur disini?”

“Yaudah, gapapa? gausah takut sama aku.”

Denara memajukan bibirnya lalu menggeleng, “tetep aja harus hati-hati.”

Alden terkekeh, lalu menarik pergelangan tangan Denara, lalu memangku Denara. Denara sontak langsung duduk dan diam membeku. Karena pria nya ini sekarang jaraknya sangat dekat.

“Anak kecil, gausah takut ya? aku orang baik kok.” ledek Alden lalu tertawa kecil.

“Aku dejavu banget tau. Dulu, ayah kamu juga suka nge-pangku aku duduk kayak gini.”

“Ayah pasti seneng sekarang kamu pacar aku.”

Denara tersenyum, “iya lah! pacarnya cantik.”

“Iya, sangat cantik.” timpal Alden.

“Al, jangan liatin gitu, aku malu!”

Alden tersenyum lalu mencubit pipi wanita yang sedang ia pangku, “anak kecil.”