Only you
Pria ber-hoodie hitam ini masuk lalu berjalan kearah Denara dan Darka. Denara yang mencubit Darka, karena abang nya ini sedang menahan tawa melihat kelakuan adik nya yang sekarang seperti orang kebingungan.
“Bang.” sapa Alden.
“Yo, Sak. Yaudah abang ke gudang dulu ya, hati-hati pulang nya. Sak, hati-hati awas lo bawa ngebut.” ujar Darka sembari jalan meninggalkan mereka.
Denara kini sedang membereskan laptop dan bukunya. Lalu, Alden pun membuka suara, “mau pulang?”
Denara hanya memberi jawaban dengan memangutkan kepalanya.
“Ayo.” ajak Alden sembari mengulurkan tangannya.
Denara melihat kepada Alden, lalu Alden memberi isyarat dengan alis yang naik turun lalu senyum, “pegang tangan akunya.” ujarnya.
Denara menuruti perintah dari Alden, namun setelah masuk ke dalam mobil mereka berdua saling diam. Alden yang fokus menyetir dan Denara yang sibuk memainkan ponselnya. Setelah setengah jam mereka saling diam, mereka juga sampai di kosan nya Denara.
“Makasih ya.” ucap Denara sembari membuka pintu mobil.
Alden menahan pergelangan tangan Denara, “kamu kenapa?”
Denara menggeleng, “aku gapapa kok. Kamu ini lagi sakit, kenapa bandel keluar terus anterin aku pulang?”
Alden membenarkan posisinya lalu melihat Denara dengan tatapan serius, “selesain sesuatu biar gaada yang salah paham.”
Denara mengerutkan kening nya, “salah paham?”
“Aku jelasin ya, anak kecil nya Alden.” ucap nya lalu mengelus puncak kepalanya wanita nya ini, “dengerin baik-baik ya. Kemarin itu aku lagi ada adu argumen sama Hana, asalnya aku mau pulang dan selesain secara langsung, tapi ada notif pesan masuk dari mantan aku Airis, yang katanya dia lagi ada didepan rumah aku. Akhirnya aku balik arah dan ajak anak-anak nge-band. Aku nge-band itu ngilangin kemarahan aku, aku tumpahin disitu. Anak-anak juga udah ngerti jadi mereka langsung mau. Ada pertanyaan dulu? biar aku jelasin secara detail lagi.”
“Ada, terus kenapa kamu sampe segitunya? maksud aku, sampe sakit?”
Alden tersenyum, “jangan salah paham ya, itu bukan karena Airis kok. Ayah, aku inget sama ayah. Aku tiap denger nama Airis, jadi inget hari dimana ayah meninggal. Dan, hari itu juga Airis minta putus dan Oma pergi ke KL. Aku sakit hati, karena disini ayah cari mereka pada saat itu. Dan keadaan ayah lagi sekarat, Den.” tutur dengan jelas Alden yang matanya mulai memerah.
“Alden, udah aja ya, jangan dipaksa cerita.”
“Aku gamau kamu salah paham. Aku emang belum cerita tentang ini, emang salah aku, maaf ya?”
Denara benar-benar merasa bersalah telah memikirkan yang tidak-tidak pada Alden, “aku juga minta maaf, harusnya aku ngertiin kamu. Harusnya aku tanya dulu kamu.” ucapnya lalu menunduk, “Alden maaf.”
“Ngga, jangan gitu. Kamu gasalah.” jawab Alden lalu mengangkat dagu Denara agar menatap wajahnya.
“Denara, only you now have become the key to my heart.” jelas Alden lalu mengelus pipi Denara dan mencubitnya, “i love you, anak kecil.”