Yang sebenarnya.

Sampailah Alden dikosan Denara. Benar saja pintunya tidak dikunci, Setelah Alden masuk, ia melihat ada seorang wanita yang mungkin seumuran dengan bundanya, sedang duduk berdua bersama Denara. Wajah Denara tampak sedang menahan tangis.

“A-alden?”

Alden segera mendekat lalu memeluk Denara, “kamu gapapa kan? aku khawatir.”

“Ini pacar kamu sayang?” tanya wanita yang ada dihadapan Denara dan Alden.

“Tante, saya mohon. Jangan ganggu keluarga saya lagi. Jangan ganggu papi dan abang saya.” jawab Denara yang menurut Alden itu melenceng dari pertanyaan wanita tersebut.

“Ini mami, Denara.”

“Selama 20 tahun, saya hidup tanpa seorang ibu. Dan tante sekarang dengan seenaknya datang. Tanpa dosa yang tante perbuat selama ini? Tante tau? papi saya banting tulang cari pekerjaan tetap, buka restoran yang selalu gagal tiap tahunnya, dan akhirnya restoran papi sekarang sudah mulai mempunyai cabang. Tante kemana? tante ada?” jawab Denara dengan nada terbata-bata.

“Denara..”

“Apa tante tau makanan kesukaan saya? tante tau kebiasaan saya dirumah apa? apa tante tau saya punya alergi apa? a-apa tante tau, tentang D-denara?” lepas tangisan Denara yang sudah ia tahan.

Alden mengusap-ngusap punggung Denara. Kini ia tau apa yang selalu kenapa dia takut dengan ibu nya.

“Dena.. mami sudah punya suami baru.” satu kalimat yang membuat hati Denara makin sakit.

“See? anda selingkuh.”

“Tampar saya lagi tante. Kenapa depan pacar saya, tante jadi baik seperti ini?”

Alden terkejut mendengar omongan Denara kali ini, karena ia tadinya hanya ingin diam saja, karena ini urusan mereka. Namun jika sudah memakai fisik, Alden pun turun tangan.

“Ini yang dinamakan seorang ibu? bermain fisik? apalagi ini anak perempuan tante sendiri?” Alden membenarkan posisinya dan melihat mami nya Denara.

Mami Denara berdiri, “disini saya hanya ingin minta maaf kepada Denara, tapi dia menjawab dengan tidak sopan!”

“Kamu memang tidak berubah, Rana.” tegas seseorang yang tiba-tiba datang.

“Papi? abang?” ucap Denara.

“Saya bisa laporkan kamu kepada pihak berwajib karena berani bermain fisik dengan Denara!” tambah nya.

“Jika anda masih mengusik keluarga kami, tidak segan-segan saya akan memberi peringatan, Ibu Rana yang terhormat.” Darka yang tersenyum sinis, “silahkan anda keluar dari sini.” Darka dan Papi nya memberi jalan untuk Rana keluar dari kosan nya Denara.

Denara benar-benar kecewa terhadap ibunya sendiri, sudah bermain belakang dan meninggalkan keluarga nya ini.