Jangan kemana-mana.

Wanita yang sedang menyimpan makanan didepan pintu apartemen, terkejut mendapat pesan dari kekasihnya ini untuk masuk saja ke apartemen nya.

“Cenayang ya tu orang.” batin nya.

Denara pun segera masuk, lalu melihat Alden yang sedang duduk dibawah sofa sembari menunduk lesu.

“Alden?”

Alden mendongakan kepala dengan matanya yang sayup lalu tersenyum tipis kepada Denara, “sini.” katanya dengan suara serak.

Denara segera mendekat kepada Alden lalu memegang kening nya, “kamu demam.”

“Pas banget aku beliin kamu bubur, ayo pindah dulu ke sofa, jangan dibawah gini.” tambahnya.

“Dena.” panggil Alden dengan suara yang samar-samar.

“Kenapa? sakit? mau ke dokter?”

Alden menggeleng, “bukan itu, kamu ngga ada kelas?”

“Dosen nya ngga masuk. Udah ya, sekarang aku suapin kamu bubur.” jawab Denara.

Alden menuruti perintah wanita yang ada dihadapannya sekarang, setelah memakan bubur, Alden pun meminum obat demam. Denara sudah siapkan obat-obatan dari jauh-jauh hari karena ia tau Alden kadang ceroboh dalam hal kesehatannya sendiri.

“Tidurin, ya?” ucap Denara sembari menyelimuti Alden.

Alden menahan Denara, persis seperti pertama kali mereka bertemu pada waktu acara makan malam bersama dengan papi dan Darka. Ketika itu, Alden sedang demam juga.

“Tangan kamu, jangan kemana-mana.”

Denara tersenyum, lalu duduk dibawah karena Alden tidak mau pindah ke tempat tidurnya.

“Jangan dibawah, nanti dingin.”

“Terus dimana?”

Alden mulai memberi tempat kepada Denara agar tidur di samping nya, “disini.” perintah Alden sambil menepuk-nepuk sofa nya.

Untung nya sofa yang ada di apartemen Alden itu agak lebar, sehingga mereka tidak akan terlalu berdekatan.

Denara pun sekarang sudah berada di samping Alden.

“Kamu kenapa?”

“Kenapa bisa sampe sakit kayak gini?”

“Aku takut kamu kayak Liam.”

Itulah pertanyaan-pertanyaan batin Denara sekarang, karena khawatir melihat pria yang ia sayangi bisa seperti ini.

Suara notif ponsel Alden terdengar oleh Denara dan terlihat ada pesan masuk.

“Airis?”