Kak Liam, kita udah selesai.

Denara sedang bersiap-bersiap untuk bertemu Liam. Liam dan Denara bertemu di taman yang dulu pernah menjadi tempat favorit nya mereka berdua ini.

“Masih sama.” batin Denara lalu melihat keliling sekitar taman tersebut.

Lalu datang lah sosok laki-laki berkulit putih, bibir merah jambu, tersenyum lebar kepada Denara, “hai, nara.”

Jawaban Denara hanya memberi senyuman balik pada Liam dengan canggung.

“Sini.” ajak Liam untuk duduk disebelahnya.

Denara menuruti lalu duduk disebelah Liam.

“Selesai ya, Nar?” tanya Liam membuka suaranya.

“Iya, selesai.”

Liam menunduk lesu, memang sudah tidak ada harapan lagi untuk kembali bersama Denara.

Denara menoleh kepada Liam, “kenapa kak? kenapa baru sekarang kakak kembali? disaat aku udah punya masa depan aku.”

“Maaf.” hanya itu yang bisa Liam ucapkan kepada Denara, lebih baik dia terlihat brengsek depan Denara, jika ingin membela diri pun, Denara tidak bisa kembali padanya.

Denara berdesis, “aku kira, kakak udah berubah. Masih sama aja kayak dulu.”

“Nar..”

“Kak Liam, kita udah selesai.”

“Apa ada harus yang diperjelas lagi?” tambahnya.

Liam mengelus puncak kepala Denara, “boleh kakak peluk kamu buat yang terakhir kalinya?”

Denara menolak, ia tidak mau menyakiti Liam lebih dalam lagi.

“Sebagai adik, bukan sebagai mantan.” ucap Liam.

Pelukan terakhir itu menjadi saksi bahwa kisah Denara dan Liam memang sudah selesai.