jenayspace

Denara segera berbalik badan, dengan wajah yang menangis. Dan sekarang dihadapannya sudah ada Alden, lelaki yang hilang tanpa kabar sudah berhari-hari, dan ternyata lelaki tersebut sedang menyiapkan ini semua.

“Jangan nangis, dena.” ujar Alden sambil mengelap air mata yang ada di pipi Denara.

“Gatau ah!” cetus Denara, yang semakin menangis.

Alden langsung memeluk Denara dengan erat, lalu mengelus rambutnya, “maafin aku ya, kemarin gaada kabar.”

Denara tersontak kaget, Alden menyebutkan kata “aku” sumpah saat ini dia benar-benar senang namun semakin ia senang, semakin ia juga menangis.

“Jadi, apa jawaban kamu?” tanya Alden memastikan.

“I-iya, aku mau.”

“Mau apa coba?” goda Alden.

“Alden ih!” ucap Denara sembari memukul dada Alden.

Alden pun terkekeh, “hahaha iya-iya, maaf.”

Alden melepaskan pelukannya, lalu mengelus pipi perempuan yang ada di hadapannya, “sekali lagi ya? aku bilang.”

“Hah? bilang apa?”

“Aku sayang kamu, Denara.”

Maudy segera berlari menuju ruangan bunda nya Jeziel, ia pun membuka pintu ruangan tersebut, Maudy tersontak kaget, melihat bunda nya Jeziel sudah dilepas infus.

“Sini.” ucap Jeziel.

Maudy mendekat, “bunda, ini Maudy pacar Jiel, maafin Jiel ya bunda baru bisa ngenalin sekarang, waktu bunda udah tidur selamanya. Bunda gabisa liat wajah cantik nya Maudy, bunda gausah khawatir, aku bakal tetep lanjutin karir aku sebagai atlet sesuai kemauan Jerald. Bunda, sekarang udah nyusul Jerald diatas sana ya. Bunda, Jiel sayang bunda.” ucap Jeziel dengan nada bergetar.

Maudy memeluk Jeziel dari pinggir, lalu mengelus puncak kepalanya, “Jiel anak baik nya bunda, bunda pasti bangga sama kamu.”

Mereka pun sekarang ada diluar ruangan, “kamu pulang aja, mod. Aku disini ngurus dulu bunda, sekalian pemakaman nya juga.”

Maudy menggeleng, “aku gamau pulang. Aku mau nemenin kamu.”

“Mod, adik aku Jerald, mirip banget kayak Genta, makanya aku selalu ngerasa Genta bener-bener adik aku.”

“Aku mau tanya boleh?”

“Boleh.”

“Jerald dimana?”

“Udah meninggal, adik aku, Jerald meninggal dikolam renang, dia punya asma waktu itu dan dia juga ngga bisa berenang. Cita-citanya dulu jadi atlet renang.”

“Jadi, kamu?” tanya Maudy lagi.

“Iya, aku awalnya cuman buat wujudin mimpi adik aku, tapi sekarang aku udah suka sama karir aku sendiri.”

Maudy mengjinjitkan kakinya, lalu menepuk-nepuk puncak kepalanya Jeziel, “anak baik, anak ganteng. Bunda sama Jerald diatas sana bangga sama kamu.” ucapnya sembari tersenyum.

Denara meng-iyakan ajakan Alden untuk bertemu bunda nya. Mereka segera bergegas menuju rumah Alden.

Setelah melalui perjalanan tiga puluh menit, Alden dan Denara sampai di tempat tujuan. Sudah terlihat wanita paruh baya menyambut kedatangan mereka.

Denara turun dari motor Alden dan memberikan helmnya kepada Alden, “nih, helmnya.”

Alden pun menyimpan helmnya lalu berjalan menghampiri bunda nya diikuti oleh Denara dari belakang.

“Bunda.” sapa Alden.

Bunda nya tersenyum, “kak, ini Denara?”

Alden mengangguk, “iya, bunda.”

Denara segera mendekat lalu menunduk sedikit dan mencium tangan bunda nya Alden, “hallo tante, salam kenal, aku Denara.” ucap nya sembari tersenyum.

“Iya, salam kenal juga sayang, panggil bunda aja ya.” jawab nya.

Terdengar juga suara keributan di dalam rumah. Sepertinya, itu suara Hana dan Helena.

“Ayo masuk.” ajak Bunda Alden.

Tiba-tiba Denara ditubruk oleh anak kecil yang sedang berlari, “HAI DENARA, AKU HELENA!”

“HELENA!!!” teriak Hana dari kejauhan, “bandel ya kamu!”

“Hallo, Helena! gemes banget sih.”

Helena tersenyum lebar, “Denara cantik!”

“Panggil kakak, Helena.” suruh Alden kepada Helena.

“Ke kamu aja aku panggil, Harsaka jarang pake kakak.” bantah Helena tak mau kalah.

“Ngga apa-apa kok, gausah pake “kak” nama juga gapapa, senyaman nya kamu ya, Helena.” sanggah Denara sembari mengelus puncak kepala nya Helena.

Hana pun datang menghampiri Denara, “Udah kenal. Gausah kenalan lagi ya?” ledek Hana.

Denara tertawa kecil, “iya, kak.”

Denara melihat sekeliling rumah Alden, benar-benar keluarga yang hangat, banyak foto ketika Alden, Hana dan Helena masih kecil, ada juga foto Bunda nya Alden yaitu Trika bersama mendiang suami nya yaitu Hema.

“Denara sayang sini.” ajak Bunda menuju suatu ruangan sepertinya kamar? ntah lah, Denara hanya bisa menebak saja.

Alden mengikuti Denara dari belakang.

Ternyata, Trika bunda nya Alden mengajak Denara keruangan favoritnya Hema. Denara melihat sekeliling, gitar-gitar yang berjajar, ada juga alat-alat musik lainnya. Denara benar-benar terpaku kagum melihat ruangan mendiang ayah nya Alden, “keren.”

“Ini ruangan Hema, suami bunda. Hema sering bercerita tentang kamu, Denara.”

Denara menganggukan kepala dengan canggung lalu senyum simpul kepada Trika, “iya bunda, Alden juga cerita sebelumnya.”

“Alden?” tanya Trika.

Trika mulai sadar panggilan Alden sama dengan pangilan Hema kepada Harsaka.

“Denara sini, kamu juga Alden.” perintah Trika.

Mereka duduk lalu melihat buku yang sudah kusam, namun terlihat dari kejauhan seperti buku diary.

Trika memperlihatkan buku yang selalu Hema bawa, “ini buku Hema, dia selalu bawa ini kemana-mana, bunda juga baru ketemu buku ini kemarin setelah bunda pulang dari Singapura. Bunda lihat sekilas, tapi sepertinya kalian berhak juga untuk melihat isi dari buku ini.” ujar jelas Trika kepada Denara dan Alden.

Buku itu berjudul, Memory. Alden dan Denara melihat secara bersamaan, mereka sangat terkejut melihat isi buku tersebut. Keinginan ayah nya telah tercapai, mempertemukan Alden dan Denara, tetapi memang bukan ayah nya yang mempertemukan mereka, melainkan takdir mereka memang sudah diharuskan untuk bertemu satu sama lain. Isi dari lembar-lembar berikutnya menceritakan kenangan Hema dan Denara bertemu dan juga menceritakan tentang Trika, Alden, Hana dan Helena.

Tangisan Denara mulai terdengar oleh Trika dan Alden.

“Jadi kamu yang buat panggilan Harsaka jadi Alden, ya.” ucap Trika sembari mengelus rambut Denara yang ter-urai.

Denara mengusap air matanya lalu menoleh kepada Trika, “bunda..”

Trika segera memeluk Denara secara langsung, “makasih ya, sudah buat Hema kembali bersemangat menggapai cita-citanya menjadi musisi.”

Alden hanya bisa menatap mereka. Dan, Alden pun sebenarnya terkejut setelah melihat isi dari buku tersebut.

“Ayah, kalau ayah masih ada, pasti ayah seneng.” batin Alden.

Denara dan Marvel sudah sampai di Caffe yang dituju mereka segera mencari meja yang kosong, setelah itu mereka duduk dan saling memainkan ponsel nya masing-masing. Kini Marvel membuka suara dan bertanya kepada Denara mau memesan apa.

“Den, sambil nunggu yang lain, kita pesen duluan aja kali ya?” tanya Marvel.

Denara mengangguk lalu tersenyum, “bo-boleh kak.”

“Lo mau pesen apa? kopi aja ya samain kayak gue?”

Ketika Denara ingin menolak untuk memesan kopi, Marvel sudah bergegas berdiri dan berjalan ke kasir caffe tersebut.

Denara sepertinya sudah mulai tidak mood, “padahal gue belum ngomong mau pesen apa,” gerutu Denara lalu menghela nafas, “huft, nyebelin banget.”

Ketika Marvel sudah memesan, ia pun duduk kembali dan Denara pun sama sekali tidak membuka suara, dia hanya diam.

Setelah menunggu beberapa menit minuman Denara dan Marvel sudah datang begitupun dengan Alden yang datang bersamaan dengan Raihan, Jarel dan Eja.

“Kak.” sapa Raihan kepada Marvel.

Alden kini hanya fokus kepada gadis yang sedang duduk bersama dengan Marvel, wajah Denara menunjukan sudah tidak nyaman berada disini.

“Duduk-duduk sini, sambil nunggu yang lain juga.” suruh Marvel kepada Raihan, Alden, Eja dan Jarel.

“Den, minum.” ucap Marvel sembari meneguk kopi nya.

Respon Denara hanya tersenyum canggung, sembari menjawab, “i-iya kak.”

Karena Denara merasa tidak enak kepada kakak tingkat nya ini, dia mengambil gelas yang berisi kopi tersebut, “itu kopi, kalau perut lo kambuh gimana, Denara?” ucap Alden sembari menghampiri Denara lalu mengambil gelas yang sudah dipegang oleh Denara.

Semua pandangan sekarang tertuju kepada Alden dan Denara.

“Lo juga, kak. Kenapa ga nanya dulu, dia kuat minum kopi apa ngga?” timpal Alden kepada Marvel.

Sorry, tadi gue sempet nanya dulu, cuman kayaknya dia belum jawab gue kira dia ga masalah sama kopi.” jawabnya dengan rasa bersalah.

“Makanya kalau ada apa-apa tuh tanya dulu dengerin sama jawabannya.”

Alden menggenggam tangan Denara, “gua balik duluan.” ucap Alden sembari membawa Denara keluar dari Caffe tersebut.

hai

Alden pun segera memakai jaket dan bergegas berangkat ke tempat Denara. Eja pun dengan cepat mengirimkan alamat nya Denara. Alden melajukan motornya dengan kecepatan tinggi, yang ada di pikirannya sekarang hanya Denara.

Tok tok

“DENARA.” panggil Alden namun belum ada jawaban.

“DENA INI ALDEN.” teriak lebih keras, karena panggilan pertamanya tak ada jawaban dari Denara.

Setelah mendengar suara Alden, Denara dengan hati-hati menuju pintu, sembari mengatur pernafasan nya.

“A-alden?”

“Iya, ini gue.”

Denara pun membukakan pintunya, tanpa berpikir panjang Denara segera memeluk Alden dengan nafas yang tidak teratur, seperti sudah berlari jarak jauh.

Alden membalas pelukan Denara dengan erat dan mengelus punggung nya, “Den, tenang, ada gue.”

Setelah beberapa menit, Denara pun sedikit tenang. Lalu, Alden mengajak Denara ke dalam, karena diluar pun sudah mulai turun hujan.

“Yuk, ke dalem.” ajak Alden.

Denara menggeleng, “takut.”

“Ada gue, tangan lo gue pegang terus, ga akan gue lepas.”

Denara menuruti perkataan Alden, sekarang mereka sudah ada di dalam, Alden pun menyalakan lilin setelah itu ia kembali lalu memegang lengan Denara kembali.

“Kok lo yang kesini, Al?” tanya Denara membuka suara.

“Nanti, kalau ada apa-apa lagi, langsung ke gue, gausah ke Eja lagi.” jawab Alden sembari menyalakan kembali lilin yang mati.

“Gue nanya apa, lo jawab apa.” ucap Denara sembari nada meledek.

Alden tersenyum simpul melihat tingkah laku wanita yang ada di sebelahnya.

Call me when you hear this song I think you know who you are Can we start where we left off? Lord knows I'm never moving on

Every time you hear this tune Just know I still think of you Can we get together soon So you can say I love you too?

Alden secara tiba-tiba menyanyikan lagu dari New West – Call Me When You Hear This Song. Wanita yang sedang duduk disebelah nya pun terkejut, mendengar lelaki yang ia suka bisa bernyanyi seperti ayah nya.

“Al, lo mirip banget sama ayah lo.” ucap batin Denara.

“Al, lo bisa gitar juga?” tanya Denara.

Alden mengangguk, “bisa.”

“Dena, call me when you hear this song,” ujar Alden sembari memutarkan lagu tersebut.

“Hah?”

“Nanti, kita dengerin lagu ini berdua ya.”

New West – Call Me When You Hear This Song, lagu ini menemani mereka malam ini.

Denara sedang berbaring sembari menatap jendela kamarnya, ah, mungkin lebih tepatnya kosan tercinta nya. Setelah tadi ia menghabiskan waktunya dengan Darka, Denara kembali memikirkan Kaira sahabat nya, yang tiba-tiba berubah padanya.

“Gue salah apa coba sama dia, gajelas banget.” batin nya.

Ponsel Denara berdering, ia pun segera mengangkat telfon nya.

“Hai.” ucap seseorang lelaki yang Denara sukai, yaitu Alden.

“Iya, kenapa?”

“Kok, jawabannya gitu?”

Denara diam.

“Finding Hope – 3:00 AM.”

“Hah?” tanya Denara.

“Kalau nanti gue udah tutup telfon nya, nanti lo cari lagu yang gue sebutin tadi. Gue jamin, mood lo bisa baikan seengganya bisa tidur cepet.”

“Kalau ga baikan sama sekali?”

“Besok gue ketemu lo.”

“Ngapain?”

“Ngehibur lo secara langsung, Denara.”

Denara tersenyum tanpa Alden ketahui, “Al, gue mau tanya boleh?”

“Boleh.”

“Kemarin kan gue cerita tentang, Pak He-”

Alden memotong, “Ayah gue, Hema Alfred Keizano, dia ayah gue.”

“Hah? Ayah lo?” tanya Denara memastikan.

Alden terkekeh, “Iya, Dena. Kalau lo mau tau kabarnya Pak Hema, dia sekarang udah ada diatas. Udah istirahat buat selama-lamanya. Ayah gue selalu cerita tentang anak kecil yang selalu diikat dua dan memakai sepatu warna pink. Katanya, anak itu sering datang kalau ayah tampil, ayah gue sangat bahagia pada saat itu, mempunyai penggemar anak kecil yang selalu jujur tentang penampilan bernyanyi nya. Dan, ketika ia mulai terkenal, ayah gue selalu ada aja masalah ntah itu cibiran dari orang tentang suara dia yang mulai kurang bagus, ntah itu dari lagu yang dibilang orang-orang ayah gue plagiat. Ayah gue terpuruk pada saat penampilan di Caffe Trika dan lo Dena, berkat lo ayah gue semangat lagi. Lo datang bawa bunga, dan lo kasih ke ayah gue.”

Suara tangisan Denara mulai terdengar oleh Alden.

“Pada saat itu gue tanya ayah gue nama anak perempuan itu siapa, “Alden, nama anak itu Denara.” ucapannya masih jelas ditelinga gue. Dan, kenapa gue bisa tau lo Denara yang dimaksud ayah gue, lo panggil gue Alden, sedangkan yang panggil gue dengan nama itu, hanya ayah gue. Tapi awalnya gue ragu, mungkin bukan lo orangnya. Ketika kemarin, lo cerita tentang Hema ayah gue dan Caffe Trika. Gue semakin yakin, lo adalah Denara yang dimaksud ayah gue.”

“Alden? lo cerita gini gapapa?” tanya Denara dengan hati-hati.

“Gue baik-baik aja kok, Dena.”

“Alden, serius deh, Pak Hema dulu suaranya bagus banget! sumpah. Gue selalu suka sama lagu yang dia buat. Alden ayah lo keren!”

Alden sedikit tertawa, “Dena, cuman lo kayaknya, yang bisa buat gue ngomong panjang lebar gini.”

“Denara, gue tutup telfon nya ya, jangan lupa tadi gue suruh apa?”

“Cari lagu Finding Hope – 3:00 AM!” jawab Denara dengan semangat sehingga membuat Alden gemas padanya.

“Good Night, cantik.”

Langit malam yang dipenuhi oleh bintang-bintang, menemani pria yang sedang menyetir dan wanita yang sedang memainkan ponselnya. Sesekali pria ini melirik wanita yang ada disebelah nya.

“Dena.” panggil Alden.

“Hmm.”

“Sibuk banget, lagi ngapain?”

“Gatau, gue gabut banget, scroll instagram, terus buka whatsapp terus buka twitter, abis tuh balik lagi ke homescreen, gitu aja terus sampe gue sukses jalur istimewa.” jawabnya.

“Eh iya, Alden, gue mau tanya, boleh gak?”

Alden menganggukan kepala.

“Berapa cewe yang udah pernah duduk disini?”

Alden diam tidak menjawab.

“Ish! Gak dijawab.” gerutu Denara sambil melipatkan kedua tangan ke dada nya.

“Eum okay, pertanyaan kali ini kayaknya dijawab, lo pernah pacaran gak?”

Alden masih diam dan fokus kedepan karena ia juga sedang menyetir.

“Yaudah, gue mau cerita. Dulu, gue sebelum pindah ke Jakarta, sering banget nonton penampilan nya pak Hema, dulu beliau kayaknya masih muda? sekarang mungkin beliau udah punya anak. Dulu, bang Darka yang sering ajak nonton kalau ada pak Hema nyanyi. Suara nya Hema eh pak Hema sumpah bagus banget! Terakhir kali gue nonton penampilan nya tuh di Caffe Trika. Dan setelah gue balik lagi ke Bandung, gak ada kabar nya lagi, bahkan gue sempet main lagi ke Caffe Trika pengen tau kabar nya, tapi nihil.” ujar Denara sembari melihat kaca mobil kemudian tersenyum, “pak Hema ini yang buat gue jatuh hati sama musik.”

Alden sangat menyimak cerita dari Denara. Lalu, Alden pun mengelus puncak kepala Denara, “makasih ya, Dena.”

Denara sudah bersiap membawa makanan yang ia masak tadi, lalu tak lupa membawa cemilan kesukaan abang nya.

Langit sudah terlihat mendung, Denara segera memesan ojek online, agar segera sampai di Distro abang nya.

Setelah satu jam perjalanan, Denara sampai ke tempat tujuan nya. Memang, agak lama karena Denara terjebak macet.

“Hallo, bang Darka!!!”

Darka menoleh, lalu melihat adik nya ini yang sudah basah kuyup.

“ADEK!!!”

Denara tersenyum lebar, “hehehe, hujan bang, aku pake ojek juga tadi.”

“Ee-eh? Alden?” ucap Denara yang terkejut karena tiba-tiba Alden memberikan handuk kecil kepada nya.

“Keringin dulu rambutnya.” perintah Alden, sembari membawa barang bawaan Denara.

Denara pun pergi keruangan Darka untuk mengeringkan rambut dan bajunya, “ga basah amat, kenapa pada ribet sih.” gerutu Denara.

Cklek

“Boleh masuk gak?”

“Siapa?”

“Alden.”

“Ga boleh.”

Alden menghiraukan perkataan Denara, pria itu masuk lalu duduk disebelah Denara sambil membawakan segelas susu coklat panas.

“Ini.” ucap Alden sembari memberikan susu coklat tersebut.

Denara menggeleng, “ga usah.”

Alden menyimpan segelas susu coklatnya dimeja, lalu memegang kedua tangan Denara dan mengusap-ngusap punggung tangan Denara, “Dena, lo abis kehujanan, biar ga sakit. Ini tangan lo dingin gini.”

“Iya iya, gue minum.”

“Kenapa?” tanya Alden.

“Hah?”

“Kenapa gabilang mau kesini? tau gitu gue bisa jemput lo.”

“Yaelah, lebay banget.”

“Masakan lo enak, kayak masakan bunda gue, mirip banget.” ujar Alden lalu berdiri dan keluar meninggalkan Denara.

Tepat jam 12 malam Denara ditemani oleh iringan musik, begitupun juga Alden. Spotify Session membuat mereka bisa mendengarkan lagu yang sama. Tiba-tiba ponsel Denara berbunyi, Denara pun segera mengambil ponsel tersebut dan terlihat nama yang muncul adalah Alden.

“Eh? kok telfon? kan lagi spotsess?”

“Hujan disini, Den. Temenin ya, sebentar.” jawab nya.

Semakin lama mengenal lelaki ini, semakin Denara tau kebiasaan-kebiasaan yang sering Alden tunjukan padanya, ketika Alden memberi pesan “Dena, bentar.” otomatis, Denara harus siap untuk mengangkat telfon dari pria berambut hitam agak kecoklatan ini.

Dengan susana malam yang dingin dan hujan semakin deras, Alden terus menerus membuka topik pembicaraan agar Denara terhibur. Walaupun menurut Denara memang tidak terlalu lucu, tapi dia sangat menghargai usaha Alden agar dirinya tidak bersedih lagi.

“Dena, gue selalu dengerin lagu ini, biasanya penghilang rasa cape gue. Coba tebak judul lagunya, tapi jangan liat di spotify nya ya.” ujar nya.

“Ini lagu, Fall for you? Dari Secondhand Serenade kan?”

Pria itu sedikit tertawa, sepertinya senang mendengar, Denara bisa menebak nya, “iya bener.”

“Gue juga suka lagu itu.”

Malam ini Alden sukses membuat Denara tersenyum kembali, namun Denara juga bingung, mengapa pria ini begitu peduli padanya. Denara tidak mau terlalu percaya diri bahwa Alden mungkin menyukai nya juga. Disini dia memposisikan Alden benar-benar hanya teman bagi nya. Bukan seorang pria yang ia suka, namun hanya teman.

“Dena jangan nangis di pinggir jalan lagi ya? Ada gue, bisa nampung semua keluh kesah lo.”

Kalimat tersebut adalah penutup dari pembicaraan mereka malam ini.