Denara meng-iyakan ajakan Alden untuk bertemu bunda nya. Mereka segera bergegas menuju rumah Alden.
Setelah melalui perjalanan tiga puluh menit, Alden dan Denara sampai di tempat tujuan. Sudah terlihat wanita paruh baya menyambut kedatangan mereka.
Denara turun dari motor Alden dan memberikan helmnya kepada Alden, “nih, helmnya.”
Alden pun menyimpan helmnya lalu berjalan menghampiri bunda nya diikuti oleh Denara dari belakang.
“Bunda.” sapa Alden.
Bunda nya tersenyum, “kak, ini Denara?”
Alden mengangguk, “iya, bunda.”
Denara segera mendekat lalu menunduk sedikit dan mencium tangan bunda nya Alden, “hallo tante, salam kenal, aku Denara.” ucap nya sembari tersenyum.
“Iya, salam kenal juga sayang, panggil bunda aja ya.” jawab nya.
Terdengar juga suara keributan di dalam rumah. Sepertinya, itu suara Hana dan Helena.
“Ayo masuk.” ajak Bunda Alden.
Tiba-tiba Denara ditubruk oleh anak kecil yang sedang berlari, “HAI DENARA, AKU HELENA!”
“HELENA!!!” teriak Hana dari kejauhan, “bandel ya kamu!”
“Hallo, Helena! gemes banget sih.”
Helena tersenyum lebar, “Denara cantik!”
“Panggil kakak, Helena.” suruh Alden kepada Helena.
“Ke kamu aja aku panggil, Harsaka jarang pake kakak.” bantah Helena tak mau kalah.
“Ngga apa-apa kok, gausah pake “kak” nama juga gapapa, senyaman nya kamu ya, Helena.” sanggah Denara sembari mengelus puncak kepala nya Helena.
Hana pun datang menghampiri Denara, “Udah kenal. Gausah kenalan lagi ya?” ledek Hana.
Denara tertawa kecil, “iya, kak.”
Denara melihat sekeliling rumah Alden, benar-benar keluarga yang hangat, banyak foto ketika Alden, Hana dan Helena masih kecil, ada juga foto Bunda nya Alden yaitu Trika bersama mendiang suami nya yaitu Hema.
“Denara sayang sini.” ajak Bunda menuju suatu ruangan sepertinya kamar? ntah lah, Denara hanya bisa menebak saja.
Alden mengikuti Denara dari belakang.
Ternyata, Trika bunda nya Alden mengajak Denara keruangan favoritnya Hema. Denara melihat sekeliling, gitar-gitar yang berjajar, ada juga alat-alat musik lainnya. Denara benar-benar terpaku kagum melihat ruangan mendiang ayah nya Alden, “keren.”
“Ini ruangan Hema, suami bunda. Hema sering bercerita tentang kamu, Denara.”
Denara menganggukan kepala dengan canggung lalu senyum simpul kepada Trika, “iya bunda, Alden juga cerita sebelumnya.”
“Alden?” tanya Trika.
Trika mulai sadar panggilan Alden sama dengan pangilan Hema kepada Harsaka.
“Denara sini, kamu juga Alden.” perintah Trika.
Mereka duduk lalu melihat buku yang sudah kusam, namun terlihat dari kejauhan seperti buku diary.
Trika memperlihatkan buku yang selalu Hema bawa, “ini buku Hema, dia selalu bawa ini kemana-mana, bunda juga baru ketemu buku ini kemarin setelah bunda pulang dari Singapura. Bunda lihat sekilas, tapi sepertinya kalian berhak juga untuk melihat isi dari buku ini.” ujar jelas Trika kepada Denara dan Alden.
Buku itu berjudul, Memory. Alden dan Denara melihat secara bersamaan, mereka sangat terkejut melihat isi buku tersebut. Keinginan ayah nya telah tercapai, mempertemukan Alden dan Denara, tetapi memang bukan ayah nya yang mempertemukan mereka, melainkan takdir mereka memang sudah diharuskan untuk bertemu satu sama lain. Isi dari lembar-lembar berikutnya menceritakan kenangan Hema dan Denara bertemu dan juga menceritakan tentang Trika, Alden, Hana dan Helena.
Tangisan Denara mulai terdengar oleh Trika dan Alden.
“Jadi kamu yang buat panggilan Harsaka jadi Alden, ya.” ucap Trika sembari mengelus rambut Denara yang ter-urai.
Denara mengusap air matanya lalu menoleh kepada Trika, “bunda..”
Trika segera memeluk Denara secara langsung, “makasih ya, sudah buat Hema kembali bersemangat menggapai cita-citanya menjadi musisi.”
Alden hanya bisa menatap mereka. Dan, Alden pun sebenarnya terkejut setelah melihat isi dari buku tersebut.
“Ayah, kalau ayah masih ada, pasti ayah seneng.” batin Alden.