Kenalan lagi
Wanita berambut panjang terurai memakai jaket jeans dan kaos polos putih, lalu memakai celana jeans serta sepatu bertali sudah mulai terlihat oleh Alden.
Alden tersenyum kearahnya, pun wanita tersebut membalas senyuman Alden sembari berlari kecil kearahnya, “manis.” ucap Alden dalam hatinya.
“Hai!” sapa Denara.
“Hai, cantik. Udah siap?”
“Udah!”
Denara dan Alden pun memasuki mobil dan segera melajukan mobil nya. Denara yang teramat banyak bicara membuat Alden hanya bisa diam dan menyimak, lalu sesekali menanggapi. Mereka juga, menyetel lagu The Simple Things-Michael Carreon.
Denara terus menerus melirik pria yang ada disebelahnya ini, ia selalu tidak menyangka seorang Harsaka Alden Keizano bisa menjadi miliknya. Padahal dulu ia hanya menyukainya dengan embel-embel kagum karena Alden ini mahasiswa aktif dan juga pintar, terlebih lagi dia bisa tau Alden karena Eja dan Eja adalah sahabat dekat nya Alden.
Setelah setengah jam perjalanan, mereka sampai. Alden dan Denara masuk. Kedatangan Denara disambut oleh bunda nya Alden, Hana dan Helena.
“Sebentar.” ucap Alden.
Denara melirik Alden, “kenapa?”
“Bunda, Kak Hana, Helena, aku mau kenalin Denara.”
“Kan udah waktu kemarin?” tanya Bunda Alden dengan heran.
Alden menggeleng, “itu beda, waktu Denara kesini perkenalannya belum jadi pacar.”
Hana tertawa kecil, “yaudah cepet kenalan dulu.”
“Bunda, Kak Hana, Helena, kenalin ini Denara pacar Harsaka tapi merangkap jadi calon istri.” ujar jelas Alden lalu melirik Denara dan tersenyum.
Mata Denara membelalak, lalu mencubit tangan Alden, “sakit sayang, akunya jangan dicubit.” ucap Alden malah semakin sengaja menggoda Denara.
Bunda Alden pun tertawa melihat tingkah laku dari pasangan ini, “udah-udah, yuk masuk calon menantu bunda.” goda Bunda, pipi Denara memerah, “bunda ih! kok sama aja kayak Alden!” jawab Denara dengan memajukan bibirnya.
“Jangan gemes gitu, aku makin sayang.” celetuk Alden.
Denara pun berjalan cepat meninggalkan Alden yang terus menggodanya. Alden hanya tertawa kecil melihat wanita yang ia cintai nya sedang salah tingkah.
Hana tersenyum lega, melihat adiknya bisa tertawa lepas lagi, “gitu dong ketawa, hidup lo biar ga flat banget.” ledek Hana.
“Cari pacar, kak.” timpal Alden tak mau kalah.
“Ngomong gitu sekali lagi, gue getok pala lo.”
Denara diajak oleh bunda, ke studio mendiang ayah nya Alden. Harum ruangan ini khas seperti parfum yang selalu dipakai Hema. Melihat banyak pajangan foto ketika Hema masih bernyanyi, “mirip Alden banget.” ucap Denara dalam hati.
Setelah masuk ke studio Hema, Denara diajak bunda masuk ke kamar nya, lalu memperlihat foto ketika Alden masih kecil.
“Nih, waktu itu dia mau berenang, terus minta tolong bunda fotoin.”
“Kalau ini, waktu Harsa lagi mau nyanyi disuruh ayahnya.”
Denara gemas melihat foto-foto Alden ketika ia masih kecil, “lucu-lucu ya bunda.”
Bunda mengangguk, “iya, dan sekarang dia punya pacar secantik kamu.” balas bunda kemudian mengelus pipi Denara.
Denara tiba-tiba meneteskan air mata nya,“kok nangis?” tanya bunda.
“Bunda, makasih ya. Aku belum pernah dielus pipinya sama seorang ibu. Bahkan aku belum pernah peluk ibu aku sendiri.” jawab Denara.
Dengan sigap, bunda Alden segera memeluk Denara, “peluk bunda aja. Bunda siap kapanpun kalau kamu butuh.”