jenayspace

Aku sangat-sangat kaget ntah mau sedih ataupun bingung. Iya bingung karena lelaki yang mulai kusuka malah dia adalah saudara ku sendiri.

Aku mengunci diri dikamar bukan karena marah kepada kakak-kakak ku, sungguh. Aku melihat kak Damar yang keluar membawa kunci motor untuk pergi kerumah papa. Kalau kalian lihat, kak Damar tuh banyak action nya, tapi kekurangan dari dia itu tidak bisa mengontrol emosi nya, aku paham dia sangat sayang kepadaku, aku paham semua kakak-kakaku sayang kepadaku, tapi aku tidak suka jika mereka harus terluka dan itu karena aku.

Sebenarnya mendengar kak Damar trauma menaiki mobil, aku jadi teringat kejadian masa lalu ku, karena aku telah menyelamatkan orang dari tabrak lari.

Aku sedari kecil selalu terkena marah oleh papa, setelah aku berusia 12 tahun papa ku baru berani memukulku hingga saat ini. Mau sebejat apapun ayah ku, tapi aku tetap menyayangi nya. Selagi aku masih hidup, aku tetap sayang papa.

Buat kak Damar, kak Rayan, kak Sena dan kak Nava, terimakasih kalian selalu menjagaku. Kalian 4 rumah nya Gadis.

Ketika Sena sedang berada di dapur dia melihat Damar yang akan bergegas keluar.

“Dam, kemana?”

“Rumah papa.”

“Sendiri?”

“Ya liat aja gue bawa orang gak?”

“Dam, lo jangan gegabah anjing.”

“Gausah banyak bacot, kalau mau ikut, lo tinggal ikut.”

“DAMAR ANJING! WOI!”

Damar segera menyalakan motor nya lalu berangkat menuju rumah ayah nya.


Setelah setengah jam perjalanan, Damar sampai dirumah ayah nya. Dia segera mengetuk pintu rumah ayah nya ini.

“Pah, buka!”

“PAPAH!!!”

“ARYA!”

Lalu ada seorang pembantu yang membukakan pintunya, dan Damar masuk tanpa permisi kedalam rumah ayahnya.

“ARYA BRADY KELUAR LO!”

Ayah nya pun keluar dan menemui Damarion.

“Eh ada anak papa, ada apa?” sambut ayah nya.

“Ck, gapunya dosa ya?”

“Kenapa Damar?”

“Aslan anak papa ini deket sama Gadis, papa tau?”

Ayah nya menggeleng.

“Gua kesini ngeliat Gadis sedih bahwa Aslan anak lo.”

“Saya gak peduli, saya tidak pernah mempunyai anak yang bernama Gadis, dia bukan anak saya!”

“Apa papa udah atur semuanya? nyuruh Aslan deketin Gadis? Hah? JAWAB PAH!”

Dan Aslan keluar dari kamarnya lalu angkat bicara.

“G-gadis? gladisya? a-anak p-papah?” tanya Aslan.

“Gua juga anak dia, papa lo ini punya anak lagi selain lo dan adik lo yang masih ada didalam kandungan.” jawab Damar kepada Aslan.

“P-papa? bener?”

“Iya.” jawab singkat ayah nya.

“Wah, akting lo bagus lan, lo pura-pura gatau biar ga terlihat salah? dan membela papa lo ini? wah cerdas emang.” ucap jelas Damarion.

“Kak, serius gue ini baru tau.” jawab Aslan.

“Bohong lo!”

“Pah, jawab!!! Aslan baru tau, kenapa papa bohongin Aslan?”

“Aslan, papa bisa jelasin ... “

Aslan pun keluar dari rumah, dan Damar mengejarnya.

“DAMARRR!!!” teriak ayahnya, “MAU KEMANA KAMU!!”


“BRENGSEK LO!” teriak Damar kepada Aslan.

BUGG Satu pukulan pas di pipi Aslan, Aslan pun terjatuh.

“S-serius kak, gue baru tau. Pukul gue sepuasnya, gue gaakan ngelawan.”

“Papa selalu bilang, dia ga punya anak lagi.” sambung Aslan menundukan kepala sembari menangis.

Ketika Damar ingin memukul kembali Aslan.

“G-gue tulus kak, g-gue tulus sayang sama Gadis.” ucap Aslan meyakinkan Damarion, “tapi ternyata cewe yang gue suka adalah saudara gue sendiri.”

Damar, Sena, Rayan dan Nava kini mereka sudah melihat berita itu, tiba-tiba mereka mendengar suara gelas yang terjatuh ke lantai.

“A-aslan a-anak p-papa?”

Sontak mereka berempat melihat kearah sumber suara.

“Gadis?” ucap bersamaan Damar, Rayan, Nava dan Sena.

Gadis segera memasuki kamar nya dan mengunci pintunya.

“Gadis, buka pintunya ya?” ucap Nava.

“Kakak mau ngomong sebentar.” sambung nya.

“Kak Nava boleh kasih aku waktu sendiri sebentar?” jawab Gadis yang masih mengunci diri di kamarnya.

“Nav, udah .. Biarin, Gadis sendiri dulu.”

Nava pun menuruti perkataan Rayan.


Kini mereka berempat sedang mengumpul di kamar nya Sena.

“Gue ga kaget. Gue udah curiga dari awal.” ungkap Rayan.

“Tapi, gue ga ngerti jalan pikirnya papa.” celetuk Navaro.

“Kita tuh kayak anak simpanan ga sih? hahaha. Maksud gue, kita gak pernah tuh dari kecil di kasih tau ke media bahwa kita anak dari Arya Brady.” kata Sena.

“Ya, kita bisa aja bilang ke publik, tapi gue udah enak gini sih, gaada yang tau bokap gue sebenernya artis.” sambung Sena.

“Gue khawatir sama Gadis.” kata Damar.

“Aslan berarti adik kita?” tanya Nava.

Sena, Rayan dan Damar benar-benar diam seribu bahasa.

Mereka berlima sampai rumah dengan berbarengan. Gadis yang segera masuk tanpa menyapa Navaro dan Damarion.

“Gadis kenapa?” tanya Nava kepada Sena dan Rayan.

Sena hanya diam, langsung masuk kedalam rumah.

“Marahan sama Sena.” jawab Rayan dengan berbisik.

Damar dan Nava mengangguk-ngangguk. Mereka tau jika Sena marah memang seram, jadi mereka lebih baik ikut diam saja, nanti juga Sena akan seperti biasa lagi.


Setelah menganggi pakaian, Sena, Damar, Rayan dan Nava mengumpul diruang TV.

“Gimana tadi?” tanya Rayan kepada Nava dan Damar.

“Kita liat aja sore ini berita anak nya papa muncul apa ngga.” jawab Nava.

“Gua gayakin tapi, feeling gue Aslan anaknya papa.” celetuk Sena.

Damar, Nava dan Rayan hanya mencerna perkataan Sena.

“Yaudah nyalain TV nya.” suruh Rayan kepada Damar.

Damar pun segera menyalakan TV nya.

Setelah bel pulang sekolah berbunyi, Sena segera menuju kelas nya Bella dan kawan-kawannya.

“BELA MANA?” ucap Sena dengan nada tinggi.

BRAG

Sena menggebrakan meja sehingga murid yang lain kaget.

“Gue tanya dimana, Bella?”

“WOI JAWAB GUA!”

Sena memang jarang terlihat marah, dan juga dia sangat jarang bermasalah disekolah.

Akhirnya Bella datang dari luar kelas, “apa sih ganteng? marah-marah mulu.”

“Kebetulan lo disini dan masih rame juga kelas lo.”

Bella, Zeva dan Yara benar-benar kebingungan, Sena yang tiba-tiba marah kepadanya.

“Bella, Zeva dan Yara. Emang gua kagak tau apa perlakuan lo ke adek gua?”

“Lo tadi bully Gadis kan?” sambungnya.

Bella berusaha mengelak, “ng-nggak kok, jangan ngarang!”

“Wah, anjing juga ini orang.” timbal Sena.

Kemudian siswa-siswi disana saling berbisik karena kaget mendengar Sena mempunyai adik.

“Benerkan? tanya aja Yara sama Zeva.”

“Ya nanya sama komplotan lo, ya mereka pasti ngebela elo lah, sinting.”

Sena mendekat kepada Bella, “SEKALI LAGI LO GANGGU GADIS, MAU LO CEWE SEKALIPUN, GUA ABISIN LO SATU-SATU!” ucap Sena sembari menunjuk kepada Bella lalu pergi melewatinya.

“ADIK LO ADUAN YA LEMAH!”

“Wah, setan.” jawab Sena.

Ketika Sena ingin kembali menghampiri Bella, ada Gadis yang menahan nya, “KAK UDAH!”

Sena diam, dia benar-benar menuruti apa kata Gadis, “aku bilang udah kak, jangan buat masalah ini panjang.” ucap Gadis sembari memeluk Sena agar tenang.

Rayan angkat bicara, “Bella, Yara, Zeva, sebenernya lo semua yang murahan.” lalu Rayan pergi dari kelas nya Bella.

“Ayo kak, pulang.” ajak Gadis kepada Sena.

Sena menuruti perkataan Gadis.

“Bella, ini gue kasih peringatan terakhir, lo sentuh Gadis, gue abisin lo.” kata Sena sembari meninggalkan kelas Bella.

Ketika Damar dan Navaro sedang melakukan perjalanan ke rumah ayah nya, tiba-tiba asisten ayah nya me-nelfon Navaro.

“Oke, baik.”

Damar segera memberhentikan motornya di pinggir jalan. Lalu bertanya kepada Nava, “siapa?”

“Asisten papa, dia bilang jangan kerumah lagi ada syuting acara papa.”

“Tapi tujuan kita ketemu dia kan? Asisten nya?”

Nava mengangguk, “dia ngajak ketemuan di luar, di caffe biasa yang sering gua sama papa dulu datengin.”

“Oke, kita berangkat kesana.”

Setelah beberapa menit perjalanan, mereka sampai di caffe yang sudah Nava sebutkan. Mereka menunggu setengah jam, namun asisten ayah nya tak kunjung datang.

“Ini seriusan dia mau dateng kan?” tanya Damar kepada Nava.

“Semoga aja.”

Waktu terus menerus berjalan Damar dan Navaro sudah menunggu dua jam, namun asisten ayah nya tidak juga datang. Mereka memutuskan untuk pulang saja. Tapi setelah mereka akan beranjak untuk pulang, asisten ayah nya datang dengan muka sedikit panik.

“M-maaf saya terlambat.”

“Tidak apa-apa kok bu, tetapi ibu akan memberi informasi nya kan?” tanya Navaro.

“Gua belum kenal lo, gua mau tau nama lo siapa.” celetuk Damar.

“Dam, yang sopan!” tegur Navaro.

“Tidak apa-apa den Nava, saya sudah tau betul sedari kecil memang den Damar seperti ini, kasar namun penyayang.” ucap asisten ayah nya ini.

“Perkenalkan nama saya Renata.” sambungnya.

Damar hanya mengangguk.

“Jadi gimana bu?” tanya Navaro kembali.

“Sepertinya di lingkungan kalian ada mata-mata nya Arya ya? soalnya ketika saya mau kesini, Arya tiba-tiba menahan saya lalu menyuruh saya untuk jangan membongkar semuanya.”

“Membongkar?” tanya Damar.

“Saya disini hanya mau bilang jika anak pertama nya akan segera dipublikasikan di berita jadi saya tidak bisa memberikan info secara langsung disini. Untuk Arya ingin bertemu kalian tujuannya karena ia ingin menjauhkan kalian dari non Gadis.” jawab Renata.

“Masih ada yang ibu sembunyiin ya?” tanya Navaro.

Renata hanya diam dan kaku, dia bingung harus menjawab apa, disatu sisi ia ingin memberitahu yang sebenarnya, disatu sisi lainnya ia takut kepada Arya Brady ini.

“Apa ibu tau kematian mama kami, karena apa?” tanya Damar.

Pertanyaan Damar sangat menohok sehingga Renata menjawab dengan gugup.

“T-tidak tau.”

“S-saya harus segera pulang, permisi.” sambung Renata.

Ketika Navaro akan menahan ibu Renata ini, Damar segera menahan Navaro terlebih dahulu, “udah, gaakan bener. Kita juga pulang aja.”

Gadis dan Aslan sekarang berada di atap sekolah, mereka kini saling diam. Sesungguhnya Aslan ingin bertanya namun dia agak canggung karena kejadian kemarin Aslan menembak Gadis secara langsung.

“Eum, anu ...”

“Kenapa?” tanya Gadis.

“Jangan diem-dieman gini, Dis.”

“Gue capek.” jawab Gadis.

“Kalau gue nanti tiba-tiba gaada gimana, lan?”

“Hussss!! Ga boleh bilang gitu.”

“Umur kan ga ada yang tau.”

“Gadis, gue gasuka lo bilang gitu.”

“Pengen nyusul mama, aku belum pernah ketemu mama.”

“Aku?” batin Aslan.

“Mama lagi liat lo disini ngeluh.”

Gadis tertawa kecil, “capek, Lan.”

“Gadis.” panggil Aslan.

Gadis menoleh, “kenapa, Lan?”

Ketika Gadis menoleh, Aslan melihat Gadis hidung nya mengeluarkan darah.

“Lo mimisan? Ayo ke UKS.” ajak Aslan.

Gadis segera mengelap nya dengan tangan, “gapapa, nanti juga reda darahnya.”

“Tapi—”

Potong Gadis, “percaya sama gue, Lan. Nanti juga berenti sendiri. Soalnya gue udah sering mimisan juga.”

“Udah cek ke dokter?”

Gadis mengangguk, “gapapa kok, kata dokternya.”

“Dis, lo boleh ngeluh, tapi jangan sampai berkeinginan buat nyusul mama lo. Lo bisa jadiin gue tempat berkeluh kesah lo.”

“I-itu juga, kalo lo mau.” sambung Aslan.

Gadis tersenyum, “makasih ya. Dan maaf kalau gue belum bisa balas perasaan lo.”

Aslan membalas senyuman Gadis, “gapapa, walaupun lo nolak gue, bukan berarti gue udah ga anggap lo temen lagi. Sampe kapan pun lo orang spesial yang ada di hidup gue, Dis.”

“Karena lo, gue bisa hidup sampai sekarang. Coba kalau dulu lo ga hadir mungkin gue udah gaada sekarang.” ucap dalam hati Aslan.

Setelah Gadis mengunjungi Aslan yang ada di UKS. Dia bertemu Bella dan kawan-kawan.

“Heh, cewe centil.” ucap Bella kepada Gadis.

Gadis melihat sebentar lalu mempercepat jalan nya. Bella pun mengejar lalu menghadang di depan.

“Eits, mau kemana?” ucap Bella lagi.

“Ada apa ya kak?”

“Puas lo udah bikin malu gue depan Damar, Sena, Nava dan Rayan?”

“Bu-bukan gitu, kak. Kemarin waktu kakak chat, sebelah saya kak Sena, terus dia tiba-tiba rebut handphone saya.”

“Alah, alesan lo.” ucap Bella sembari memegang tangan Gadis lalu membawa nya dengan kasar.

“Kak saya mau dibawa kemana?”

“Jangan banyak bacot.” celetuk Zeva.

Akhirnya mereka sekarang berada di gudang sekolah.

“Aduh, adik kesayangan Sena, Nava, Rayan dan Damar lagi ketakutan ya? gemeter gitu.”

Gadis gemetar karena dia trauma dengan tempat yang gelap.

“Kak, sa-saya punya trauma.”

Bella pun menampar Gadis.

PLAK

“Jangan kecentilan deh, gue gasuka liat lo merasa jadi ratu disini.”

Gadis memegang tangan nya sembari menunduk.

“Lemah juga kan lo kalo disini.” celetuk Yara.

Yara menjenggut rambutnya Gadis, “jadi cewe jangan murahan.”

“K-kak, sa-sakit.”

Gadis menangis, dia benar kesakitan dan trauma nya semakin menjadi.

“Nangis? cengeng banget.” ucap Bella menyentak Gadis.

Tiba-tiba ada seseorang masuk, “gue bisa laporin lo semua ke BK.” ucap seseorang itu sembari teriak.

Gadis melihat ke arah sumber suara.

“Aslan?”

“Lo siapa hah?” tanya Bella.

“Keliatan nya adik kelas sih, Bell.” jawab Yara.

“Lepasin Gadis atau gue aduin lo semua.”

Yara melepas tangannya dari rambut Gadis. Lalu mereka bertiga pergi dari gudang meninggalkan Gadis dan Aslan.

Gadis langsung jongkok dan menundukan kepala sembari menangis.

Aslan datang mendekat, “hey, kamu gapapa?” tanya Aslan.

Gadis menggeleng.

Lalu, Aslan memeluk Gadis, “udah gapapa, ada aku disini.”

Kini mereka sudah sampai disekolah, mereka jalan menuju kelasnya masing-masing.

“GADISSSS!!” panggil Vanya.

“VANYA KANGEN!!!”

Gadis pun duduk di bangku nya, “lo sakit apa? kok gabilang? tau gitu gue bisa nengok lo kemarin.”

“Lucu banget, lo kayak wartawan aja hahaha.”

“Jawab cepet!”

“Demam biasa, gue kalau lagi sakit hp nya pasti gue matiin, buat istirahat.”

Gadis mengangguk, “tapi keadaannya sekarang gimana? apa lo masih sakit?”

Vanya menggeleng, “udah baikan.”

Tiba-tiba Aslan masuk kedalam kelas lalu ia segera duduk di bangkunya, aneh nya ia tidak menyapa Gadis.

“Aslan kenapa? mukanya lesu gitu.” tanya Vanya kepada Gadis.

“Gatau, dia juga sama kayak lo kemarin ga masuk, gue chat aja ceklis.” jawab Gadis.

“Aneh.” ucap Vanya.


Di sisi lain sekarang Sena dan Nava sedang berbincang.

“Bokap nyuruh gue sama Damar ketemu dia.” ucap Navaro.

“Hahaha, dia tau yang kuat siapa ya.”

“Gua gatau tujuan dia apa.”

“Lo udah tau anak pertama nya papa? dari istri barunya itu.” tanya Sena.

Navaro menggeleng.

“Gua lagi cari tau sebenernya. Tapi kata asisten nya papa dia bakal ngasih tau di publik, siapa anak pertama nya.”

“Lo ketemu sama asisten papa?”

“Gasengaja ketemu dijalan, tapi muka dia pas ceritain papa agak panik gitu.”

“Anak pertama dan kedua dari istri baru nya di publikasikan ya, hahaha.”

“Gua yakin, kenapa Damar dan Rayan waktu itu sempet dingin ke Gadis pasti ada hubungan nya sama papa.”

“Lo cari tau ini, dari kapan?”

“Udah 3 bulan, tapi gaada jalan keluar sama sekali.”

“Bentar, anak yang paling nurut ke papa kan dari kecil Damar sama Rayan?” tanya Navaro.

“Betul, akhirnya lo sadar juga. Makanya sedikit demi sedikit gua lagi mau deketin mereka supaya cerita.”

Damar pun menghampiri kamar adik nya, dan Damar langsung melihat adik nya ini sedang asik menonton drama korea.

“Kak, sini!”

Damar pun menuruti perintah adik nya, ia segera duduk disebelahnya.

“Nonton apa?”

“Drakor.”

“Ya judul nya sayang.”

“Hometown cha cha cha.”

Damarion melihat sekitar, ia baru pertama kali datang ke kamar Gadis. Selama mereka tinggal bersama ini pertama kali nya Damar masuk ke kamar adik nya.

“Ada foto gue juga.” ucap batin Damar.

“Kenapa kak?”

“Eh? hmm, gapapa.”

“Pegel?” tanya Damar.

“Heheheh.”

Damar pun menyenderkan kepala Gadis kepada pundaknya, “nyender aja gini nonton nya biar enak.”

Gadis tersenyum melihat Damar, “makasih kakak, makasih udah mau jadi kak Damar yang sebenarnya.”

Damar tersenyum lalu mengelus rambut Gadis, “ada hal yang lain mau kamu lakuin gak sama kita?”

Gadis mengangguk, “ada.”

“Apa?”

“Ke makam mama berlima.”

“Gadis mau liatin ke mama kalo kelima anak nya ini udah bersatu dan akur satu sama lain.” sambung Gadis.

“Ada lagi?”

“Gadis mau ngerasain kasih sayang dari seorang papa, kak.”

“Dari awal Gadis lahir, dari Gadis masih kecil. Gadis selalu iri ngeliat kakak-kakak Gadis lebih di sayang papa, tapi waktu itu kak Sena dateng dan bilang gini ke Gadis, “Gadis ada kak Sena, jangan sedih ya.” simple tapi buat aku bertahan sampai sekarang.” sambung Gadis.

“Maaf, waktu dulu kakak—”

Potong Gadis. “gausah minta maaf kak, kakak kayak gitu mungkin kakak juga ada alasannya, aku tau setiap orang pasti punya alasan, seperti sikap papa ke aku.”

“Aku selalu diem-diem liat kak Damar, kak Rayan, kak Nava dan kak Sena. Ngeliat kalian tersenyum, itu yang buat aku semangat hidup dan jalanin semuanya. Jadi aku minta sama kakak, jangan masuk rumah sakit lagi ya? untuk aku, dan untuk keluarga kita.” ucap Gadis sembari melihat ke arah Damarion, “kak, apapun bakal aku lakuin buat kalian.”

Damar segera memeluk adik nya ini, Gadis telah dewasa, Gadis perempuan yang kuat tapi semakin Gadis begitu, Damar pun semakin khawatir.

“Bukan Sena doang sekarang yang jaga kamu, kita berempat bakal jaga Gadis.”

Gadis membalas pelukan kakak nya, “kak Damar, aku sangat sayang kakak. Apapun bakal aku lakuin kalaupun harus nyawa aku juga yang dikorbanin, aku ikhlas buat kalian.”

“Nggak, kamu gaboleh bilang gitu. Aku mau liat kamu menikah sama orang yang kamu sayang.”

“Aku juga mau liat keempat kakak ku, nikah!” balas Gadis sembari tertawa kecil.

Dan ada sepasang mata yang melihat Gadis dan Damar ini sembari menangis yaitu Navaro.

“Apapun itu kakak yang bakal lakuin demi kamu.” batin Navaro