145

Setelah Gadis mengunjungi Aslan yang ada di UKS. Dia bertemu Bella dan kawan-kawan.

“Heh, cewe centil.” ucap Bella kepada Gadis.

Gadis melihat sebentar lalu mempercepat jalan nya. Bella pun mengejar lalu menghadang di depan.

“Eits, mau kemana?” ucap Bella lagi.

“Ada apa ya kak?”

“Puas lo udah bikin malu gue depan Damar, Sena, Nava dan Rayan?”

“Bu-bukan gitu, kak. Kemarin waktu kakak chat, sebelah saya kak Sena, terus dia tiba-tiba rebut handphone saya.”

“Alah, alesan lo.” ucap Bella sembari memegang tangan Gadis lalu membawa nya dengan kasar.

“Kak saya mau dibawa kemana?”

“Jangan banyak bacot.” celetuk Zeva.

Akhirnya mereka sekarang berada di gudang sekolah.

“Aduh, adik kesayangan Sena, Nava, Rayan dan Damar lagi ketakutan ya? gemeter gitu.”

Gadis gemetar karena dia trauma dengan tempat yang gelap.

“Kak, sa-saya punya trauma.”

Bella pun menampar Gadis.

PLAK

“Jangan kecentilan deh, gue gasuka liat lo merasa jadi ratu disini.”

Gadis memegang tangan nya sembari menunduk.

“Lemah juga kan lo kalo disini.” celetuk Yara.

Yara menjenggut rambutnya Gadis, “jadi cewe jangan murahan.”

“K-kak, sa-sakit.”

Gadis menangis, dia benar kesakitan dan trauma nya semakin menjadi.

“Nangis? cengeng banget.” ucap Bella menyentak Gadis.

Tiba-tiba ada seseorang masuk, “gue bisa laporin lo semua ke BK.” ucap seseorang itu sembari teriak.

Gadis melihat ke arah sumber suara.

“Aslan?”

“Lo siapa hah?” tanya Bella.

“Keliatan nya adik kelas sih, Bell.” jawab Yara.

“Lepasin Gadis atau gue aduin lo semua.”

Yara melepas tangannya dari rambut Gadis. Lalu mereka bertiga pergi dari gudang meninggalkan Gadis dan Aslan.

Gadis langsung jongkok dan menundukan kepala sembari menangis.

Aslan datang mendekat, “hey, kamu gapapa?” tanya Aslan.

Gadis menggeleng.

Lalu, Aslan memeluk Gadis, “udah gapapa, ada aku disini.”