jenayspace

Rayan dan Gadis sudah sampai disekolah dan Gadis pun turun dari mobil lalu ada sepasang mata yang melihat Gadis berbarengan dengan Rayan. Ya tentu saja orang itu adalah Bella.

“Sekarang Rayan?” “Murahan banget sih.”


Gadis kini sudah berada di dalam kelas namun tidak melihat Vanya dan Aslan. Keduanya tidak masuk sekolah.

“Vanya kemana ya?” ucap dalam hati Gadis.


Setelah jam pelajaran kedua selesai, bunyi bel istirahat pun berbunyi. Kini Damarion, Sena, Navario dan Rayan menghampiri kelas Gadis dan mengajak makan di kantin bersama.

“Kakak?” ucap Gadis menghampiri mereka.

“Ayo kantin bareng!” ajak Sena kepada Gadis.

Gadis mengangguk dengan semangat, “ayo!!!”

Mereka pun membeli bakso langganan nya, dan Gadis pun diperkenal kan bakso yang sering mereka makan.

“Ini namanya bakso surgawi yang ada di duniawi, Dis.” ucap Sena kepada Gadis.

Gadis hanya tertawa kecil melihat Sena yang mengatakan itu sambil melahap baksonya.

Dan diujung meja pun, ada yang memerhatikan Gadis, Sena, Damar, Rayan dan Nava, siapa lagi kalau bukan Bella, Zeva dan Yara.

“Siapa nya sih?” tanya Bella kepada Zeva dan Yara.

Zeva hanya mengedikan bahu nya.

“Gatau, gua juga. Murahan banget ya kan?” ucap Yara kepada Zeva dan Bella.

Setelah setengah jam Gadis sampai di rumah sakit Sentosa lalu menuju keruangan Damarion.

“K-kakak?” ucap Gadis terbata yang masih berada di dekat pintu ruangan.

Lalu, Gadis mendekat ke tempat tidur Damarion yang sedang berbaring.

“Gadis, maafin kakak.” ucap Navaro.

“Kakak, kenapa gabilang?” jawab Gadis dengan nada tinggi.

“Maaf.”

Gadis menangis, melihat kakak nya yang sekarang sedang tertidur, dia tidak pernah melihat Damarion sakit apalagi sampai menginjakan kaki ke rumah sakit, Damarion memang sekuat itu.

“K-kak Damar ayo bangun.” ucap Gadis sambil memegang tangan Damar.

Mereka menunggu Damarion sudah hampir 2 jam, Damar masih belum siuman dari pingsan nya.

“Gadis, pulang dulu ya? nanti kesini lagi, aku temenin.” ucap Sena.

Gadis menggeleng, “gak mau.”

Sena melirik Navaro dan Nava mengisyaratkan kepada Sena menyuruh Gadis disini dulu saja. Sena menuruti Navaro, dia tidak jadi mengajak Gadis pulang.


“Ga-gadis..” ucap Damarion yang mulai bangun dari pingsannya.

Gadis terbangun mendengar suara Damar ia segera menghampiri Damar.

“Gadis disini kak.”

Rayan, Sena dan Navaro pun menghampiri Damarion.

Damarion bangun dan memeluk Gadis, “aku sayang kamu, Dis.” sembari mengelus punggung Gadis, “jangan kemana-mana.”

Gadis hanya bisa diam, dia benar-benar ingin menangis sekarang, melihat Damar yang tidak seperti biasanya.

“Kak, k-kenapa?”

Lalu tiba-tiba ada yang membuka pintu dengan kencang semua melihat ke sumber suara dan orang itu adalah ayah mereka, Arya Brady.

“Damar, kamu tidak apa-apa?” datang menghampiri Damar lalu mendorong Gadis yang sedang berdekatan dengan Damar.

“PAPA!” jawab Damar.

“Kok kamu nyentak papa?”

“Jangan ganggu, Gadis.”

“Loh, bukan nya kamu pun tidak peduli dengan Gadis?”

“Jaga ucapan papa, kalau papa cuman mau ngajak debat sama Damar, mending papa keluar!”

“Lihat, gara-gara anak sialan itu kalian durhaka sama papa.”

“Jaga ucapan lo, Arya.” celetuk Rayan.

“Gadis bukan anak sialan.” sambung Rayan.

“Rayan! biasanya kamu tidak membantah papa!”

“Ga sudi, gue punya papa kayak lo.”

“Mending anda keluar sekarang.” ucap Navaro kepada Ayahnya.

Ayahnya masih diam.

“Keluar atau saya bisa ngelakuin hal kasar kepada anda.” sambung Navaro.

Ayah nya mengalah lalu dia keluar, namun sebelum ayah nya keluar dari ruangan Damarion. Sena agak menyentak.

“Gausah ganggu hidup kita lagi pah, kita masing-masing udah punya empat rumah. Kita udah saling melengkapi. Kalau papa disini buat ngehancurin satu rumah berarti papah ngehancurin rumah yang lainnya. Yang artinya kita berempat gaakan tinggal diam, kalau papa nyentuh Gadis atau sampai nyelakain Gadis.” tutur jelas Sena.

Akhirnya Gadis menuruti perkataan Sena untuk bercerita bersama Navaro.

“Kak Nava!!”

“Iya, kenapa?”

“Udah dong main hp nya temenin aku cerita.”

Navaro pun langsung memberhentikan aktifitasnya lalu fokus kepada Gadis.

“Cerita apa?” -Navaro

“Keluarga kita.” -Gadis

“Maksudnya?” -Navaro

“Kalian berempat udah pernah punya pacar?”

Nava tertawa kecil, “kamu ngeledek apa gimana?”

“Kak, serius..”

“Oke-oke, kakak jawab.”

“Diantara kita berempat, yang belum pernah pacaran itu Rayan sama Damar. Sena sama kakak pernah, tapi gak lama. Sebenernya tragis kisah cinta nya Sena sih.” tutur jelas Navaro.

“Sena punya dua mantan, yang mantan pertama kalo gasalah dia diselingkuhin, kalo yang kedua ini Sena masih sayang sama cewek ini, mereka belum ada kata putus, tapi Sena ditinggal sama ceweknya.” sambung Navaro.

“Berapa lama? maksud aku ditinggal berapa lama?” tanya Gadis kepada Navaro.

“Hari ini pas genap dua tahun.” celetuk suara dari arah pintu yaitu Sena yang tiba-tiba datang ke kamar Navaro.

“Kak Sena udah sampe, kok gabilang?”

“Denger dari luar pembicaraan kalian serius. Jadi kasian mau ganggu juga.” jawab Sena.

“Ceweknya namanya siapa kak?”

“Kepo banget adik kakak.” jawab Sena.

“Kakak kok masih nunggu ceweknya?” Gadis bertanya lagi.

“Bagi kakak, soal hubungan udah gak penting lagi. Tapi, yang terpenting keadaan dia baik-baik aja, kakak udah seneng. Soal hubungan kalau emang Tuhan udah berkehendak buat kakak sama dia bersatu lagi kakak pasti jalanin, kecuali ketika dia dan Tuhan satu suara buat menghentikan semuanya, kakak akan berhenti juga. Kehendak Tuhan itu mutlak, Dis.” jawab jelas Sena sembari mengelus rambut Gadis dan tersenyum.

“Kak Sena, maaf.”

“Kok minta maaf?”

“Banyak yang Gadis gatau tentang kakak.”

“Kakak juga sama ga terlalu banyak tentang kamu, setelah kamu pindah kerumah ini, suasana rumah jadi lebih hidup. Sebelum ada kamu disini, aku sama Nava gak pernah sama sekali ngobrol sama Rayan dan Damar bahkan tegur sapa aja jarang.” jawab Sena.

“Dis, yang lebih berat dari hidup kakak itu harus pisah waktu itu sama kamu. Kakak waktu itu masih kecil, Nava juga sama kita gak bisa pertahanin kamu waktu itu, maaf ya?” sambung nya.

“Ngga apa-apa kok kak, lagian selama aku dirumah Bibi, kalian berempat suka mampir kerumah Bibi.” jawab Gadis sembari tersenyum kepada Sena dan Navaro.

“Iya, hari pertama mampir. Kakak sama Rayan malah liat kamu lagi dikunciin di kamar mandi sama Papa.” celetuk Navaro.

“Udah, yang lalu yaudah lupain aja kak.”

Hari itu mereka banyak bercerita, ntah dari sisi Gadis, Sena dan Navaro. Intinya mereka saling sayang satu sama lain.

Kelas nya Gadis sedang dalam jam mata pelajaran olahraga yang mana semua murid pasti bergegas ke lapang.

“Oke, anak-anak sekarang olahraganya basket ya.” ucap Pak Handoko.

“Pak Han, basket mulu.” jawab salah satu murid.

“Yasudah, saya suruh renang, kamu mau?”

“Yakali, pak.”

“Yasudah jangan protes.”


Siswa-siswi pun mulai bermain olahraga basket. Tentunya Gadis ikut bermain basket.

“Oper sini, Gilang woi!” “Dribble yang bener, vanya!” “Itu out anjir.” “Sera yang bener dong!”

Itulah celetuk-celetukan pada saat mereka bermain bola basket.

Dan pada saat Gadis akan merebut bola nya dia malah didorong oleh salah satu siswi yang bernama Aurel sehingga Gadis terjatuh.

“Eh, Gadis lo gapapa? maaf gue gak sengaja.” ucap Aurel kepada Gadis.

“Gausah bohong, gue liat dari kejauhan, lo sengaja dorong Gadis.” Sentak Damarion yang datang dari pinggir lapangan menuju kearah Gadis.

Gadis hanya meringis kesakitan karena dorongan nya sangat kencang sehingga lukanya pun mulai keluar darah.

“Gue gendong, lo naik kepundak gue.” kata Damar kepada Gadis.

Gadis menuruti perkataan Damarion, dan Damar membawa Gadis ke UKS.

Dan akhirnya mereka bersiap-bersiap untuk jalan-jalan tapi karena ini malam hari bisa dibilang night drive.

“Pake jaket ya? soalnya kita pake motor.” ucap Sena kepada Gadis.

“Oke kak!”

Momen yang tidak akan terlupakan oleh Gadis selama ia hidup, dan ini pertama kalinya mereka full team untuk bermain bersama.

“Apa doa gue pas di atap sekolah dikabulin ya? makanya sekarang bisa main sama kakak-kakak gue.” kata Gadis dalam hatinya.

Dan mereka sekarang sudah dalam perjalanan Gadis dengan Sena, Nava, Rayan dan Damarion masing-masing mengendarai motor.

Didalam perjalanan, Gadis berteriak kepada Sena.

“KAK SENA, GADIS SENENG!!! GADIS SAYANG KAK SENA, KAK NAVA, KAK DAMAR DAN KAK RAYAN POKOKNYA!!!”

Sena hanya bisa tersenyum bahagia melihat adik nya bisa merasakan arti keluarga yang sebenarnya.

Sena dan Nava pun mengajak Gadis untuk jalan-jalan dulu, Gadis agak heran karena tidak biasanya kakak nya tiba-tiba mengajak nya jalan.

“Aneh.” celetuk Gadis.

“Kenapa? maksud kamu Navaro aneh? emang dia mah aneh orang nya.” jawab Sena.

“Kamu juga, aneh!” sanggah Gadis.

“LOH KOK AKU JUGA?” jawab Sena.

Navaro hanya fokus menyetir sembari menertawakan tingkah lakunya Gadis dan Sena, memang Navaro pun mengakui jika Sena amat sayang kepada Gadis bahkan Gadis seperti pacar nya Sena, benar-benar disayangi oleh Sena. bahkan ketika Navaro tidak sengaja memeluk Gadis depan Sena, Sena bisa marah kepada Navaro selama 24 jam alias satu hari.

“Kak Sena.”

“Kak Nava.”

“Iya?” jawab mereka secara bersamaan.

“Aku sayang kalian dan juga papa.”

Rayan yang melihat Gadis sudah ketakutan, ia langsung memeluk Gadis, “lo gapapa kan?”

“Trauma lo kambuh?” tanya lagi Rayan kepada Gadis.

Gadis hanya bergetar tidak menjawab, dan Rayan pun semakin erat memeluk Gadis dan mengelus rambutnya, “jangan khawatir ya, ada gue, Dis.”

“K-kak Rayan, takut.”

Rayan lega, akhirnya Gadis membuka suaranya. Rayan saksi mata ketika dulu masih serumah dengan ayahnya Gadis selalu kena sasaran ayah nya, sampai di kunci di wc bisa berkali-kali dalam sehari.

“Duduk dulu diluar ya?”

Gadis mengangguk.

Akhirnya mereka duduk diluar, lalu Rayan memberikan air minum yang ada di tasnya.

“Minum dulu.”

Gadis meminum, minuman yang diberikan oleh Rayan, “makasih kak.”

“Gadis.” panggil Rayan.

“Iya, kak?”

“Jangan nangis kayak tadi, gue khawatir.”

Gadis heran, melihat kakak nya yang satu ini peduli padanya.

“Kakak aneh, ga biasanya kakak kayak gini.” tutur dengan jelas Gadis.

Rayan pun agak kikuk dan malu karena perkataan Gadis memang benar, biasanya dia tidak peduli dengan keadaan sekitar seperti Damarion.

“Yang lain udah pada nunggu. Ayo kekelas lo, Dis.” ucap Rayan mengalihkan pembicaraan Gadis.


Nava, Sena dan Damar melihat kearah Rayan dan Gadis yang sedang berjalan bersamaan.

“Ngapain lo berduaan sama pacar gue?” tanya Sena kepada Rayan.

“Gadis habis dikunci di wc.”

Sena, Damar dan Nava kaget.

“Lo gapapa?” tanya Damar kepada Gadis.

Gadis, Sena dan Nava pun kaget, jujur ini peristiwa terlangka yang pernah mereka alami.

“Lo bisa peduli, dam?” tanya Nava kepada Damarion.

“Udah-udah kenapa jadi ribut, aku gapapa kok kak. Untung aja ada kak Rayan, yang bantu dobrakin pintu.

“Trauma kamu kambuh?” tanya Nava kepada Gadis.

Gadis mengangguk, “kak Rayan bantu nenangin aku.”

Sena benar-benar tidak harus berkata apa lagi, melihat dua peristiwa langka dalam waktu bersamaan yang mana Rayan membantu Gadis dan yang kedua Damar peduli kepada Gadis.

“Lo bedua ga kesambet kan?” tanya Sena kepada Damar dan Rayan.

Bel pulang sekolah pun berbunyi, Navaro, Damarion, Rayan dan Sena keluar dari kelas nya masing-masing.

“Duluan aja ke kelas Gadis, nanti gue nyusul.” ucap Rayan kepada Nava, Damar dan Sena.


“Gue kebelet, ke wc dulu kali ya.” ucap Gadis dalam hati.

Akhirnya Gadis pun keluar kelas lalu menuju toilet sekolah, setelah beberapa menit Gadis pun ingin keluar namun pintunya tidak bisa dibuka.

“Tolong, yang ada diluar bukain pintunya!!” ucap Gadis sembari teriak dengan keras.

Gadis mencoba dengan segala cara tidak bisa membuka pintunya, dirinya sudah panik, mau menelfon kakaknya, handphone nya lowbatt

“Ah, kenapa lebay banget sih, kayak sinetron segala hp gue lowbatt.” ucap Gadis menggurutu kesal.

“Please, yang diluar bukain tolong!!!!!” pada saat itu juga dia menangis, dia trauma di kunci di wc sendirian, karena kejadian ini mengingatkan sewaktu kecil dia selalu dikunci oleh ayahnya didalam wc.

Ada secarik surat dibawah pintu itu, lalu Gadis membukanya.

“Baru permulaan, Gadis.”

Gadis bingung, maksudnya apa. Tiba-tiba ada seseorang yang mendobrak pintu toiletnya.

“Dugg”

“Dugg”

Dan dobrakan ketiga “DUGG”, pintunya terbuka, dan Gadis kaget melihat orang itu adalah Rayan.

Rayan langsung bergegas mendekat kepada Gadis lalu memeluknya, “Lo gapapa kan?”

Bel istirahat pun berbunyi, Vanya mengajak Gadis ke kantin namun dia menolak, dia ingin mengelilingi sekolahnya saja, biar hafal.

“Wah, disini adem ya. Buat diem sendiri enak nih.” ucap Gadis dalam batin nya.

Gadis duduk sembari melihat langit, namun perkiraan dia untuk bisa sendiri salah, ada seseorang yang datang yaitu Aslan.

“Gladisya?” panggil Aslan.

“Gadis aja panggil nya.” jawab Gadis.

“Oh oke, gue lupa, sorry.”

“Lo kok tau tempat ini?”

“Ngeliling aja sampe atas, pas buka pintu eh ternyata udah sampe atap sekolah. Enak juga adem.”

“Tempat gue juga sih, tapi gapapa lo orang kedua yang bisa nemuin jalan ke atap ini.” jawab Aslan.

“Seriusan baru lo doang yang tau tempat ini?”

“Ya.. sekarang sama lo.”

Gadis mengangguk.

“Kalau gue kesini biasanya berdoa ke Tuhan biar lebih deket, berdoa apapun harapan gue, biasanya buat gue lega.” tutur jelas Aslan.

“Ada harapan lo, yang pengen ke kabulin gak, Dis?”

“Ada, banyak.”

“Apa? kalau rahasia bilang aja.”

“Bisa jalan-jalan sama keempat kakak gue. Itu yang paling gue harapin dan pengen banget terkabul. Soalnya gue selalu jalan sama kedua kakak gue doang, gapernah full berempat.”

“Oh lo punya empat kakak?”

Gadis mengangguk dengan senyum kecutnya, “sayang nya, gue cuman akrab dengan dua kakak aja, dua lagi enggak, bahkan bertegur sapa aja bisa dihitung jari, miris.”

“Tapi gue yakin mereka sayang lo juga, Dis.”

“Semoga.” jawab Gadis.


Disisi lain, Navaro, Sena, Rayan dan Damarion mereka sedang memakan bakso seperti biasa langganan mereka.

“Gadis ga istirahat?” tanya Sena kepada Navaro.

“Ga tau, gue galiat dia.”

“Tapi itu temennya ada.”

“Yaudah, palingan dia dikelas, atau keliling sekolah kan?” jawab Navaro.

“Iya juga sih.” jawab Sena melanjutkan makan nya kembali.

Gadis dan Damarion sekarang sedang dalam perjalanan menuju sekolah, Damar tentu saja selalu mengendarai motor, dia selalu menolak jika disuruh mengendarai mobil.

Selama dalam perjalanan Gadis dan Damar bungkam suara, tidak ada yang memulai duluan untuk berbicara, satu sama lain sangat canggung.

Setelah 20 menit diperjalanan akhirnya mereka sampai disekolah, setelah itu Gadis langsung turun dan memberikan helm kepada Damar, “makasih, kak Damar. Gadis kekelas duluan.” ucap Gadis langsung berlari menuju kelasnya.

Damar tidak memberi jawaban dia hanya diam.

Di sisi lain ada yang melihat Damar dan Gadis berbarengan yaitu Bella.

“Ini adik kelas siapa nya mereka sih, deket banget.” ucap Bella sembari kesal.


“HAI GLADISYAAA!!” teriak Vanya dari tempat duduknya.

Gadis memberikan isyarat “ssstttt berisik.”

“BIARIN!!!” jawab Vanya malah lebih keras teriakannya.

Gadis hanya tertunduk malu, baru kali ini dia mempunyai teman seaktif Vanya.

Gadis lalu duduk disebelah Vanya, dan Vanya memperkenalkan ketua kelas kepada Gadis yaitu Aslan.

“Lan, sini!! Lo belum kenalan sama anak baru.” sahut Vanya kepada Aslan.

Aslan segera menghampiri bangku nya Gadis dan Vanya.

“Salam kenal, gue Aslan ketua kelas disini.” ucap Aslan sembari menjulurkan tangan dan tersenyum kepada Gadis.

Gadis membalas, “salam kenal juga, gue Gladisya lebih sering dipanggil Gadis.”

“Kalau butuh apa-apa bisa ke gue, Dis.” ucap Aslan.

“Okay, makasih ya.”