147
Gadis dan Aslan sekarang berada di atap sekolah, mereka kini saling diam. Sesungguhnya Aslan ingin bertanya namun dia agak canggung karena kejadian kemarin Aslan menembak Gadis secara langsung.
“Eum, anu ...”
“Kenapa?” tanya Gadis.
“Jangan diem-dieman gini, Dis.”
“Gue capek.” jawab Gadis.
“Kalau gue nanti tiba-tiba gaada gimana, lan?”
“Hussss!! Ga boleh bilang gitu.”
“Umur kan ga ada yang tau.”
“Gadis, gue gasuka lo bilang gitu.”
“Pengen nyusul mama, aku belum pernah ketemu mama.”
“Aku?” batin Aslan.
“Mama lagi liat lo disini ngeluh.”
Gadis tertawa kecil, “capek, Lan.”
“Gadis.” panggil Aslan.
Gadis menoleh, “kenapa, Lan?”
Ketika Gadis menoleh, Aslan melihat Gadis hidung nya mengeluarkan darah.
“Lo mimisan? Ayo ke UKS.” ajak Aslan.
Gadis segera mengelap nya dengan tangan, “gapapa, nanti juga reda darahnya.”
“Tapi—”
Potong Gadis, “percaya sama gue, Lan. Nanti juga berenti sendiri. Soalnya gue udah sering mimisan juga.”
“Udah cek ke dokter?”
Gadis mengangguk, “gapapa kok, kata dokternya.”
“Dis, lo boleh ngeluh, tapi jangan sampai berkeinginan buat nyusul mama lo. Lo bisa jadiin gue tempat berkeluh kesah lo.”
“I-itu juga, kalo lo mau.” sambung Aslan.
Gadis tersenyum, “makasih ya. Dan maaf kalau gue belum bisa balas perasaan lo.”
Aslan membalas senyuman Gadis, “gapapa, walaupun lo nolak gue, bukan berarti gue udah ga anggap lo temen lagi. Sampe kapan pun lo orang spesial yang ada di hidup gue, Dis.”
“Karena lo, gue bisa hidup sampai sekarang. Coba kalau dulu lo ga hadir mungkin gue udah gaada sekarang.” ucap dalam hati Aslan.