179

Ketika Sena sedang berada di dapur dia melihat Damar yang akan bergegas keluar.

“Dam, kemana?”

“Rumah papa.”

“Sendiri?”

“Ya liat aja gue bawa orang gak?”

“Dam, lo jangan gegabah anjing.”

“Gausah banyak bacot, kalau mau ikut, lo tinggal ikut.”

“DAMAR ANJING! WOI!”

Damar segera menyalakan motor nya lalu berangkat menuju rumah ayah nya.


Setelah setengah jam perjalanan, Damar sampai dirumah ayah nya. Dia segera mengetuk pintu rumah ayah nya ini.

“Pah, buka!”

“PAPAH!!!”

“ARYA!”

Lalu ada seorang pembantu yang membukakan pintunya, dan Damar masuk tanpa permisi kedalam rumah ayahnya.

“ARYA BRADY KELUAR LO!”

Ayah nya pun keluar dan menemui Damarion.

“Eh ada anak papa, ada apa?” sambut ayah nya.

“Ck, gapunya dosa ya?”

“Kenapa Damar?”

“Aslan anak papa ini deket sama Gadis, papa tau?”

Ayah nya menggeleng.

“Gua kesini ngeliat Gadis sedih bahwa Aslan anak lo.”

“Saya gak peduli, saya tidak pernah mempunyai anak yang bernama Gadis, dia bukan anak saya!”

“Apa papa udah atur semuanya? nyuruh Aslan deketin Gadis? Hah? JAWAB PAH!”

Dan Aslan keluar dari kamarnya lalu angkat bicara.

“G-gadis? gladisya? a-anak p-papah?” tanya Aslan.

“Gua juga anak dia, papa lo ini punya anak lagi selain lo dan adik lo yang masih ada didalam kandungan.” jawab Damar kepada Aslan.

“P-papa? bener?”

“Iya.” jawab singkat ayah nya.

“Wah, akting lo bagus lan, lo pura-pura gatau biar ga terlihat salah? dan membela papa lo ini? wah cerdas emang.” ucap jelas Damarion.

“Kak, serius gue ini baru tau.” jawab Aslan.

“Bohong lo!”

“Pah, jawab!!! Aslan baru tau, kenapa papa bohongin Aslan?”

“Aslan, papa bisa jelasin ... “

Aslan pun keluar dari rumah, dan Damar mengejarnya.

“DAMARRR!!!” teriak ayahnya, “MAU KEMANA KAMU!!”


“BRENGSEK LO!” teriak Damar kepada Aslan.

BUGG Satu pukulan pas di pipi Aslan, Aslan pun terjatuh.

“S-serius kak, gue baru tau. Pukul gue sepuasnya, gue gaakan ngelawan.”

“Papa selalu bilang, dia ga punya anak lagi.” sambung Aslan menundukan kepala sembari menangis.

Ketika Damar ingin memukul kembali Aslan.

“G-gue tulus kak, g-gue tulus sayang sama Gadis.” ucap Aslan meyakinkan Damarion, “tapi ternyata cewe yang gue suka adalah saudara gue sendiri.”