142
Kini mereka sudah sampai disekolah, mereka jalan menuju kelasnya masing-masing.
“GADISSSS!!” panggil Vanya.
“VANYA KANGEN!!!”
Gadis pun duduk di bangku nya, “lo sakit apa? kok gabilang? tau gitu gue bisa nengok lo kemarin.”
“Lucu banget, lo kayak wartawan aja hahaha.”
“Jawab cepet!”
“Demam biasa, gue kalau lagi sakit hp nya pasti gue matiin, buat istirahat.”
Gadis mengangguk, “tapi keadaannya sekarang gimana? apa lo masih sakit?”
Vanya menggeleng, “udah baikan.”
Tiba-tiba Aslan masuk kedalam kelas lalu ia segera duduk di bangkunya, aneh nya ia tidak menyapa Gadis.
“Aslan kenapa? mukanya lesu gitu.” tanya Vanya kepada Gadis.
“Gatau, dia juga sama kayak lo kemarin ga masuk, gue chat aja ceklis.” jawab Gadis.
“Aneh.” ucap Vanya.
Di sisi lain sekarang Sena dan Nava sedang berbincang.
“Bokap nyuruh gue sama Damar ketemu dia.” ucap Navaro.
“Hahaha, dia tau yang kuat siapa ya.”
“Gua gatau tujuan dia apa.”
“Lo udah tau anak pertama nya papa? dari istri barunya itu.” tanya Sena.
Navaro menggeleng.
“Gua lagi cari tau sebenernya. Tapi kata asisten nya papa dia bakal ngasih tau di publik, siapa anak pertama nya.”
“Lo ketemu sama asisten papa?”
“Gasengaja ketemu dijalan, tapi muka dia pas ceritain papa agak panik gitu.”
“Anak pertama dan kedua dari istri baru nya di publikasikan ya, hahaha.”
“Gua yakin, kenapa Damar dan Rayan waktu itu sempet dingin ke Gadis pasti ada hubungan nya sama papa.”
“Lo cari tau ini, dari kapan?”
“Udah 3 bulan, tapi gaada jalan keluar sama sekali.”
“Bentar, anak yang paling nurut ke papa kan dari kecil Damar sama Rayan?” tanya Navaro.
“Betul, akhirnya lo sadar juga. Makanya sedikit demi sedikit gua lagi mau deketin mereka supaya cerita.”