153
Ketika Damar dan Navaro sedang melakukan perjalanan ke rumah ayah nya, tiba-tiba asisten ayah nya me-nelfon Navaro.
“Oke, baik.”
Damar segera memberhentikan motornya di pinggir jalan. Lalu bertanya kepada Nava, “siapa?”
“Asisten papa, dia bilang jangan kerumah lagi ada syuting acara papa.”
“Tapi tujuan kita ketemu dia kan? Asisten nya?”
Nava mengangguk, “dia ngajak ketemuan di luar, di caffe biasa yang sering gua sama papa dulu datengin.”
“Oke, kita berangkat kesana.”
Setelah beberapa menit perjalanan, mereka sampai di caffe yang sudah Nava sebutkan. Mereka menunggu setengah jam, namun asisten ayah nya tak kunjung datang.
“Ini seriusan dia mau dateng kan?” tanya Damar kepada Nava.
“Semoga aja.”
Waktu terus menerus berjalan Damar dan Navaro sudah menunggu dua jam, namun asisten ayah nya tidak juga datang. Mereka memutuskan untuk pulang saja. Tapi setelah mereka akan beranjak untuk pulang, asisten ayah nya datang dengan muka sedikit panik.
“M-maaf saya terlambat.”
“Tidak apa-apa kok bu, tetapi ibu akan memberi informasi nya kan?” tanya Navaro.
“Gua belum kenal lo, gua mau tau nama lo siapa.” celetuk Damar.
“Dam, yang sopan!” tegur Navaro.
“Tidak apa-apa den Nava, saya sudah tau betul sedari kecil memang den Damar seperti ini, kasar namun penyayang.” ucap asisten ayah nya ini.
“Perkenalkan nama saya Renata.” sambungnya.
Damar hanya mengangguk.
“Jadi gimana bu?” tanya Navaro kembali.
“Sepertinya di lingkungan kalian ada mata-mata nya Arya ya? soalnya ketika saya mau kesini, Arya tiba-tiba menahan saya lalu menyuruh saya untuk jangan membongkar semuanya.”
“Membongkar?” tanya Damar.
“Saya disini hanya mau bilang jika anak pertama nya akan segera dipublikasikan di berita jadi saya tidak bisa memberikan info secara langsung disini. Untuk Arya ingin bertemu kalian tujuannya karena ia ingin menjauhkan kalian dari non Gadis.” jawab Renata.
“Masih ada yang ibu sembunyiin ya?” tanya Navaro.
Renata hanya diam dan kaku, dia bingung harus menjawab apa, disatu sisi ia ingin memberitahu yang sebenarnya, disatu sisi lainnya ia takut kepada Arya Brady ini.
“Apa ibu tau kematian mama kami, karena apa?” tanya Damar.
Pertanyaan Damar sangat menohok sehingga Renata menjawab dengan gugup.
“T-tidak tau.”
“S-saya harus segera pulang, permisi.” sambung Renata.
Ketika Navaro akan menahan ibu Renata ini, Damar segera menahan Navaro terlebih dahulu, “udah, gaakan bener. Kita juga pulang aja.”