jenayspace

Aslan segera masuk ke kamar Gadis, dia sebenarnya tidak enak tiba-tiba masuk seperti ini namun Gadis selalu bilang “ini rumah lo juga aslan, lo nya aja sih banyak alesan gamau tinggal disini.”

“Hallo, cantik.”

Gadis melihat kearah sumber suara, “AAAAASLAAANN!!”

“Hahaha, kangen ya?”

Gadis mengangguk, “banget!”

“Makanya cepet sembuh!”

Gadis hanya tersenyum lebar, “aamiin.”

“Nih, gue bawain lo buah-buahan.”

“Makasih ya!”

Aslan tersenyum, “sama-sama.”

Mereka benar-benar saling bercengkrama, hal apapun dicarakan mungkin temu kangen kali ya, kalau bahasa gaul nya.

“Abis tu, si Indra bawain gue baju olahraga yang bau, terus kata gue “Dra lo anjing ya, bau busuk baju lo sialan banget.” gue teriak gitu. Terus Guru-guru pada liat ke arah gue dan bilang “Masa ketua kelas ngomong nya kasar?” ya terus.. kan gue juga manusia yang tidak sempurna... dan kadang salah...”

Mendengar cerita tersebut, Gadis tertawa sangat kencang, dan membuat Aslan sangat lega, melihat Gadis bisa tertawa lepas seperti ini.

“Dis, gini terus ya.”

“Maksudnya?”

“Senyum lo, jangan pernah luntur.”

Gadis tersenyum simpul, “Lan, janji ya? lo harus akrab sama kakak-kakak lo.”

Aslan terdiam.

“Lan, kak Damar, kak Sena, kak Rayan dan kak Nava mereka kakak lo juga, inget itu.”

Aslan mengangguk, “iya, Gadis.”

Gadis tersenyum kembali, “makasih, Lan. Gue jadi tenang.”

Aslan bingung, maksud perkataan dari Gadis itu apa.

Rayan dan Gadis sedang menuju perjalanan pulang ke rumah.

“Dis?”

“Hmm”

“Lemes ya?”

Gadis mengangguk.

“Kak, Gadis tidur dulu ya.”

Rayan menahan, “janji, bangun lagi kan?”

Gadis terkekeh, “iya, kak.”

“Sebelum, Gadis tidur. Gadis mau curhat sebentar sama kak Rayan.”

Rayan memberhentikan mobil nya ke pinggir jalan, lalu menyimak Gadis nya ini berbicara.

“Gimana?” tanya Rayan.

Gadis yang tersenyum lesu, kakak nya ini sangat gemas, dia memberhentikan mobil nya demi mendengarkan curhatan adiknya ini.

“Kak, Aslan adik kakak juga kan?”

“Iya.”

“Gadis mau besok, kita nonton sama Aslan.”

“Tapi, kakak sama kak Sena mau nengok papa.”

Gadis yang asalnya lesu menjadi agak segaran.

“Ketemu papa?!”

Rayan kaget melihat adiknya menjadi agak semangat seperti ini.

“Iya, kenapa? mau ikut?”

“Pengen, tapi papa pasti gamau ketemu aku.”

“Aku pengen banget ketemu papa, tapi aku bukan anak papa. Walaupun di kartu keluarga ada nama Gladisya, tapi papa gak mengharapkan ada nama itu.” Gadis sembari tertawa kecil.

“Kamu anak papa.” jawab singkat Rayan.

Gadis menggeleng, “Anak secara hukum kak? bukan anak secara nyata.”

“Papa gapernah mau mengakui kenyataan, kalau aku anak dia ... Jadi lebih baik aku pun mendukung keinginan papa, untuk mengaku bukan anak dia.”

Rayan terdiam, sungguh ia tidak mau melihat adik nya menderita seperti ini, kalau Gadis tau papa nya akan di hukum mati, malah akan menggangu kondisi Gadis.

“Lanjut kak, aku beres curhat nya. Mau tidur.”

Rayan menuruti permintaan Gadis, lalu ia melajukan mobil nya kembali.

Rayan dan Gadis sudah berada didalam mobil untuk ke rumah sakit yang dituju.

“Udah kemo biasanya kerasa apa?”

“Lemes.”

“Nanti aja ya, jalan-jalan sama kakak nya.”

Gadis meng-iyakan karena sekarang pun dia sedang merasa lemas.

“Kamu pucet banget.”

“Kak ... “

“Aku takut.”

“Takut, gabisa main sama kakak.”

“Heh! Gaboleh bilang gitu.”

“Kak Rayan, makasih ya?”

“Makasih udah jadi kakak yang baik buat aku.”

Rayan ingin menangis, dia sangat sakit melihat adik nya seperti ini, banyak hal yang ingin Rayan lakukan dengan Gadis, tapi Tuhan berkehendak lain.

Gue denger semua ucapan Gadis yang tentang kanker itu. Emang awal nya gue tidur. Tapi waktu gue mau bangun tiba-tiba dia bilang “kak, tidur ya?” jadi gue ngurungin diri buat bangun. Gue sandiwara masih tidur aja sambil dengerin Gadis ngomong.

Setelah beres nonton gue langsung ngabarin Sena, Nava dan Rayan. Mereka kaget ditambah panik. Disitu kita bikin rencana Sena yang nyari dokter yang sering nanganin Gadis. Gue, Rayan dana Nava nanya ke Aslan karena kan mereka sering bareng, walaupun Aslan bilang gatau, tapi dia sering liat Gadis mimisan katanya.

Setelah melakukan pencarian dokter akhirnya Sena nemuin dokter Riana yang nanganin Gadis selama kemo. Dokter Riana awalnya enggan memberitahu info tentang Gadis karena ini pasiennya jadi dia harus jaga privasi dari pasiennya, tapi Sena kece sih emang, dia bisa luluhin dan buat percaya dokter Riana.

Gue bareng yang lain ngelakuin rencana ini hampir seminggu. Dan kebetulan Gadis chat Nava, jadi Nava punya rencana sendiri untuk ngasih tau Gadis bahwa kakak-kakak nya sudah tau dia sakit kanker.

Gue selalu berusaha keren, tapi setelah denger Gadis sakit, gue pergi ke kamar dan nangis. Lo semua pasti bilang gue lemah, tapi menurut gue itu wajar, sangat wajar untuk gue nangis. Apalagi gue baru akrab sama Gadis itu baru beberapa bulan yang lalu.

Nava pun datang ke kamar nya Gadis dan menghampirinya, sudah terlihat adik nya ini siap menyantap nasi goreng buatan kakak nya ini.

“Siap banget?” tanya Nava.

“Siapa apa?”

“Itu posisi kamu udah siap buat makan nasgor nya.”

“Ya abisan, nasgor kak Nava tuh beda dari yang lain!”

“Enak nya atau ga enak?”

“ENAK NYA!! MANA DITAMBAH SOSIS JUGA!!”

“Hahaha, oke oke, ayo makan!”

“Ayo!!”

“Tapi kakak mau, kamu sambil wish.”

“Maksudnya?”

“Jadi, satu suap terus beresnya kamu berdoa, oiya jangan dalam hati. Oke?”

“Hmm, oke!”

“Yaudah buka mulutnya, aaaaa”

Gadis membuka mulutnya, lalu mengunyah nasi goreng nya.

“Oke sekarang wish suapan pertama, aku pengen kakak-kakak aku hidup bahagia.”

Nava tersenyum, lalu menyuapi untuk suapan kedua, Gadis pun mengunyah lagi, dan menyebut kan wish kedua nya.

“Yang kedua, aku mau kalian sehat terus, dapetin pacar yang baik, dan makan yang banyak, oiya satu lagi harus terus akur satu sama lain!”

Kemudian Nava menyuapi untuk suapan ke tiga.

“Yang ketiga—”

Nava memotong, “Aku, Sena, Damar dan Rayan pengen liat Gadis nya sembuh, ngga sakit.”

Gadis tersedak, “uhuk-uhuk.”

“Nih minum dulu.” Nava memberikan air putih lalu Gadis meminum nya.

“Kak?”

“Hm?”

“Kalian tau?”

Nava mengangguk, “jangan gitu lagi ya? jangan mendem sendiri, ini hal serius, kalau kamu pendem gini, kamu mau kita nyesel seumur hidup?”

Gadis menggeleng, “bukan gitu kak, tapi aku gamau jadi beban aja.”

“Kamu adik aku, udah seharusnya aku jaga kamu, lindungin kamu, kasih perhatian, dan ngerawat kamu dengan baik. Kita sayang kamu, Gadis.”

“Kalau pun harus keluarin uang lebih banyak untuk pengobatan, aku gak masalah, yang penting kamu sembuh. Apapun, Dis, apapun itu kalau kakak bisa tuker nyawa sama Tuhan, aku bakal minta itu. Minta kalau kaka aja yang sakit nya, jangan kamu.” sambung Nava.

Gadis meneteskan air matanya. Ini yang dia takutin, takut untuk tidak bisa bertahan lebih lama.

“Kemo nya jangan sampai kelupaan ya?”

Gadis mengangguk, “maaf kak.”

Nava segera memeluk Gadis, “kakak butuh kamu berjuang, bukan minta maaf. Oke?”

Gadis mengangguk.

Damar pun membawa banyak makanan dan minuman tentunya. Agar menonton nya tidak dengan menahan haus dan lapar. Damar bisa rese kalau lapar.

“Nih kakak bawa ciki-ciki buat kita nonton.”

Gadis hanya melihat lekat kakaknya sedang sibuk menata makanan dan laptop untuk menonton.

“Gadis sini!!”

“Deket kakak.”

Gadis menuruti lalu ia duduk disebelah kakak nya.

Akhirnya menonton drama korea pun di mulai, Damar banyak mengoceh ketika drama nya berlangsung.

“Dis, plis itu tinggal ciuman apa susahnya?”

“Dih, kan Anna alergi eskrim kan ya? kakak sempet liat preview dikit sih ngulis di youtube.”

“Dis, itu ji chang wook kan? gantengan siapa? kakak apa dia? jelas kakak. Oke makasih, Dis.”

Begitulah celotehan-celotehan kakak nya ini, Gadis tertawa melihat dan mendengar tingkah laku kakak nya. Sumpah sangat gemas.

“Dis ini happy ending ga?”

“Dis keren banget ini mas ichang wook.”

“KAKK GEMES BANGET.”

“HAH SIAPA?”

“KAKAK DAMAR!!!”

Damar tersenyum lalu memeluk adik nya, “kamu lebih gemes.” setelah itu melepas pelukannya lalu menonton kembali.

Sudah dua jam mereka menonton, dan Damar pun tertidur di pundak Gadis.

“Kak..”

“Tidur ya?”

“Kak, Gadis masih kuat, buat jalanin to do list ini. Doain Gadis biar bisa nyelsain semua nya ya?” ucap Gadis sembari mengelus rambut Damar.

“Kak, Gadis sakit.”

“Gadis sakit kanker darah, hehehe.”

“Tapi, Gadis kuat, Gadis harus kuat.”

“Asalkan kakak tau, Gadis sangat sayang kak Damar.”

Aslan dan Gadis sedang berada di tempat favorit mereka yaitu atap sekolah.

“Enak banget, makanan nya. Lo masak sendiri?” tanya Gadis kepada Aslan.

Aslan mengangguk dengan semangat, “iya, hahaha. Gue abis belajar masak.”

“Lan, lo seriusan gamau pindah serumah sama gue? kakak-kakak yang lain juga nunggu lo tau.”

“Ngga enak, Dis. Suasana nya pasti beda kalau ada gue, di rumah kalian.”

“Kakak-kakak gue baik kan? eh sorry, maksud—”

Aslan memotong, “baik, Dis.” lalu tersenyum.

“Dis, ayo buka mulut nya.” sembari mengangkat sendok untuk menyuapi Gadis.

Gadis menuruti ia membukakan mulut nya, ketika Gadis sedang mengunyah, keluar darah dari hidung nya.

“Eh-eh lo berdarah.” ucap Aslan.

Gadis kaget segera mengelap hidung nya, “g-gue gapapa.”

“Lo pucet Dis.”

“Gapapa kok!”

“Dari waktu itu lo sering mimisan sampai sekarang?”

“Gapapa, Aslan. Gue gapapa.”

Selama satu jam mereka bercengkara di atap sembari memakan makanan yang dibuat oleh Aslan. Dan akhirnya mereka memutuskan kembali ke kelas.

“GADIS!!”

Betul saja, ke khawatiran Aslan. Gadis kini pingsan. Aslan membawa Gadis ke UKS. Lalu memberitahu kakak-kakak nya.


Setelah setengah jam tidak sadarkan diri, Gadis bangun dari pingsan nya.

“Kak s-sena?”

“Kamu gapapa? aku bawa—”

“Gausah, aku gapapa.” jawab Gadis.

“Tapi—”

“Kak Sena. Aku bilang aku gapapa.”

Sena diam, tidak berkutik lagi.

Sekarang semua berjalan seperti layaknya aku mempunyai empat kakak, tanpa ada siksaan dari papa lagi. Aku menjalani hari dengan layaknya orang sehat, padahal aku sedang sakit.

Aku dinyatakan oleh dokter mengidap kanker darah. Sudah sekitar 3 bulan aku sering mimisan, sebenarnya waktu ditanya Aslan, aku bohong, aku bohong untuk baik-baik saja pada waktu itu. Oiya, kakak-kakak ku tidak ada yang tau soalnya penyakit ku ini. Aku tidak mau menambah beban mereka.

Kalau papa sekarang sedang mengalami masa hukumannya dipenjara. Kalau Vanya dia pergi keluar kota, istri papa yang baru dia sekarang sudah bukan menjadi aktris lagi, dia benar-benar seperti gelandangan. Kalau Aslan, aku masih berkomunikasi dengan nya, kita masih satu sekolah, aku tidak pindah dan dia pun sama, kami masih berteman. Oh, bukan, tapi bersaudara.

Malam ini perayaan Arya Brady menjadi bintang tersukses, karena dia meraih banyak penghargaan. Rayan, Damar, Sena, Nava dan Gadis menghadiri acara itu.

Tentu saja, mereka menuruti perkataan Arya agar datang pada acara nya.

“Anak-anak papa sudah datang, sini maju.” ucap Arya diatas panggung.

Semua saling melirik, tamu yang lain nya merasa kebingungan sedangkan anaknya yaitu Aslan sudah diatas panggung.

Mereka berlima naik ke atas panggung.

“Tapi, tidak untuk kamu. Silahkan anda turun kembali.” ucap Arya kepada Gadis.

Hal itu membuat Damar marah.

“Maksud anda apa ya?” ucap Damar dengan nada tinggi.

“Ya saya menyuruh anak-anak saya, untuk naik ke atas panggung.”

“Iya, tapi Gadis anak papa juga!” sentak Sena.

Wartawan pun mulai mendekati panggung, “Arya apakah ini anak kamu juga? sejak kapan kamu mempunyai anak sebanyak ini?” begitu lah contoh dari pertanyaan-pertanyaan yang di lontarkan.

“Baik, saya akan menjawab pertanyaan kalian semua, disini saya dengan mendiang istri saya dulu mempunyai empat anak. Namun mereka enggan untuk dipublikasi kan, karena saya sangat sayang dengan keempat anak lelaki saya, jadi di acara ini, saya sekaligus mengumumkan keempat anak lelaki saya.”

Banyak suara kamera yang terdengar dan mem-foto Damar, Rayan, Sena dan Nava.

“Tapi itu ada perempuan disana? apa anak bapa juga?” tanya salah satu wartawan.

“Bukan, dia bukan anak saya.”

Mata Gadis mulai memerah. Sekejam itu ayah nya pada dia.

“Gadis anak papa.” Gadis angkat bicara.

“G-gadis dilahirin di rahim nya mama.”

“P-papa kenapa, g-gamau anggap Gadis sebagai anak papa?”

Arya masih berdiam diri, dia sangat ingin memarahi Gadis untuk diam.

“KENAPA PAH?”

“Kenapa kalian bawa anak ini kesini?” tanya Arya kepada Nava, Sena, Rayan dan Damar.

“Biar semua orang tau, Gadis anak papa.” jawab Sena.

Wartawan semakin banyak yang berkumpul. Padahal ini hari bahagia nya Arya, namun sepertinya dia akan di cap jelek di dunia nya sebagai aktor.

“Gadis bukan anak saya! dia memang lahir di rahim nya alexa istri saya. Tapi bukan dengan saya. Melainkan dari selingkuhannya!”

Gadis tersontak kaget, maksud ayah nya ini jadi dia anak dari selingkuhan mama nya kah?

“G-gamungkin!” sanggah Gadis.

Tiba-tiba Vanya datang dan menyapa Gadis, “hai loser.”

“V-vanya?”

“Hahaha, lo kaget ya?”

“Kok lo?”

“Gue sepupu Aslan.”

Gadis semakin tidak mengerti, maksudnya ini apa, kenapa semakin rumit.

Tiba-tiba, ada seorang wanita yang datang bersama asisten ayah nya.

“Renata! kenapa jadi kacau seperti ini?” ucap Arya kepada asisten nya yaitu Renata.

“Maaf, Arya tapi saya sudah muak, saya akan mengungkapkan kebenarannya.” jawab Renata.

“Selama dua minggu saya bekerja sama dengan Damar dan Nava. Untuk mengulik apa yang sedang kamu lakukan.” sambung Renata.

“Kamu bersama Aurel dan Vanya bekerja sama untuk mencelakakan Gadis kan?”

“T-tidak ini fitnah!”

“Gadis pernah jatuh waktu main basket dan cewe ini,” Damar menunjuk Aurel,“yang sengaja mendorong Gadis supaya jatuh.”

“Dan papa menyuruh Vanya untuk menghabisi Damar waktu itu di gudang.” tambah Nava.

“Disini kita punya banyak bukti.” ucap Renata.

“Aurel apa benar yang saya ucapkan?” tanya Renata.

“B-benar saya dibayar oleh om Arya, karena saya memang butuh uang itu, karena ibu saya sedang dalam pengobatan di rumah sakit.”

“Tapi tuduhan lo ke gue ga bener.” Vanya mengelak.

“Butuh bukti?” tanya Damar.

Akhirnya Damar keluar lalu membawa satu orang lelaki yang pernah memukuli nya pada saat di gudang.

“NGOMONG ANJING YANG KERAS!” perintah Damar.

“B-betul s-saya disuruh oleh mba Vanya, untuk memukuli Damarion.” jawab lelaki itu.

“See? lo masih ngelak?” tanya Damar kepada Vanya.

Vanya terdiam.

“SEMUA SALAH, INI SEMUA GUE DISURUH ARYA!” bantah Vanya dengan histeris.

“Jadi kamu yang memukuli anak saya?? Saya tidak menyuruhmu untuk memukuli Damar!” tanya Arya.

“GUE KESEL, LIAT GADIS DISAYANG SAMA KAKAK-KAKAKNYA, GUE IRI KENAPA KAKAK GUE GA SEBAIK KAK DAMAR, KAK SENA, KAK NAVA DAN KAK RAYAN!”

“V-vanya...” ucap Gadis.

“DIEM LO GADIS SIALAN! GUE UDAH MUAK SAMA KEBAIKAN LO, GUE IRI SAMA LO!!!!” jawab Vanya dengan menyentak Gadis.

Malam itu sangat ricuh dan kacau, Renata menelepon polisi agar segera menangkap Arya.

Ketika polisi datang dan akan menangkap Arya. Tiba-tiba Renata menahan.

“Dan satu lagi, Alexa tidak pernah selingkuh, Gadis adalah anak kandung anda. Dan Alexa tidak meninggal karena dia telah melahirkan Gadis namun Alexa dibunuh oleh anda, Arya!” ucap jelas Renata sembari menunjuk kepada Arya.

Pada malam itu hari kebahagiaan Arya berubah jadi hari kelam dirinya, karena dia sudah ditangkap oleh polisi.

Gadis menuju atap sekolah, sebenarnya ia tidak mau datang namun ia juga harus menyelesaikan semuanya, lebih baik menurunkan ego daripada harus kehilangan semuanya, menurutnya seperti itu.

“Gadis?” panggil Aslan.

“H-hai.”

“Pasti lo kaget ya? gue juga sama, Dis. Gue gak tau apa-apa.”

“Kalau lo mau nanya gue sayang sama lo tulus apa nggak, gue tulus.” sambung Aslan.

“Mau apa lo ngajak gue ketemuan?”

“Jelasin semuanya.”

“Maksudnya?”

“Gadis, lo percaya kan sama gue?”

Gadis hanya diam.

“Tolong, percaya sama gue, Dis.”

“Kalau cuman mau minta kepercayaan gue, bisa chatingan aja. Udah gue kekelas dulu.” ucap Gadis sambil berbalik badan dan berjalan meninggalkan Aslan.

“GADIS INGET LO PERNAH BANTU LELAKI DARI TABRAK LARI SEKITAR 4 TAHUN YANG LALU?” teriak Aslan.

Langkah Gadis terhenti.

“Iya, Gadis. Itu gue orang nya.”

“Gue pertama kenal lo dari waktu kejadian itu.” sambung Aslan.


Dan sedari tadi dibalik pintu ada yang mendengarkan mereka yaitu Damar, Sena, Nava dan Rayan.

“Dam, bukannya lo kecelakaan mobil juga 4 tahun yang lalu?” tanya Sena.

“J-jadi laki-laki yang ditabrak p-papa A-aslan ?” kata Damarion sembari terbata-bata.

“Bukan lo yang nyetir?” tanya Nava.

“B-bukan, Nav. Gue dipaksa waktu itu ikut sama papa, dan akhirnya dia nabrak laki-laki itu tapi gagal karena ada cewe yang nolong dia. Dan cewe itu ternyata Gadis?” jawab Damar mulai meneteskan air matanya.


Gadis membalikan badannya, “j-jadi lo?”

“Iya, gue kenal lo udah lama, Dis.”

“Gue, mau berterimakasih sama lo waktu itu. Tapi kita ga pernah ketemu lagi. Dan sekarang kita bertemu sebagai saudara.” ucap jelas Aslan.

“Jadi tolong percaya sama gue.” sambung Aslan sembari menangis, “gue sebenernya lemah, Dis.”