40 – Gue khawatir.

Rayan yang melihat Gadis sudah ketakutan, ia langsung memeluk Gadis, “lo gapapa kan?”

“Trauma lo kambuh?” tanya lagi Rayan kepada Gadis.

Gadis hanya bergetar tidak menjawab, dan Rayan pun semakin erat memeluk Gadis dan mengelus rambutnya, “jangan khawatir ya, ada gue, Dis.”

“K-kak Rayan, takut.”

Rayan lega, akhirnya Gadis membuka suaranya. Rayan saksi mata ketika dulu masih serumah dengan ayahnya Gadis selalu kena sasaran ayah nya, sampai di kunci di wc bisa berkali-kali dalam sehari.

“Duduk dulu diluar ya?”

Gadis mengangguk.

Akhirnya mereka duduk diluar, lalu Rayan memberikan air minum yang ada di tasnya.

“Minum dulu.”

Gadis meminum, minuman yang diberikan oleh Rayan, “makasih kak.”

“Gadis.” panggil Rayan.

“Iya, kak?”

“Jangan nangis kayak tadi, gue khawatir.”

Gadis heran, melihat kakak nya yang satu ini peduli padanya.

“Kakak aneh, ga biasanya kakak kayak gini.” tutur dengan jelas Gadis.

Rayan pun agak kikuk dan malu karena perkataan Gadis memang benar, biasanya dia tidak peduli dengan keadaan sekitar seperti Damarion.

“Yang lain udah pada nunggu. Ayo kekelas lo, Dis.” ucap Rayan mengalihkan pembicaraan Gadis.


Nava, Sena dan Damar melihat kearah Rayan dan Gadis yang sedang berjalan bersamaan.

“Ngapain lo berduaan sama pacar gue?” tanya Sena kepada Rayan.

“Gadis habis dikunci di wc.”

Sena, Damar dan Nava kaget.

“Lo gapapa?” tanya Damar kepada Gadis.

Gadis, Sena dan Nava pun kaget, jujur ini peristiwa terlangka yang pernah mereka alami.

“Lo bisa peduli, dam?” tanya Nava kepada Damarion.

“Udah-udah kenapa jadi ribut, aku gapapa kok kak. Untung aja ada kak Rayan, yang bantu dobrakin pintu.

“Trauma kamu kambuh?” tanya Nava kepada Gadis.

Gadis mengangguk, “kak Rayan bantu nenangin aku.”

Sena benar-benar tidak harus berkata apa lagi, melihat dua peristiwa langka dalam waktu bersamaan yang mana Rayan membantu Gadis dan yang kedua Damar peduli kepada Gadis.

“Lo bedua ga kesambet kan?” tanya Sena kepada Damar dan Rayan.