32 Harapan
Bel istirahat pun berbunyi, Vanya mengajak Gadis ke kantin namun dia menolak, dia ingin mengelilingi sekolahnya saja, biar hafal.
“Wah, disini adem ya. Buat diem sendiri enak nih.” ucap Gadis dalam batin nya.
Gadis duduk sembari melihat langit, namun perkiraan dia untuk bisa sendiri salah, ada seseorang yang datang yaitu Aslan.
“Gladisya?” panggil Aslan.
“Gadis aja panggil nya.” jawab Gadis.
“Oh oke, gue lupa, sorry.”
“Lo kok tau tempat ini?”
“Ngeliling aja sampe atas, pas buka pintu eh ternyata udah sampe atap sekolah. Enak juga adem.”
“Tempat gue juga sih, tapi gapapa lo orang kedua yang bisa nemuin jalan ke atap ini.” jawab Aslan.
“Seriusan baru lo doang yang tau tempat ini?”
“Ya.. sekarang sama lo.”
Gadis mengangguk.
“Kalau gue kesini biasanya berdoa ke Tuhan biar lebih deket, berdoa apapun harapan gue, biasanya buat gue lega.” tutur jelas Aslan.
“Ada harapan lo, yang pengen ke kabulin gak, Dis?”
“Ada, banyak.”
“Apa? kalau rahasia bilang aja.”
“Bisa jalan-jalan sama keempat kakak gue. Itu yang paling gue harapin dan pengen banget terkabul. Soalnya gue selalu jalan sama kedua kakak gue doang, gapernah full berempat.”
“Oh lo punya empat kakak?”
Gadis mengangguk dengan senyum kecutnya, “sayang nya, gue cuman akrab dengan dua kakak aja, dua lagi enggak, bahkan bertegur sapa aja bisa dihitung jari, miris.”
“Tapi gue yakin mereka sayang lo juga, Dis.”
“Semoga.” jawab Gadis.
Disisi lain, Navaro, Sena, Rayan dan Damarion mereka sedang memakan bakso seperti biasa langganan mereka.
“Gadis ga istirahat?” tanya Sena kepada Navaro.
“Ga tau, gue galiat dia.”
“Tapi itu temennya ada.”
“Yaudah, palingan dia dikelas, atau keliling sekolah kan?” jawab Navaro.
“Iya juga sih.” jawab Sena melanjutkan makan nya kembali.