jenayspace

Ketika Gadis bangun dari tidur nya, dia kaget melihat Sena sedang tidur sembari duduk di pinggir tempat tidurnya.

Gadis mengelus rambut Sena lalu dia membangunkan nya, “kak Sena, ayo bangun.”

Sena pun tersadar karena ada yang mengelus rambutnya, dia mengucek mata nya lalu tersenyum kepada Gadis, “eh, adik kakak udah bangun.”

“Kakak ngapain tidur disini?”

“Kangen.”

“Apaan sih, lebay.”

“Khawatir, aku khawatir sama kamu.”

“Aku udah gapapa kak.”

“Dari luar gapapa, pasti dalemnya kenapa-napa. Damar baik kan sama kamu?”

Gadis mengangguk dengan semangat, “baik kok!”

“Maaf ya? kakak gaada disaat kamu lagi butuh kakak.”

“Gapapa kak. Lagian ada kak Damar juga kak, kakak ko kayak ragu gitu?”

“Damar kan cuek sama kamu, takut aja kamu lagi butuh seseorang dia tetep aja gapeduli sama sekitarnya.”

“Kata kak Navaro, kak Damar sayang sama aku, mungkin caranya aja beda untuk memperlihatkannya.” ucap Gadis dengan senyum nya.

Senyum Gadis membuat Sena lega, dia takut adiknya semakin trauma lagi, Gadis sedari dulu tidak mendapat kasih sayang dari ibu dan ayah nya, karena setelah melahirkan Gadis, ibunya meninggal dunia dan ayah nya mulai selingkuh, ntah memang sudah selingkuh dari lama, sena pun tidak tahu. Intinya dia hanya ingin menjaga adik perempuannya ini.

“Oiya, Nava bikinin nasi goreng kesukaan kamu.” ucap Sena sembari memberikan Nasi goreng itu kepada Gadis.

Ketika Gadis akan mengambilnya, “eh, kakak suapin ya?” tawar Sena.

“Kakak ih hahahaha, gemes banget! nanti kalau punya pacar harus yang baik ya!”

“Gamau pacaran dulu, maunya sama Gadis.”

“Kak Sena.”

“Iya? kenapa? ada yang sakit?”

Gadis tertawa kecil dan menggeleng, “ngga apa-apa, aku cuman mau bilang makasih ya? aku sangat sayang kak Sena!”

Sena pun membalasnya dengan senyuman lalu mengelus ujung kepala Gadis, “ga perlu makasih, udah seharusnya seorang kakak seperti ini.”

Dan mereka menghabiskan waktu berdua sembari berbincang-bincang dan Sena pun sembari menyuapi nasi goreng kepada Gadis.

Bel istirahat pun berbunyi Navaro, Sena, Damarion dan Rayan karena mereka tidak sekelas jadi pasti saling mengabari satu sama lain kumpul di kantin. Navaro dan Damarion mereka dikelas 12 IPS 1, kalau Rayan dan Sena dikelas 12 IPS 3.

“Nav, lo ga kabarin Gadis suruh kesini?” tanya Sena.

“Oiya, bentar.”

“Gausah di kabarin, orang nya ada tuh, lagi makan.” ucap Rayan sambil menunjuk kearah Gadis.

Damarion sibuk bermain games seperti biasa, tidak menghiraukan sekeliling nya.


Bella datang kearah meja nya Navaro dan kawan-kawan, Bella siswi tercantik katanya di SMA Garuda dan banyak yang mau masuk kedalam geng nya Bella ini, Geng nya ini berisikan 3 orang termasuk Bella, kedua teman lainnya bernama Yara dan Zeva.

“Nenek lampir kesini.” ucap Sena dengan malas.

“HAI DAMAR!” ucap Yara.

“HAI NAVA!” ucap Bella.

“HAI SENA! HAI RAYAN!” ucap Zeva.

“Maruk banget lo dua orang.” celetuk Sena ke Zeva.

“Oh jadi cuman mau lo seorang? boleh kok.” jawab Zeva dengan nada centilnya.

“IDIH GELI ANJING.”

“Kasar banget!” jawab Zeva.

“Bodo amat.”

Disaat mereka sedang adu mulut antara Zeva dan Sena, Gadis datang menghampiri meja nya Navaro.

“Kak!” panggil Gadis kepada Navaro.

Gadis pun menahan langkahnya. Karena Navaro mengisyaratkan biar dia yang menghampirinya.

“Untung kamu panggil kakak.” kata Navaro kepada Gadis.

“Emang kenapa kak?” tanya Gadis sambil mengintip sedikit ke arah meja makan kakak-kakaknya.

“Biasa ada nenek lampir. Oiya ada apa ?”

Mereka berbincang beberapa menit.


Dari kejauhan Bella pun mulai keluar hati busuknya.

“Dia siapa sih? malah Nava yang nyamperin.” bisik Bella kepada Yara.

“Nanti gue cari tau.” jawab Yara.

Damarion dan Rayan mengendarai motor, sedangkan Sena, Gadis dan Navaro memakai mobil untuk berangkat sekolah.

“Gimana udah siap satu sekolah sama kakak-kakaknya?” tanya Sena kepada Gadis.

“Belum sih, soalnya aku gak pernah satu sekolah sama kalian, dan sekarang dipindahin jadi satu sekolah, gatau sih masih aneh. Kak Sena juga tau kan aku kurang deket sama Kak Damar dan Kak Rayan.” jawab jelas Gadis kepada Sena.

Navaro hanya fokus menyetir sembari menyimak kedua saudaranya ini berbincang-bincang.

“Nanti kan kamu pasti belum ada temen, bareng kita aja, ya?” ucap Sena sambil mencubit pipi adiknya ini, “gemes dan cantik, emang cuman kamu yang bisa bikin kakak bucin sama kamu.”

“Aw, sakit kak Sena!”

Sena hanya tertawa kecil, “lemah gitu aja sakit.”

Navaro membuka suaranya, “Yang betah ya, disekolah barunya.”

Begitulah, Gadis memang sangat dekat dengan Navaro dan Sena, tapi Gadis tidak akan pernah menyerah, dia selalu berusaha mencoba mendekatkan dirinya kepada Damarion dan Rayan.

“GADIS, KELUAR DARI KAMAR KAMU SEKARANG!” teriak papanya dari lantai bawah.

Rumah nya ini sudah seperti kapal pecah, semua gelas dipecahkan oleh ayah nya.

“ANAK SIALAN KELUAR KAMU!”

“Kak Nava, kak Sena dimana, ga-gadis takut.” ucap Gadis pelan sembari terhisak menangis.

Gadis pun memberanikan diri untuk keluar kamar, lalu menemui ayah nya.

“Pa-papa..”

“Keluar juga kamu!” ucap ayahnya sembari menjenggut rambut Gadis.

“Saya bilang jangan chat saya! kenapa kamu masih chat saya segala? istri saya marah, melihat saya masih berkomunikasi dengan kamu!” sentak Papa nya Gadis.

Gadis meringis kesakitan, “pah sakit tolong lepasin dulu tangannya dari rambut Gadis pah..”

Papanya semakin menjadi-jadi, dia tidak peduli anaknya sama sekali, semakin disiksa.

“PAH SAKIT PAHHHH....” teriak Gadis.

Lalu dari luar motor Damar terdengar, Damar segera masuk kedalam rumah, dan benar saja, seisi rumah sudah seperti kapal pecah.

“Gadis!” teriak Damarion.

Papa nya langsung berhenti setelah melihat Damar.

“Eh ada anak papa, baru pulang?” sambut Papa nya dengan senyum sumringah.

Gadis masih menangis.

“Gila, gue punya papa gila.” celetuk Damarion.

“Apa kamu bilang?”

“Perlakuan papa ke kita sama ke Gadis beda pa, padahal dia anak papa juga!” sentak Damar.

“Papa baru tau punya anak namanya Gadis.” jawab nya.

“Ngapain papa kesini? bukannya udah enak sama istri baru nya?” tanya Damarion.

“Kan mau ketemu sama anak-anak lelaki papa.”

“Gua gapernah punya seorang ayah yang gila kayak lo.” jawab Damarion.

“Damar!” sentak Papa nya.

“Biarin, pah. Lebih berdosa mana seorang ayah yang sering pukulin anak perempuannya atau seorang anak yang meneriaki ayahnya supaya sadar, kalau yang di siksa itu anak nya sendiri!” jawab jelas Damarion.

“Lihat? kamu jadi melawan papa, gara-gara anak sialan itu!”

“Gladis namanya, bukan anak sialan.” sanggah Damar.

“Ah, terserah. Papa pusing, papa mau pulang dulu kerumah istri papa.”

“Sana, gausah izin.” jawab Damarion.

Ayah nya pun langsung keluar rumah dengan menggebrakan pintu rumah.

“Sinting.” celetuk Damarion.


Gadis yang sedari tadi menutupi wajah nya dengan tangan sedang duduk dipojokan. Damarion pun menghampiri Gadis adik nya ini.

“Gadis?”

“Lo gapapa?”

“Gapapa, kak.”

“Lo gapapa?”

“Gapapa.”

Tanpa aba-aba, Damar pun memeluk adiknya ini. Dan benteng pertahanan Gadis agar tidak terlalu menangis itupun runtuh, Gadis menangis sejadi-jadinya.

“Gapapa, nangisin aja. Ada gue, lo aman.” ucap Damar sambil mengelus rambut Gadis.

“K-kak, maaf. Gadis pembawa sial ya buat keluarga ini?”

“Siapa bilang?” jawab Damarion.

“Buktinya kakak aja, gasuka sama aku, ga sayang sama aku.”

“Gue sayang sama lo, Dis.”

Akhirnya, Gadis di gendong oleh Damar ke kamarnya.

“Tidurin aja ya? istirahat.” ucap Damar sembari menyelimuti Gadis, ketika Damar beranjak keluar, tiba-tiba tangan Gadis menahan tangan Damar, “disini dulu kak, sampe aku tidur.”

Damar menuruti kemauan Gadis, ia duduk kembali dipinggir kasur adiknya.

Setelah beberapa menit, Gadis mulai tertidur lelap, dan Damar berbisik, “kakak sayang kamu, Gadis.” sembari mengecup kening adik nya ini, lalu beranjak dan pergi dari kamar Gadis.

Sudah masuk bulan ke 6 dimana aku ditinggalkan oleh Razel dan Javas. Sebentar lagi aku sudah mau kelulusan sekolah. Masa SMA ku ditemani bersama Amanda, Felli, Gema, Deon, Leon dan Gian. Mereka sangat menjaga ku. Aku mulai ikhlas untuk kepergian Javas. Dan aku selalu menunggu Razel kembali, aku yakin dia akan sembuh. Kalau ditanya apa aku baik-baik saja, tentu tidak. Bagaimana rasanya ditinggal orang yang kalian sayang, di waktu bersamaan, sangat sulit bukan? menurutku sangat sulit. Dimana aku harus terbiasa tanpa kerandom-an nya Razel, dan Kepeduliaannya Javas. Sungguh aku rindu mereka. Mereka teman sejati yang dipisahkan oleh maut. Terimakasih, Razel dan Javas berkat kalian aku mempunyai orang-orang yang begitu sayang kepadaku, dan aku akan selalu menunggu, Riel ku, alias Razel Gevariel. Dan untuk Javas, terimakasih telah menjaga ku di masa lalu.

Setelah menonton video dari Razel dan membaca surat dari Javas, Binar pun histeris menangis.

“Ngga mungkin, apa-apaan ini mereka nge-prank aku kan?” tanya Binar.

“Javas ngga meninggal kan?? kak Abi jawab, Felli, Amanda tolong jawab gue!”

“RAZEL JUGA KEMANA GEMA??? RAZEL SAKIT APAAA??”

Abizar segera menghampiri Binar, dan memeluknya, “tenang, sayang, tenang.”

Binar memberontak, semakin menjadi-jadi ia menangis.

“KALIAN JANGAN NGUMPETIN MEREKA PLEASE, AKU MOHON RAZEL, JAVAS TOLONG MUNCUL..” ucap Binar sembari menangis.

“Javas masih hidup kan...”

“Razel juga ngga sakit kan...”

“Ngga mungkin, ini pasti mimpi..”

Amanda dan Felli menenangkan Binar, yang terus menerus menangis.

“Binar, jangan kayak gini ya? nanti Javas liat kamu diatas nya ikut sedih.” ucap Amanda.

“Razel juga dia lagi berusaha buat sembuh, tunggu dia ya, Nar?” sambung Felli.

Dan pada saat ini, Binar merasakan kehilangan dua orang yang ia sayangi.

Hai, Binar cantik. Maaf untuk kemarin, aku tidak membalas pesan mu ya? sekali lagi maaf, katanya kamu ingin bertemu dengan orang yang jaga kamu, ya? Nar, itu aku orang nya. Aku kenal kamu sebelum Razel kenal kamu, kamu ingat waktu kecil kamu pernah main di panti asuhan kencana? kamu pernah memanggilku dengan panggilan, Javi. Pada saat itu kamu ingin pulang tapi kamu malah nyasar, dan disana itu aku yang bantu kamu. Dan Razel datang keesokannya setelah kita bertemu. Nar, mungkin kamu baca ini setelah aku udah gaada. Aku pergi menghilang dari kalian bahkan dari Razel juga karena aku telah menyusun rencana dan aku tau, aku gaakan bisa lama untuk bersama kamu, Razel yang pantas bersama kamu, Nar.

Binar, kalau kamu ingin tahu kenapa aku mendekati mu waktu itu, aku ingin melihat pergerakan Razel, dia selalu ragu. Apakah kamu Binar nya atau bukan. Makanya aku sengaja mengawali untuk mendekatimu, tapi ternyata perasaan ku padamu, benar-benar nyata. Dan pada saat itu, aku pernah ingin mengajakmu jalan berdua, Nar. Tapi memang kita ga pernah disetujui untuk jalan berdua, Ga apa-apa yang penting sekarang, kamu bisa baca isi surat ini, bahwa aku sayang kamu, Binar Andara.

Nar, aku dan Razel sudah menyuruh, Gema, Leon, Deon dan Gian, untuk menjaga mu, bukan hanya untuk menjaga mu tapi menjadi sahabat mu juga. Oiya sampaikan salamku juga kepada Amanda dan Felli ya. Nar kalau sekarang Razel gaada disamping kamu, Razel lagi butuh perawatan dulu ya, kamu jangan khawatir, dia pasti kembali.

Binar Andara, mungkin cukup sekian suratku ini, semoga menjawab pertanyaan-pertanyaan mu ya. Binar, aku suka kamu, sungguh. Terimakasih pernah hadir walaupun tidak pernah singgah.

Tertanda, Javas Aland

Pada hari kematian Javas, keadaan tubuh Razel pun semakin menurun, dia semakin lemah, pucat dan mimisan nya lebih parah dari sebelumnya.

Binar, saat itu langsung dibawa oleh Abizar, terlihat banyak luka, Binar pun dilarikan ke rumah sakit. Dan dirawat inap selama satu hari.


Pukul 07.00 pagi, Binar sudah bangun, dan melihat sekeliling banyak yang menjenguk dirinya, ada Gema, Leon, Deon dan Gian.

“Razel kemana?” tanya Binar

Mereka diam.

“Javas kemana? kok kalian cuman berempat?” tanya nya lagi.

Gema pun memberikan USB atau flash disk, “ini titipan dari Razel.”

Leon pun memberikan secarik surat, “ini dari bang Javas.”

Hari ini Razel, Gema dan Deon bersiap-siap berangkat ke markas Dark Blood. Leon dan Gian memantau dari kamera kecil yang terletak di jaketnya Deon.

“Siap semuanya?” tanya Razel.

“Aman.” jawab Gema.

“Sorry, gue melibatkan kalian.” ucap Razel sembari kepalanya menunduk.

“Gapapa, ini gunanya sahabat kan.” jawab Deon.

“Betul setuju!” ucap bersamaan Leon, Gema dan Gian.

Setelah bersiap mereka mempersiapkan pistol dan pisau lalu mereka berangkat menaiki motornya masing-masing.

Perjalanan sudah setengah jam mereka sampai di markas Dark Blood, yang masuk hanya Razel. Gema dan Deon berjaga diluar markas Dark Blood.

Suara tepuk tangan mulai terdengar.

“Siapa?” teriak Razel.

“Hallo, Razel Gevariel.” jawab lelaki itu, dengan senyum sumringah nya.

“kak Arzan?”

“Iya, gimana kabar lo?”

“Anjing, jadi semua ini ulah kakak?”

Arzan mengangguk, “kaget?” sembari tertawa.

“Dimana, Javas?”

“Keluarin, Javas.” teriak kencang Arzan.

Lalu segerombolan preman mengeluarkan Javas yang sedang di bekap dan juga ada Binar dengan posisi di bekap juga.

“Binar?” tanya Razel.

Binar menangis dan mengangguk.

“BUKA SEMUA LAKBAN NYA BIAR MEREKA NGOMONG!” perintah Arzan kepada preman itu.

Lakban yang ada dimulut Javas pun dibuka begitupun dengan Binar.

“Kak Arzan kenapa tega, nyulik Binar? padahal dulu aku suka sama kakak, kakak baik, kakak perhatian ke Binar dari kecil.” ucap Binar sembari menangis.

“Itu salah lo, udah kenal Razel.” jawabnya.

“Ada apa sama Razel kak?”

“Razel anak panti asuhan kencana. Gara-gara lahirin lo, nyokap gue meninggal, bokap gue gila karena nyokap udah gaada.”

“Maksud lo? gue adik lo?”

“Gasudi gue anggap lo adik.”

“Kenapa lo harus nyangkutin urusan kita sama Javas dan Binar kak.”

“Ini kan orang yang lo sayang. Sama hal nya gue mau lo ngerasain, derita gue yang gue alamin dulu, gue seneng lo dibuang tapi waktu gue tau lo di adopsi sama orang kaya, disitu puncak gue marah. Dan hasilnya sekarang beberapa orang terdekat lo kena imbasnya. Lo pembawa sial Razel.” ucap jelas Arzan dengan nada yang sedikit menyentak.

Flashback Razel bertemu Arzan pada saat Razel sedang mengantar Gian berenang, dan dia melihat Arzan yang sedari tadi melihat dia, makanya pada saat itu Razel mengajak Arzan berkenalan.

“Jadi waktu pertama kenal gue sama lo? waktu itu?”

“Iya, gue selalu ngikutin kemana lo pergi. Dan pada saat itu gue kira yang gue tusuk adik lo, karena waktu pertama kenal lo bareng dia.”

“Gila lo kak. Gue gini-gini juga tetep adik kandung lo.”


Arzan dan Razel yang sedang beradu argumen, Javas dan Binar sedang mencari cara agar terlepas dari tali yang mengikat mereka.

“Nar udah bisa?” kata Javas.

Binar mengangguk.


Tiba-tiba Abizar datang dari belakang pintu markas Dark Blood.

Binar melirik kebelakang dan melihat kak Abi yang sedang mengkode “diem ya.”

“Kak tolong lepasin mereka.” ucap Razel.

“Lo harus mati dulu tapi, deal?” jawab Arzan dengan enteng nya.

“Brengsek!” teriak Abizar dan memukul Arzan dari belakang memakai kayu. Dan Arzan mengeluarkan pistol dan langsung menembak ke arah Razel.

“RAZEL AWAS!!!” teriak Javas sambil berlari ke arah Razel.

“JAVASSSSSSSS!!!” teriak Binar yang melihat yang terkenan tembakan adalah Javas.

Suara mobil polisi mulai terdengar, para preman yang sudah dihabisi Abizar kini sudah ditangkap begitupun Arzan.


Kini Javas sedang dibawa ke rumah sakit.

“Jav, tolong lo harus kuat.” ucap Razel sembari menangis, dia benar-benar tidak bisa membayangkan jika Javas meninggal.

“R-razel.. lo juga hh-harus se-sembuh ya.” jawab Javas terbata-bata.

“Lo tau?”

Javas mengangguk sembari tersenyum, “gu-gue tau da-dari dokter Aaa-arif beliau om gg-gue, beliau p-pasti ba-bantu lo, gu-gue udah minta pe-pelayanan ter..baik bu-buat lo se-sembuh.”

“Javas inget kan janji lo sama gue apa? kita bakal bareng-bareng terus sampai dua-duanya punya mempelai wanita.” ucap jelas Razel.

“Gu-gue ga-gakuat, Zel. Tolong jaga Binar ju-juga ya, to-tolong sampein pe-permintaan maaf gu-gue ke yang lain. Ma-makasih lo u-udah selalu ada buat, gue, Razel Gevariel.” jawab Javas.


Pukul 20.00 malam, Javas telah menghebuskan nafas terakhirnya.

Setelah mereka jalan-jalan dan makan bersama, akhirnya Razel memutuskan untuk mengajak ke tempat yang sering mereka datangi yaitu tempat rahasianya Razel.

“Kesini lagi?”

Razel mengangguk.

“Sini duduk, deket aku.”

“pake aku lagi, aku bingung sama kamu, Zel.” batin Binar

Razel pun menyadarkan Binar yang sedari tadi melamun, “Binar.”

“Eh iya.”

Binar pun duduk dan mereka ngobrol seperti biasa, sposess berdua, setelah itu, Razel mengatakan sesuatu yang buat Binar kaget.

“Nar, aku suka sama kamu.”

“Hah?”

“Aku suka sama kamu, Binar. Tapi aku gapantes buat kamu, aku lemah sebenernya, Nar. Razel yang kamu anggap dingin, cuek. Tubuh nya udah mulai melemah. Tapi tenang ya? Aku bakal selesain semuanya, biar kamu, Ina dan teman-teman aku aman.” ucap jelas Razel.

“Kamu gaakan pergi kan?”

“Aku ga—”

Dipotong oleh Binar,“Binar juga suka sama Razel.”

Mata Razel mulai memerah, kini Binar kecilnya sudah dewasa sudah bisa mengatakan suka, lalu Razel mengelus rambut Binar, gagal sudah pertahanan air yang ditahan di mata Razel kini keluar.

“Kok nangis, Zel?” tanya Binar.

Razel menggeleng, “gapapa, maafin aku ya intinya, kamu harus jaga diri baik-baik selagi aku masih ngurus sesuatu yang belum selesai.” jawab Razel.

Razel memberikan kalung bertuliskan binar dan langsung memakai kannya.

“Ini pake terus ya, jangan sampai hilang. Mau itu aku gak sama kamu atau nanti aku sama kamu, harus tetep dipake, aku sengaja beli nya yang bertuliskan binar jika nanti nya kamu ga sama aku, kamu masih bisa pake itu kalung.” ucap Razel.

“Apaan sih Zel!”

Razel pun memeluk Binar erat, “aku sayang sama kamu, Nar.” ucap Razel sembari mencium kening Binar lalu turun kebawah dan mengecup bibir nya Binar.

“I love you, Binar Andara.” ucap Razel.

Binar kaget, karena ini adalah first kiss nya Binar.

“I love you, too, Razel.” jawab Binar.

Dan setelah itu mereka menghabiskan waktu mereka hingga malam hari.