Hari ini Razel, Gema dan Deon bersiap-siap berangkat ke markas Dark Blood. Leon dan Gian memantau dari kamera kecil yang terletak di jaketnya Deon.
“Siap semuanya?” tanya Razel.
“Aman.” jawab Gema.
“Sorry, gue melibatkan kalian.” ucap Razel sembari kepalanya menunduk.
“Gapapa, ini gunanya sahabat kan.” jawab Deon.
“Betul setuju!” ucap bersamaan Leon, Gema dan Gian.
Setelah bersiap mereka mempersiapkan pistol dan pisau lalu mereka berangkat menaiki motornya masing-masing.
Perjalanan sudah setengah jam mereka sampai di markas Dark Blood, yang masuk hanya Razel. Gema dan Deon berjaga diluar markas Dark Blood.
Suara tepuk tangan mulai terdengar.
“Siapa?” teriak Razel.
“Hallo, Razel Gevariel.” jawab lelaki itu, dengan senyum sumringah nya.
“kak Arzan?”
“Iya, gimana kabar lo?”
“Anjing, jadi semua ini ulah kakak?”
Arzan mengangguk, “kaget?” sembari tertawa.
“Dimana, Javas?”
“Keluarin, Javas.” teriak kencang Arzan.
Lalu segerombolan preman mengeluarkan Javas yang sedang di bekap dan juga ada Binar dengan posisi di bekap juga.
“Binar?” tanya Razel.
Binar menangis dan mengangguk.
“BUKA SEMUA LAKBAN NYA BIAR MEREKA NGOMONG!” perintah Arzan kepada preman itu.
Lakban yang ada dimulut Javas pun dibuka begitupun dengan Binar.
“Kak Arzan kenapa tega, nyulik Binar? padahal dulu aku suka sama kakak, kakak baik, kakak perhatian ke Binar dari kecil.” ucap Binar sembari menangis.
“Itu salah lo, udah kenal Razel.” jawabnya.
“Ada apa sama Razel kak?”
“Razel anak panti asuhan kencana. Gara-gara lahirin lo, nyokap gue meninggal, bokap gue gila karena nyokap udah gaada.”
“Maksud lo? gue adik lo?”
“Gasudi gue anggap lo adik.”
“Kenapa lo harus nyangkutin urusan kita sama Javas dan Binar kak.”
“Ini kan orang yang lo sayang. Sama hal nya gue mau lo ngerasain, derita gue yang gue alamin dulu, gue seneng lo dibuang tapi waktu gue tau lo di adopsi sama orang kaya, disitu puncak gue marah. Dan hasilnya sekarang beberapa orang terdekat lo kena imbasnya. Lo pembawa sial Razel.” ucap jelas Arzan dengan nada yang sedikit menyentak.
Flashback Razel bertemu Arzan pada saat Razel sedang mengantar Gian berenang, dan dia melihat Arzan yang sedari tadi melihat dia, makanya pada saat itu Razel mengajak Arzan berkenalan.
“Jadi waktu pertama kenal gue sama lo? waktu itu?”
“Iya, gue selalu ngikutin kemana lo pergi. Dan pada saat itu gue kira yang gue tusuk adik lo, karena waktu pertama kenal lo bareng dia.”
“Gila lo kak. Gue gini-gini juga tetep adik kandung lo.”
Arzan dan Razel yang sedang beradu argumen, Javas dan Binar sedang mencari cara agar terlepas dari tali yang mengikat mereka.
“Nar udah bisa?” kata Javas.
Binar mengangguk.
Tiba-tiba Abizar datang dari belakang pintu markas Dark Blood.
Binar melirik kebelakang dan melihat kak Abi yang sedang mengkode “diem ya.”
“Kak tolong lepasin mereka.” ucap Razel.
“Lo harus mati dulu tapi, deal?” jawab Arzan dengan enteng nya.
“Brengsek!” teriak Abizar dan memukul Arzan dari belakang memakai kayu. Dan Arzan mengeluarkan pistol dan langsung menembak ke arah Razel.
“RAZEL AWAS!!!” teriak Javas sambil berlari ke arah Razel.
“JAVASSSSSSSS!!!” teriak Binar yang melihat yang terkenan tembakan adalah Javas.
Suara mobil polisi mulai terdengar, para preman yang sudah dihabisi Abizar kini sudah ditangkap begitupun Arzan.
Kini Javas sedang dibawa ke rumah sakit.
“Jav, tolong lo harus kuat.” ucap Razel sembari menangis, dia benar-benar tidak bisa membayangkan jika Javas meninggal.
“R-razel.. lo juga hh-harus se-sembuh ya.” jawab Javas terbata-bata.
“Lo tau?”
Javas mengangguk sembari tersenyum, “gu-gue tau da-dari dokter Aaa-arif beliau om gg-gue, beliau p-pasti ba-bantu lo, gu-gue udah minta pe-pelayanan ter..baik bu-buat lo se-sembuh.”
“Javas inget kan janji lo sama gue apa? kita bakal bareng-bareng terus sampai dua-duanya punya mempelai wanita.” ucap jelas Razel.
“Gu-gue ga-gakuat, Zel. Tolong jaga Binar ju-juga ya, to-tolong sampein pe-permintaan maaf gu-gue ke yang lain. Ma-makasih lo u-udah selalu ada buat, gue, Razel Gevariel.” jawab Javas.
Pukul 20.00 malam, Javas telah menghebuskan nafas terakhirnya.