108
Setelah setengah jam Gadis sampai di rumah sakit Sentosa lalu menuju keruangan Damarion.
“K-kakak?” ucap Gadis terbata yang masih berada di dekat pintu ruangan.
Lalu, Gadis mendekat ke tempat tidur Damarion yang sedang berbaring.
“Gadis, maafin kakak.” ucap Navaro.
“Kakak, kenapa gabilang?” jawab Gadis dengan nada tinggi.
“Maaf.”
Gadis menangis, melihat kakak nya yang sekarang sedang tertidur, dia tidak pernah melihat Damarion sakit apalagi sampai menginjakan kaki ke rumah sakit, Damarion memang sekuat itu.
“K-kak Damar ayo bangun.” ucap Gadis sambil memegang tangan Damar.
Mereka menunggu Damarion sudah hampir 2 jam, Damar masih belum siuman dari pingsan nya.
“Gadis, pulang dulu ya? nanti kesini lagi, aku temenin.” ucap Sena.
Gadis menggeleng, “gak mau.”
Sena melirik Navaro dan Nava mengisyaratkan kepada Sena menyuruh Gadis disini dulu saja. Sena menuruti Navaro, dia tidak jadi mengajak Gadis pulang.
“Ga-gadis..” ucap Damarion yang mulai bangun dari pingsannya.
Gadis terbangun mendengar suara Damar ia segera menghampiri Damar.
“Gadis disini kak.”
Rayan, Sena dan Navaro pun menghampiri Damarion.
Damarion bangun dan memeluk Gadis, “aku sayang kamu, Dis.” sembari mengelus punggung Gadis, “jangan kemana-mana.”
Gadis hanya bisa diam, dia benar-benar ingin menangis sekarang, melihat Damar yang tidak seperti biasanya.
“Kak, k-kenapa?”
Lalu tiba-tiba ada yang membuka pintu dengan kencang semua melihat ke sumber suara dan orang itu adalah ayah mereka, Arya Brady.
“Damar, kamu tidak apa-apa?” datang menghampiri Damar lalu mendorong Gadis yang sedang berdekatan dengan Damar.
“PAPA!” jawab Damar.
“Kok kamu nyentak papa?”
“Jangan ganggu, Gadis.”
“Loh, bukan nya kamu pun tidak peduli dengan Gadis?”
“Jaga ucapan papa, kalau papa cuman mau ngajak debat sama Damar, mending papa keluar!”
“Lihat, gara-gara anak sialan itu kalian durhaka sama papa.”
“Jaga ucapan lo, Arya.” celetuk Rayan.
“Gadis bukan anak sialan.” sambung Rayan.
“Rayan! biasanya kamu tidak membantah papa!”
“Ga sudi, gue punya papa kayak lo.”
“Mending anda keluar sekarang.” ucap Navaro kepada Ayahnya.
Ayahnya masih diam.
“Keluar atau saya bisa ngelakuin hal kasar kepada anda.” sambung Navaro.
Ayah nya mengalah lalu dia keluar, namun sebelum ayah nya keluar dari ruangan Damarion. Sena agak menyentak.
“Gausah ganggu hidup kita lagi pah, kita masing-masing udah punya empat rumah. Kita udah saling melengkapi. Kalau papa disini buat ngehancurin satu rumah berarti papah ngehancurin rumah yang lainnya. Yang artinya kita berempat gaakan tinggal diam, kalau papa nyentuh Gadis atau sampai nyelakain Gadis.” tutur jelas Sena.