jenayspace

Setelah menerima imess dari Jeziel, Maudy segera melihat ke belakang, kini tatapan Maudy fokus kepada Jeziel, “ganteng.” ucap nya tanpa sadar.

“Iya, gue tau, gue ganteng.”

Maudy pun segera menutup mulutnya lalu memejamkan matanya sebentar, “bego!”

“Lo Maudy kan?”

Maudy mengangguk, “mau apa? lo mau labrak gue?”

“Sini hp lo.”

“Lo mau maling?”

“Siniin.”

“Ngga.”

“Siniin, Maudy.”

“Lo apaan sih, ngatur-ngatur gue. Mana mau minjem hp gue lagi.”

Jeziel hanya menatap Maudy dengan tatapan dingin, ia sama sekali tidak memalingkan wajahnya, ia terus menatap wanita itu.

“Oke-oke, gue kasih hp gue.” pasrah Maudy sembari memberikan hp nya kepada Jeziel.

Setelah Jeziel menerima hp dari Maudy ia mengutak-ngatik hp Maudy sebentar, lalu mengembalikan nya lagi, setelah itu Jeziel pergi meninggalkan Maudy.

“Lah? Ga jelas?” ucap Maudy.

Setelah latihan fisik selesai, Genta segera menuju loker nya untuk mengambil kacamata renang nya yang sudah diantarkan oleh Maudy.

“Loh? kok gaada sih, kacamatanya.” ucap pelan Magenta.

Tiba-tiba ada laki-laki yang berteriak keras, “INI KACAMATA PUNYA SIAPA?”

Genta tersontak kaget yang berteriak itu Jeziel dan yang dipegang oleh Jeziel adalah kacamata renang nya. Genta pun menghampiri Jeziel.

“K-kak, maaf itu punya saya.” ucap Genta sembari menunduk takut.

Jeziel pun menurunkan tangan nya lalu memberikan kacamata renang kepada Genta, “nih, punya kamu? kok bisa ada di loker kakak?”

“A-anu, kayaknya kakak saya salah buka loker kak, soalnya saya minta tolong ke kakak saya buat masukin ke loker saya, karena kacamata renang saya barusan tertinggal dirumah.” jawab Genta dengan gemetar ketakutan.

“Kamu Genta kan? Yang semalem duduk bareng kakak?”

Genta mendongak lalu mengangguk, “i-iya kak.”

“Boleh minta imess atau nomor kakak kamu?”

Genta segera memberi nomor Maudy kepada Jeziel, “namanya Maudy kak.”

Jeziel tersenyum lalu mengelus kepala Genta, “makasih ya, gih latihan dulu, udah ditunggu pelatih tuh.”

Genta pun menunggu Maudy di depan tempat latihan nya. Lalu, tiba-tiba ada yang menepuk pundak nya.

“Hei, nunggu siapa?”

Genta pun kaget, lalu menoleh kebelakang, “Eh, kak..” jawab Genta agak canggung.

“Panggil aja El atau Ziel.” jawab Jeziel.

“Iya, kak Ziel.”

“Nama kamu siapa?”

“Magenta, tapi sering dipanggil nya Genta.”

Jeziel mengangguk, “lagi nunggu siapa? kok belum pulang?”

“Kak Modi, eh maksud aku kakak aku.”

“Duduk disana yu?” ajak Jeziel kepada Genta.

Genta mengikuti Jeziel lalu duduk disebelahnya, sebenarnya dia canggung karena Jeziel ini senior nya dan baru pertama kali bertemu, karena Jeziel baru pindah hari ini, Jeziel juga atlet yang memang sudah ada “nama” maka dari itu banyak yang segan kepadanya termasuk Genta.

“Genta.” panggil Jeziel.

Genta menoleh, “i-iya kak?”

“Jangan gugup gitu,” ucap Jeziel sembari menepuk pundak nya Genta, “kamu ini atlet atau—”

Dipotong oleh Genta, “bukan atlet kak, aku latihan cuman buat jaga kesehatan aja, soalnya aku punya asma.”

Jeziel menganggukan kepala, “gaya berenang mu bagus, kalau diseriusin jadi atlet, bisa kok.”

Genta sedikit tersenyum, “ah, ngga kak. Dibanding sama kakak pasti beda jauh.”

“Kakak juga, gatau mau lanjut atau ngga sih.” jawab singkat dari Jeziel.

Sedangkan disebrang sana sudah ada yang memanggil Genta.

“GENTA!!” teriak Maudy.

“Eh kak Ziel, kakak ku itu udah manggil,” ucap Genta sembari menunjuk Maudy, “aku pamit pulang duluan ya kak, makasih udah nemenin.” Genta berdiri lalu mengulurkan tangan untuk salam kepada Jeziel.

Jeziel yang kaget, “gausah, gapapa. Itu langsung pulang aja, hati-hati ya.”

Genta mengangguk, lalu pergi meninggalkan Jeziel.

“Sopan, anak nya.” ucap dalam hati Jeziel sembari tersenyum tipis.


Setelah Genta masuk kedalam mobil, ia langsung bercerita tentang pembicaraan dia dengan Jeziel.

“Kak, kak, kak Modi!!”

“Hmm?”

“Tadi aku habis ngobrol sama atlet yang terkenal!”

“Siapa?”

“Kak Jeziel!! Dia panutan aku banget sih, makanya tadi aku canggung banget duduk dan ngobrol bareng dia.”

“Terus katanya dia bilang aku bisa di seriusin di atlet, menurut kakak gimana?”

“Magenta, kamu lupa? kakak nyuruh kamu buat latihan renang, supaya kamu sembuh.”

“I-iya kak, maaf.” jawab Genta sembari menunduk.

Maudy pun akhirnya sampai dirumah, untuk menjemput adik nya yaitu Genta untuk latihan renang.

Karena suara mobil Maudy sudah terdengar, Genta berlari menuju gerbang rumah lalu membukanya dan masuk kedalam mobil Maudy.

“Genta, tutup dulu itu gerbangnya!”

“Ohiya,” Genta keluar kembali dari mobil lalu menutup gerbang rumah, dan masuk kembali ke mobil.

Maudy menyalakan mobilnya lalu melanjutkan perjalanan nya ke tempat latihan Genta.

“Bawa minum?”

Genta mengangguk.

“Minum dulu, kamu ngos-ngosan gitu.”

Genta hanya menyengir, lalu membuka botol minum nya dan segera meminumnya.

“Buset, aus pak?”

“Hehehe, kak Modi, nanti jemput lagi boleh?”

“Boleh, asal bensin.”

“Kak, aku belum kerja.” jawab Genta sembari memajukan mulutnya.

“Hahaha, bercanda, adik ku.”

Setelah menempuh waktu setengah jam diperjalanan, akhirnya Maudy dan Genta pun sampai di tempat.

“Genta, kalau cape jangan dipaksain, inget kan? kamu bukan fokus buat atlet, buat kesehatan kamu fokusnya.” ucap Maudy kepada Genta, sebelum Genta keluar dari mobil.

“SIAP!” jawab semangat dari Genta.

“Yaudah, gih. Semangat ya!”

Genta tersenyum, lalu keluar dari mobil dan menutup pintunya.

Genta melambaikan tangan, “dadah, kak Modi.”

Kini Sena sedang duduk di meja belajar nya, lalu ada yang mengetuk pintu dan membuka pintu tersebut.

“Gadis?”

“Kamu beneran Gadis?”

Gadis mendekati dan tersenyum, “kak, Gadis udah bahagia diatas sana. Tapi, Gadis sedih, liat kak Sena selalu sakit-sakitan sekarang, udah jarang ngurus diri juga.”

“Gadis, kakak kangen sama kamu.”

“Kak, Tuhan udah takdirin Gadis buat singgah sebentar dikehidupan kalian, kayaknya tugas Gadis udah selesai, makanya Gadis dibawa kembali sama Tuhan.”

“Kak.. kalian tuh udah sepaket berempat, gaakan ada yang bisa misahin kalian lagi, jadi haru saling jaga ya?”

“Kak.. kalian itu 4 rumah, walaupun aku udah gaada, tetep kalian itu 4 rumah, gaada bedanya.”

“Kak, aku harus pamit lagi, sekali lagi jaga kesehatan kakak, harus bahagia terus ya! Gadis sayang kak Sena!”

Ketika Sena akan mengejar Gadis, Sena terjatuh dari tempat tidurnya. Betul sekali, Sena hanya mimpi bertemu Gadis.

Setelah satu tahun berlalu dari kepergian Gadis, kini Nava, Rayan dan Damar sudah memiliki pasangan masing-masing, kecuali Sena, dia semakin dingin kepada wanita yang mendekati nya.

Kini mereka berempat akan ke makam Gadis dan membawa pasangan nya.

“Hai, Gadis.” ucap Nava.

“Disini kita mau ngenalin ke kamu, kita bawa kakak ipar buat kamu.”

“Pasti kamu seneng ya?”

“Tapi, Dis. Sena masih jomblo nih.” celetuk Rayan.

Sena hanya bisa menanggapi celetukan saudara nya dengan diam, dia hanya bisa mengelus batu nisan yang bertuliskan nama “Gladisya Ruby”.

“Kakak kan pernah bilang sama Gadis, kakak gaakan dulu cari pacar.” ucap Sena.

“Gadis, sekarang Sena udah baikan kok kondisinya, gausah khawatir ya.” ucap Damarion.

Sena berdiri lalu tiba-tiba memeluk ketiga saudaranya, “janji ya lo semua? jangan ninggalin satu sama lain, lagi.”

Mereka membalas pelukan Sena, dan ketiga wanita dari Nava, Rayan dan Damarion ikut menangis karena terharu.

Gua sekarang lagi ngurus Sena, dia benar-benar drop setelah Gadis meninggal. Dia udah jarang makan, jarang ngurus diri. Dan gue selalu yang ngurus dia, gue gamau liat saudara gue kacau seperti ini, gue sedih, jujur gue masih sedih kehilangan Gadis, tapi coba lo bayangin, kalau semua kacau, apa rumah ini akan hidup kembali? jelas ngga kan, sedangkan Gadis pingin lihat kita bahagia.

Kini Rayan dan Damarion membantu gua untuk mengurus Sena. Gua sangat tau, Sena sangat terpukul karena memang sejak kecil Sena yang mengurus Gadis. Sehingga pada waktu kemarin, Sena sempat tidak bisa mengontrol dirinya.

“Gua ke kamar Gadis dulu, mau ngajak main.” ucap Sena.

“SENA SADAR!”

“Gua sadar, minggir, Gadis udah nunggu.”

“SENA GADIS UDAH MENINGGAL!”

Gua teriak pada waktu itu, bukan gua ga kasian sama Sena, tapi gua mau dia sadar, kalau Gadis udah gaada.

Kehidupan mereka sama seperti biasanya namun sekarang tanpa Gadis.

“Sen, makan.” suruh Nava.

“Nanti aja.”

“Lo udah jarang makan, lo mau liat Gadis sedih diatas sana?”

“Kenapa ga gua aja sih yang mati nav?”

“Kenapa?”

“Kenapa Tuhan selalu ambil orang yang gua sayang.”

“Udah seminggu gua coba nahan supaya gua ga terlalu nangis, gua udah coba nahan diri di pemakaman Gadis, susah, Nav, susah.”

Nava pun merasa kasihan melihat Sena, jujur semenjak pemakaman Gadis. Rayan, Nava, Damarion dan Sena sudah jarang berinteraksi, rumah nya benar-benar sudah mati, tidak ada kehidupan, hanya ada orang yang lalu-lalang saja.


Tiba-tiba ada yang mengetuk pintu. Lalu Navaro membukanya.

“Aslan?”

“K-kak, g-gadis..”

Aslan lalu berlutut didepan Navaro, “gue k-kesini mau ngasih i-ini ke kalian. Waktu i-itu gue pernah kesini seminggu sebelum Gadis m-meninggal dan s-sehari sebelum kalian main. G-gadis nitipin ini kak, buat kalian.”

Aslan pun memberikan surat, lalu Navaro, mengambil nya.

“Masuk dulu?”

Aslan menggeleng, “gue mau ke makam Gadis kak.”

Navaro segera memeluk Aslan lalu menepuk-nepuk punggung Aslan, “Gadis udah ga sakit lagi, kita harus ikhlas ya.” lalu nava melepaskan pelukannya dan tersenyum kepada Aslan.

Akhirnya setelah mereka bermain dari pagi hingga sore, mereka pun beristirahat sembari duduk menunggu terbenam nya matahari.

“Dis.” panggil Nava.

“Gimana? seneng ga?” sambung nya.

Gadis mengangguk semangat, “seneng kak! makasih yaaa!!”

Sena melihat senyum adik nya ini sangat tenang, tidak terbayang jika Gadis diambil oleh Tuhan, Sena sepertinya akan benar-benar sedih. Gadis adalah cinta pertama nya, setelah mama nya pergi, hanya Gadis yang ia jaga.

“Nanti kita ke pantai ya?” ajak Damarion.

“SETUJU!!” jawab Rayan.

Sena hanya mengangguk.

“Atur aja, waktunya.” jawab Nava.

“Gadis? gimana?” tanya Damarion.

Gadis hanya tersenyum dan mengangguk, “ayo kak!”

Gadis melihat keempat kakak nya ini, sangat tampan dan sangat baik, dia selalu berdoa kepada Tuhan agar mereka dipertemukan dengan wanita yang tepat.

“Kak.”

Keempat kakak nya menoleh.

“Tiduran yu? sambil liat langit menuju malam!”

Kelima anak ini semua terbaring di rerumputan, melihat ke langit yang menuju gelap.

“Sejuk ya?” celetuk Sena.

“Iya kak!” jawab Gadis.

“Ayo sekarang kita berdoa, sambil merem ya kak!” ajak Gadis.

Doa pertama dari Damarion, “Semoga kita berlima bisa ke pantai barengan.”

Doa kedua dari Rayan, “Semoga, kita bisa main ke luar negri!”

Sena semakin menggigit mulutnya dan menahan tangisnya.

Doa ketiga dari Navaro, “berlima terus ya.”

Doa keempat dari Gadis, “Mau ketemu mama.”

Dan doa terakhir dari Sena, “Dis, kakak ikhlas.”

Damar, Rayan dan Nava tersontak kaget, doa nya Sena membuat mereka bangun dan melihat Gadis. Sena pun duduk lalu melihat adik nya sudah tertidur untuk selamanya.

“A-adik kakak yang baik..”

“Udah tidur ya?”

“Selamat ketemu mama disana.”

“Adiknya kak Sena sekarang udah ga sakit lagi.”

“Adiknya kak Sena pasti udah nemu tempat ternyaman diatas sana.”

“Adik kakak yang cantik, selamat tidur.” ucap Sena sembari mengecup kening Gadis.

Pada malam itu, Gadis telah meninggalkan Sena, Nava, Damarion dan Rayan untuk selamanya.

Saat ini Sena dan Rayan sedang menjenguk ayah nya yang sedang di penjara. Melihat ayah nya kini sudah tidak kekar seperti dulu, sangat kurus, dan wajah tidak terurus.

“Pah.” panggil Rayan.

Arya langsung berdiri mendekat ke sel tahanan, “a-anak ku..”

“Sehat?” tanya Sena.

Ayah nya mengangguk lalu lesu kembali.

“Pah, Gadis lagi sakit.” ucap Rayan.

“Mau ketemu?” tanya Sena.

Arya menggeleng, “papah udah banyak dosa ke gadis, papah malu..”

“Sekali aja ya pah? ketemu Gadis, dia pengen banget ketemu papa.” ucap Rayan.

Arya tetap menggeleng, “bentar lagi papa juga mati.”

“Pah...”

“Ngga nak.. Papa gabisa liat Gadis untuk sekarang ini.”

“Salam saja dari papa ya, untuk Gadis.” sambung Arya.

Sena dan Rayan sudah pasrah akhirnya mereka hanya mengiyakan saja kemauan ayah nya ini. Lalu mereka pamit pulang.