214

Aslan dan Gadis sedang berada di tempat favorit mereka yaitu atap sekolah.

“Enak banget, makanan nya. Lo masak sendiri?” tanya Gadis kepada Aslan.

Aslan mengangguk dengan semangat, “iya, hahaha. Gue abis belajar masak.”

“Lan, lo seriusan gamau pindah serumah sama gue? kakak-kakak yang lain juga nunggu lo tau.”

“Ngga enak, Dis. Suasana nya pasti beda kalau ada gue, di rumah kalian.”

“Kakak-kakak gue baik kan? eh sorry, maksud—”

Aslan memotong, “baik, Dis.” lalu tersenyum.

“Dis, ayo buka mulut nya.” sembari mengangkat sendok untuk menyuapi Gadis.

Gadis menuruti ia membukakan mulut nya, ketika Gadis sedang mengunyah, keluar darah dari hidung nya.

“Eh-eh lo berdarah.” ucap Aslan.

Gadis kaget segera mengelap hidung nya, “g-gue gapapa.”

“Lo pucet Dis.”

“Gapapa kok!”

“Dari waktu itu lo sering mimisan sampai sekarang?”

“Gapapa, Aslan. Gue gapapa.”

Selama satu jam mereka bercengkara di atap sembari memakan makanan yang dibuat oleh Aslan. Dan akhirnya mereka memutuskan kembali ke kelas.

“GADIS!!”

Betul saja, ke khawatiran Aslan. Gadis kini pingsan. Aslan membawa Gadis ke UKS. Lalu memberitahu kakak-kakak nya.


Setelah setengah jam tidak sadarkan diri, Gadis bangun dari pingsan nya.

“Kak s-sena?”

“Kamu gapapa? aku bawa—”

“Gausah, aku gapapa.” jawab Gadis.

“Tapi—”

“Kak Sena. Aku bilang aku gapapa.”

Sena diam, tidak berkutik lagi.