Ketemu Papa
Rayan dan Gadis sedang menuju perjalanan pulang ke rumah.
“Dis?”
“Hmm”
“Lemes ya?”
Gadis mengangguk.
“Kak, Gadis tidur dulu ya.”
Rayan menahan, “janji, bangun lagi kan?”
Gadis terkekeh, “iya, kak.”
“Sebelum, Gadis tidur. Gadis mau curhat sebentar sama kak Rayan.”
Rayan memberhentikan mobil nya ke pinggir jalan, lalu menyimak Gadis nya ini berbicara.
“Gimana?” tanya Rayan.
Gadis yang tersenyum lesu, kakak nya ini sangat gemas, dia memberhentikan mobil nya demi mendengarkan curhatan adiknya ini.
“Kak, Aslan adik kakak juga kan?”
“Iya.”
“Gadis mau besok, kita nonton sama Aslan.”
“Tapi, kakak sama kak Sena mau nengok papa.”
Gadis yang asalnya lesu menjadi agak segaran.
“Ketemu papa?!”
Rayan kaget melihat adiknya menjadi agak semangat seperti ini.
“Iya, kenapa? mau ikut?”
“Pengen, tapi papa pasti gamau ketemu aku.”
“Aku pengen banget ketemu papa, tapi aku bukan anak papa. Walaupun di kartu keluarga ada nama Gladisya, tapi papa gak mengharapkan ada nama itu.” Gadis sembari tertawa kecil.
“Kamu anak papa.” jawab singkat Rayan.
Gadis menggeleng, “Anak secara hukum kak? bukan anak secara nyata.”
“Papa gapernah mau mengakui kenyataan, kalau aku anak dia ... Jadi lebih baik aku pun mendukung keinginan papa, untuk mengaku bukan anak dia.”
Rayan terdiam, sungguh ia tidak mau melihat adik nya menderita seperti ini, kalau Gadis tau papa nya akan di hukum mati, malah akan menggangu kondisi Gadis.
“Lanjut kak, aku beres curhat nya. Mau tidur.”
Rayan menuruti permintaan Gadis, lalu ia melajukan mobil nya kembali.