200

Gadis menuju atap sekolah, sebenarnya ia tidak mau datang namun ia juga harus menyelesaikan semuanya, lebih baik menurunkan ego daripada harus kehilangan semuanya, menurutnya seperti itu.

“Gadis?” panggil Aslan.

“H-hai.”

“Pasti lo kaget ya? gue juga sama, Dis. Gue gak tau apa-apa.”

“Kalau lo mau nanya gue sayang sama lo tulus apa nggak, gue tulus.” sambung Aslan.

“Mau apa lo ngajak gue ketemuan?”

“Jelasin semuanya.”

“Maksudnya?”

“Gadis, lo percaya kan sama gue?”

Gadis hanya diam.

“Tolong, percaya sama gue, Dis.”

“Kalau cuman mau minta kepercayaan gue, bisa chatingan aja. Udah gue kekelas dulu.” ucap Gadis sambil berbalik badan dan berjalan meninggalkan Aslan.

“GADIS INGET LO PERNAH BANTU LELAKI DARI TABRAK LARI SEKITAR 4 TAHUN YANG LALU?” teriak Aslan.

Langkah Gadis terhenti.

“Iya, Gadis. Itu gue orang nya.”

“Gue pertama kenal lo dari waktu kejadian itu.” sambung Aslan.


Dan sedari tadi dibalik pintu ada yang mendengarkan mereka yaitu Damar, Sena, Nava dan Rayan.

“Dam, bukannya lo kecelakaan mobil juga 4 tahun yang lalu?” tanya Sena.

“J-jadi laki-laki yang ditabrak p-papa A-aslan ?” kata Damarion sembari terbata-bata.

“Bukan lo yang nyetir?” tanya Nava.

“B-bukan, Nav. Gue dipaksa waktu itu ikut sama papa, dan akhirnya dia nabrak laki-laki itu tapi gagal karena ada cewe yang nolong dia. Dan cewe itu ternyata Gadis?” jawab Damar mulai meneteskan air matanya.


Gadis membalikan badannya, “j-jadi lo?”

“Iya, gue kenal lo udah lama, Dis.”

“Gue, mau berterimakasih sama lo waktu itu. Tapi kita ga pernah ketemu lagi. Dan sekarang kita bertemu sebagai saudara.” ucap jelas Aslan.

“Jadi tolong percaya sama gue.” sambung Aslan sembari menangis, “gue sebenernya lemah, Dis.”