jenayspace

Tepat jam 12 malam Denara ditemani oleh iringan musik, begitupun juga Alden. Spotify Session membuat mereka bisa mendengarkan lagu yang sama. Tiba-tiba ponsel Denara berbunyi, Denara pun segera mengambil ponsel tersebut dan terlihat nama yang muncul adalah Alden.

“Eh? kok telfon? kan lagi spotsess?”

“Hujan disini, Den. Temenin ya, sebentar.” jawab nya.

Semakin lama mengenal lelaki ini, semakin Denara tau kebiasaan-kebiasaan yang sering Alden tunjukan padanya, ketika Alden memberi pesan “Dena, bentar.” otomatis, Denara harus siap untuk mengangkat telfon dari pria berambut hitam agak kecoklatan ini.

Dengan susana malam yang dingin dan hujan semakin deras, Alden terus menerus membuka topik pembicaraan agar Denara terhibur. Walaupun menurut Denara memang tidak terlalu lucu, tapi dia sangat menghargai usaha Alden agar dirinya tidak bersedih lagi.

“Dena, gue selalu dengerin lagu ini, biasanya penghilang rasa cape gue. Coba tebak judul lagunya, tapi jangan liat di spotify nya ya.” ujar nya.

“Ini lagu, Fall for you? Dari Secondhand Serenade kan?”

Pria itu sedikit tertawa, sepertinya senang mendengar, Denara bisa menebak nya, “iya bener.”

“Gue juga suka lagu itu.”

Malam ini Alden sukses membuat Denara tersenyum kembali, namun Denara juga bingung, mengapa pria ini begitu peduli padanya. Denara tidak mau terlalu percaya diri bahwa Alden mungkin menyukai nya juga. Disini dia memposisikan Alden benar-benar hanya teman bagi nya. Bukan seorang pria yang ia suka, namun hanya teman.

“Dena jangan nangis di pinggir jalan lagi ya? Ada gue, bisa nampung semua keluh kesah lo.”

Kalimat tersebut adalah penutup dari pembicaraan mereka malam ini.

Mario ternyata yang sampai duluan ke rumah nya Maudy, ia memakai hoodie merah dan jeans hitam.

“Kak Mario!” panggil Maudy.

Mario yang diam didepan gerbang lalu menengok ke belakang dan ia melihat Maudy sedang membukakan pagar rumah.

Mario pun menghampiri Maudy, “eh Mod, maaf ya ganggu malem-malem, soalnya gue butuh buat ngajar besok.” ujarnya.

“Gak apa-apa kali kak, maaf juga ya kak aku harus nya udah ngembaliin lebih awal.”

“Santai aja, main gitar nya makin lancar dong sekarang?” tanya Mario sembari tersenyum.

“Hahaha, ya gitu lah kak, masih jagoan kaka.”


Tiba-tiba ada bunyi klakson mobil, dan ternyata itu mobil nya Nalendra.

“Kak Mario disini juga?” tanya Jeziel kepada Nalendra.

“Gue juga baru tau, Je.” jawab Nalendra.

Mereka pun keluar dari mobil lalu menyapa Mario dan Maudy.

“Kak disini juga?” tanya Nalendra kepada Maudy.

“Iya nih ngambil buku.” jawab Mario sembari mengangkat buku yang dipegang nya.

“Yaudah urusan gue udah kelar kok. Gue pamit pulang dulu ya semua nya, Modi thanks ya.” ujar Mario, lalu berjalan menuju motornya.

Maudy tersenyum, “iya kak hati-hati!”


Setelah itu Maudy masuk ke rumah nya untuk mengambil bunga yang dipesan ibu nya Nalen, “Nal, tunggu gue bawa bunga nya dulu kedalem, eh apa lo berdua mau masuk dulu kerumah?”

“Kita disini aja.” jawab Jeziel dengan nada dingin.

Setelah Maudy masuk kedalam, tiba-tiba Nalendra menyenggol siku nya Jeziel, “cemburu ya?”

“Hah? enggak. Apaan sih.”

“Ngeles terus bapak nya nih.” ledek Nalendra kepada Jeziel namun Jeziel hanya diam tidak menanggapinya lagi.

Maudy pun keluar dari rumah nya sembari memegang bunga yang dipesan ibu nya Nalendra.

“Nal, ini bunganya.” ucap Maudy.

“Oke, makasih ya, Mod.”

Jawaban Modi hanya mengacungkan jempol nya.

“Modi, gue ke mobil dulu ya, kayaknya handphone gue ketinggalan di dalem mobil.” ucap Nalendra, padahal itu hanya alasan, ia sengaja agar Jeziel dan Maudy bisa berduaan.

“Jiel, diem aja.”

“Emang harus gimana?”

“Ya, tanya apa kek, Eh iya jaket—”

Jeziel memotong, “simpen di lo aja dulu.”

“Terus ngapain lo kesini?”

“Liat lo.”

“Hah?”

“Hari ini gue belum liat lo, Maudy.”

Maudy masih berada di toko bunga ibu nya, masih membantu pesanan yang hari ini mungkin pesanan terbanyak.

“Tumben ma, yang pesen banyak gini.”

“Alhamdulillah nya mana?” sanggah mama nya.

“Oh iya, Alhamdulillah.”

“Modi, jagain Genta terus ya kayak nya? dia selalu cerita sama mama, katanya kamu tuh buat mood dia seneng.”

“Depan mama dia muji, depan aku ngeledekin mulu.” jawab Maudy.

“Modi, kalau mau nge-kost, nge-kost aja biar lebih dekat ke kampus nya.”

“Ngga mama, ngga Genta, ini tujuan nya ngusir Modi?”

“Hahaha, ngga.”

“Oh iya, ma, kak Mario malem mau kerumah ngambil buku yang pernah Modi pinjem.”

“Mario itu yang pernah bantuin kamu ngajarin gitar ya?”

Maudy mengangguk, “mama inget.”

“Pasti inget, soalnya kemarin mama ketemu dia juga, bantuin barang-barang mama sampe ke toko.”

“Eh, serius ma?”

Mama nya pun mengangguk, “baik anaknya.”

“Oh iya, Mod. Ini bunga ibunya Nalen, bawa kerumah ya. Nanti Nalen ke rumah juga malem.”

Maudy pun melihat jam di tangan nya, waktu pun sudah menunjukan pukul 7 malam, Maudy segera pamit kepada mama nya untuk pulang ke rumah.

“Mod, jangan lupa bunga ibu nya Nalen ya!”

“Iya, ma. Modi pamit ya, mama nanti hati-hati pulang nya!”

Jeziel sekarang berada didalam ruangan bunda nya. Ia sedang menatapi wajah bunda nya, sangat cantik, selalu cantik.

Jika Jeziel sedang berkunjung kerumah sakit untuk menjenguk bunda nya, tangan Jeziel selalu dipegang oleh bunda nya. Dan bunda nya selalu berkata, “anak baik, anak pinter, anak ganteng nya bunda, sehat-sehat ya. Tunggu bunda bisa pulang kerumah, masakin makanan kesukaan nya atar.”

Atar adalah panggilan Jeziel, yang memanggil Atar hanya seseorang yang menurut Jeziel dekat.

“Gimana kuliah sama latihannya?” tanya bunda nya.

“Berjalan dengan baik bunda. Tenang aja, Atar masih latihan kok, kuliah juga ngga atar tinggal.”

“Bunda kangen nganterin kamu ke pertandingan-pertandingan gitu.” ujarnya.

Jeziel tidak bisa menjawab karena dirinya saja sekarang hanya fokus mencari uang, untuk bekal nya sehari-hari.

“Belum ada pertandingan lagi bunda. Sekarang bunda fokus sembuh aja dulu ya?”

Bundanya tersenyum, “adik kamu pasti bangga sama kamu, kakak nya udah kuliah dan jadi atlit renang yang ternama.” sembari mengusap rambut Jeziel.

Genta dan Jeziel pun sekarang sudah berada di kolam renang tempat mereka latihan. Sebenarnya Jeziel sekarang sembari mengajar bukan hanya latihan. Alih-alih memberitahu mama nya hanya latihan padahal dia juga mengajar disana.

Setiap sore Genta latihan dan Jeziel mengajar, namun jika hari libur biasanya di pagi hari untuk jam latihan nya.

Kini Jeziel sedang memakai celana renang, dan tentu saja dada bidang nya terlihat, tangan yang kekar, dan perut yang sudah six-pack. Genta benar-benar terlihat kagum melihat Jeziel ketika sudah di tempat latihan. Benar-benar tampang seorang atlet yang sudah tidak diragukan lagi.

“Gimana latihannya? udah dikasih program sama kak Rian?” tanya Jeziel kepada Genta.

“Udah, kak. Ini baru beres.” jawab nya.

Jeziel mengangguk, “yaudah gih mandi dulu, nanti kakak nunggu diparkiran ya.”

“Oke, kak!”


Setelah 15 menit menunggu akhirnya Genta keluar dari tempat latihannya dan menuju ke motornya Jeziel.

“Kak Jeziel.” panggil Genta.

“Udah?”

“Udah.”

“Yaudah yuk, berangkat.”

Genta menuruti perintah Jeziel namun perjalanan ini malah bukan ke arah rumahnya.

“Kak, mau kemana?”

“Makan dulu ya, nanti kakak traktir.”

Mereka pun sampai di warung nasi langganan Jeziel.

“Kakak biasanya makan disini.” ujarnya.

Genta hanya mengangguk dan tersenyum.

Mereka pun menyantap makanan yang ada di warung nasi tersebut. Setelah selesai nya makan, Jeziel membuka pembicaraan.

“Genta, emang kamu sering dititipin gitu ke nalendra?”

“Iya kak, hehehe. Kak Maudy selalu gitu biar aku gak denger mama dan papa berantem.” jawab nya.

“Sering?”

“Gak sering, kalau dulu sih iya, cuman sekarang gak sesering itu.”

“Aku selalu kagum sama kak Maudy, selama aku hidup sama dia dan deket sama dia, aku gak pernah liat dia nangis ataupun sedih.” sambung Genta.

Jeziel yang terus menyimak, lalu mencerna perkataan nya Genta.

“Kakak kamu kuat.” ucap Jeziel kepada Genta.

Genta tersenyum.


Setelah pembicaraan selesai, mereka lekas bergegas untuk pulang, dan setelah sampai dirumah Genta, Jeziel menahan Genta.

“Genta, kalau ada apa-apa bisa telfon kakak.” ujarnya.

“Eh?”

Jeziel tersenyum, “kakak pamit pulang ya.”

Hari ini Maudy memutuskan untuk tidak titip absen kepada Cilla atau Deandra, dia sudah memakai kemeja putih dan celana jeans tidak lupa rambut nya yang diikat satu. Memang Maudy anak nya sangat simple untuk masalah berpakaian atau berpenampilan.

Maudy sudah memasuki koridor fakultas nya, ia kini sedang menuju studio rekaman, niat nya ingin berlatih menyanyi agar tes nya nanti berjalan dengan lancar.

Setelah memasuki ruang rekaman, Maudy melihat ada lelaki yang memakai kaos singlet sehingga tangan kekar nya sangat terlihat jelas dan memakai celana jeans warna hitam.

“Jeziel?” ujarnya.

Jeziel masih belum menyadari adanya Maudy yang sedang melihat nya bernyanyi.

Maudy pun duduk, sembari memainkan handphone nya dan sesekali melihat Jeziel.

Selang beberapa menit akhirnya Jeziel melepaskan headphone nya lalu ia memakai jaketnya. Pria berjaket jeans ini keluar dari ruang rekaman dan melihat Maudy yang sedang tertidur pulas.

“Maudy, dari tadi disini?”

Jeziel pun melepaskan jaketnya kembali dan memberikan jaket itu kepada Maudy untuk menutupi tubuhnya.

“Lain kali, pake baju nya yang gelap, jadi kalau mau tidur dimana aja, ga bikin orang jahat sama lo.” bisik Jeziel kepada Maudy yang sedang tertidur.

Setelah memberikan jaket nya, Jeziel mengambil tas nya lalu bergegas keluar.

“G-gue balik duluan.” ucap Maudy dengan terburu-buru.

“Mod kenapa?” tanya Cilla.

“G-genta, ada bokap.”

“Naik apa?” tanya Deandra, “sama gue ayo?”

“Sama gue aja, Mod.” celetuk dari belakang yaitu Mario.

“Kak?”

“Kenapa? gue sambil pulang kok.”

Maudy pun segera meng-iyakan ajakan Mario, karena yang dipikiran dia sekarang hanya Genta.

“Gue duluan ya.” pamit Maudy kepada Cilla dan Deandra.

Mario dan Maudy pun menuju kearah parkiran. Lalu hal yang tidak diduga ban mobil nya Mario malah kempes.

“Mod...”

“Kenapa kak?”

“Ban nya kempes.”

“Gue naik ojeg aja kak.”

“Udah malem, Mod ini.”

“Gapa-”

Tiba-tiba ada seorang lelaki yang memotong perkataan Maudy, “sama gue aja.”

“Eh?” celetuk Maudy.

“Mau apa ngga?”

“Mod, sama Ziel aja.” suruh Mario, “daripada lo harus naik ojeg udah malem gini.”

Lelaki itu Jeziel, yang menawarkan Maudy untuk mengantarkan kerumahnya.

“Iya, yaudah ayo.” jawab Maudy.

Akhirnya mereka pun segera berangkat menuju rumah Maudy.


Setelah setengah jam perjalanan, Maudy masuk lewat pintu belakang rumah. Lalu segera menuju kamar Genta.

“Genta? ini kakak.”

“Buka pintunya.”

Genta segera membuka pintu kamar nya lalu memeluk Maudy, “kak, t-takut.”

“Pake airpods kakak ya sekarang nyalain lagu kesukaan kamu.”

Genta pun menuruti perkataan nya kakak nya. Lalu Maudy menyiapkan baju dan buku untuk besok Genta sekolah.

“Ayo, kita nginep dirumah tante Gea.”

Maudy dan Genta pun keluar dari rumah, lalu masih terlihat ada Jeziel diluar sana.

“Kak Jeziel?” panggil Genta dengan mata yang sudah sembab.

Jeziel tersenyum.

“Lo ga balik?” tanya Maudy kepada Jeziel.

“Lo sendiri ini mau kemana?”

“Nginep dirumah tante gue.”

“Yaudah, gue anter.”

“Nggak usah.” jawab Maudy.

“Genta junior gue dikolam, gue berhak khawatir juga sama dia.”

Maudy pun pasrah ia pun menerima penawaran dari Jeziel untuk mengantar kerumah tante nya.

Maudy pun masuk ke dalam, dan melihat Cilla dan Deandra sudah duduk, lalu Maudy pun berjalan menuju arah meja Cilla dan Deandra. Pada saat berjalan menuju meja nya Cilla dan Deandra, Maudy terhenti lalu melihat kearah panggung.

Petikan gitar dari Jeziel membuat Maudy diam membeku. Jeziel pun mulai bernyanyi.

Seperti kisah yang pernah ada

Kaulah bidadari hati

Kita bersama buat cerita

Cinta antara kita

Kupernah terluka

Kadang tak berdaya

Kau s'lalu ada

Buatku tertawa

Dan lupakan lara

Tak tahu bagaimana

Aku tanpa dirimu

Tak pernah terbayangkan

Sepi merindu

Kumohon padamu

Tetaplah kau di sampingku

Hilangkan ragu

Semua yang kan menggangu

Kucinta padamu kasihku oh ho

Petikan gitar pun terhenti.

Jefri, Mario, Reksa, Nalendra, Haris sudah berada di Caffe. Caffe ini tempat berkumpul nya anak-anak dari jurusan musik, mau dari angkatan termuda sampai tertua atau yang sudah alumni pun, Caffe adalah tempat mereka.

“Ziel belum sampe ya?” tanya Haris kepada Nalen.

Nalen menggeleng, “belum.”

“Nah, tuh dia.” ucap Nalen kepada Haris.

Haris mengangkat tangan lalu melambaikan tangan nya seakan-akan sedang memberi kode kepada Jeziel bahwa mereka duduk disebelah sini.

Jeziel pun melirik kearah Haris lalu berjalan menuju meja tersebut.

“Bang Jef.” sembari mengulurkan tangan nya untuk tos yang sering mereka lalukan.

“Kak Mario.” melakukan hal yang sama mereka tos seperti yang sering mereka lakukan jika bertemu.

Jeziel pun duduk disebelah Reksa.

“Gimana kabarnya?” tanya Jefri kepada Jeziel.

“Baik.”

“Bunda sehat?”

“Lagi sakit.”

“Jadi alasan lo balik?”

Jeziel mengangguk, “karena bunda.”

Jefri sangat tau junior nya ini tidak akan tiba-tiba pulang dan melanjutkan kuliah nya tanpa ada sebab.

“Terus, karir lo?”

“Gua lagi fokus cari duit aja bang sekarang.”

“Kalau butuh bantuan lo bisa kasih tau gue.” ucap Jefri sembari menepuk pundaknya Jeziel.

Reksa pun memecah keheningan, “Gimana kalau kita surub Ziel nyanyi aja ga sih? udah lama ga liat Jeziel nyanyi.”

Dulu mereka pernah membuat band sebelum Jeziel mengambil cuti kuliah nya, hanya iseng tadi nya, namun setelah band itu bubar karena kepergian Jeziel, banyak juga penggemar mereka yang bertanya, “kenapa band nya malah bubar.”, jika mereka ditanya seperti itu jawaban mereka hanya tertawa, karena membuat band itu hanya keisengan mereka saja.

Jeziel yang asalnya menolak untuk naik keatas panggung namun ia mengingat sesuatu lalu mengubah pikirannya, dan ia mau bernyanyi.

Jeziel pun naik keatas panggung, lalu mengambil gitar nya dan setelah itu ia duduk.

Jeziel memainkan gitar nya.

Setelah menerima imess dari Jeziel, Maudy segera melihat ke belakang, kini tatapan Maudy fokus kepada Jeziel, “ganteng.” ucap nya tanpa sadar.

“Iya, gue tau, gue ganteng.”

Maudy pun segera menutup mulutnya lalu memejamkan matanya sebentar, “bego!”

“Lo Maudy kan?”

Maudy mengangguk, “mau apa? lo mau labrak gue?”

“Sini hp lo.”

“Lo mau maling?”

“Siniin.”

“Ngga.”

“Siniin, Maudy.”

“Lo apaan sih, ngatur-ngatur gue. Mana mau minjem hp gue lagi.”

Jeziel hanya menatap Maudy dengan tatapan dingin, ia sama sekali tidak memalingkan wajahnya, ia terus menatap wanita itu.

“Oke-oke, gue kasih hp gue.” pasrah Maudy sembari memberikan hp nya kepada Jeziel.

Setelah Jeziel menerima hp dari Maudy ia mengutak-ngatik hp Maudy sebentar, lalu mengembalikan nya lagi, setelah itu Jeziel pergi meninggalkan Maudy.

“Lah? Ga jelas?” ucap Maudy.