267
Kehidupan mereka sama seperti biasanya namun sekarang tanpa Gadis.
“Sen, makan.” suruh Nava.
“Nanti aja.”
“Lo udah jarang makan, lo mau liat Gadis sedih diatas sana?”
“Kenapa ga gua aja sih yang mati nav?”
“Kenapa?”
“Kenapa Tuhan selalu ambil orang yang gua sayang.”
“Udah seminggu gua coba nahan supaya gua ga terlalu nangis, gua udah coba nahan diri di pemakaman Gadis, susah, Nav, susah.”
Nava pun merasa kasihan melihat Sena, jujur semenjak pemakaman Gadis. Rayan, Nava, Damarion dan Sena sudah jarang berinteraksi, rumah nya benar-benar sudah mati, tidak ada kehidupan, hanya ada orang yang lalu-lalang saja.
Tiba-tiba ada yang mengetuk pintu. Lalu Navaro membukanya.
“Aslan?”
“K-kak, g-gadis..”
Aslan lalu berlutut didepan Navaro, “gue k-kesini mau ngasih i-ini ke kalian. Waktu i-itu gue pernah kesini seminggu sebelum Gadis m-meninggal dan s-sehari sebelum kalian main. G-gadis nitipin ini kak, buat kalian.”
Aslan pun memberikan surat, lalu Navaro, mengambil nya.
“Masuk dulu?”
Aslan menggeleng, “gue mau ke makam Gadis kak.”
Navaro segera memeluk Aslan lalu menepuk-nepuk punggung Aslan, “Gadis udah ga sakit lagi, kita harus ikhlas ya.” lalu nava melepaskan pelukannya dan tersenyum kepada Aslan.