21

Ketika Gadis bangun dari tidur nya, dia kaget melihat Sena sedang tidur sembari duduk di pinggir tempat tidurnya.

Gadis mengelus rambut Sena lalu dia membangunkan nya, “kak Sena, ayo bangun.”

Sena pun tersadar karena ada yang mengelus rambutnya, dia mengucek mata nya lalu tersenyum kepada Gadis, “eh, adik kakak udah bangun.”

“Kakak ngapain tidur disini?”

“Kangen.”

“Apaan sih, lebay.”

“Khawatir, aku khawatir sama kamu.”

“Aku udah gapapa kak.”

“Dari luar gapapa, pasti dalemnya kenapa-napa. Damar baik kan sama kamu?”

Gadis mengangguk dengan semangat, “baik kok!”

“Maaf ya? kakak gaada disaat kamu lagi butuh kakak.”

“Gapapa kak. Lagian ada kak Damar juga kak, kakak ko kayak ragu gitu?”

“Damar kan cuek sama kamu, takut aja kamu lagi butuh seseorang dia tetep aja gapeduli sama sekitarnya.”

“Kata kak Navaro, kak Damar sayang sama aku, mungkin caranya aja beda untuk memperlihatkannya.” ucap Gadis dengan senyum nya.

Senyum Gadis membuat Sena lega, dia takut adiknya semakin trauma lagi, Gadis sedari dulu tidak mendapat kasih sayang dari ibu dan ayah nya, karena setelah melahirkan Gadis, ibunya meninggal dunia dan ayah nya mulai selingkuh, ntah memang sudah selingkuh dari lama, sena pun tidak tahu. Intinya dia hanya ingin menjaga adik perempuannya ini.

“Oiya, Nava bikinin nasi goreng kesukaan kamu.” ucap Sena sembari memberikan Nasi goreng itu kepada Gadis.

Ketika Gadis akan mengambilnya, “eh, kakak suapin ya?” tawar Sena.

“Kakak ih hahahaha, gemes banget! nanti kalau punya pacar harus yang baik ya!”

“Gamau pacaran dulu, maunya sama Gadis.”

“Kak Sena.”

“Iya? kenapa? ada yang sakit?”

Gadis tertawa kecil dan menggeleng, “ngga apa-apa, aku cuman mau bilang makasih ya? aku sangat sayang kak Sena!”

Sena pun membalasnya dengan senyuman lalu mengelus ujung kepala Gadis, “ga perlu makasih, udah seharusnya seorang kakak seperti ini.”

Dan mereka menghabiskan waktu berdua sembari berbincang-bincang dan Sena pun sembari menyuapi nasi goreng kepada Gadis.