jenayspace

Hari ini Razel dan Binar jalan-jalan kembali untuk kesekian kalinya. Kali ini Razel mengajak dia ke panti yang dulu ia pernah datangi.

“Gue dulu pernah punya temen disini namanya Riel.” celetuk Binar.

“Terus?” jawab Razel.

“Terus ketika gue dipindah sekolah dan rumah gue. Gue belum sempet bilang gue suka sama dia.”

“Masih nunggu?”

Binar mengangguk, “dia nemenin gue waktu kecil, dan satu teman cowo gue, yang sekarang gue suka sama dia. Tapi kak Abi larang gue buat cari dia.”

“Gue mau ketemu, Riel. Itu tujuan gue selalu lewat sini, kalau pulang sekolah.” sambung Binar.

Secepatnya lo bakal ketemu, Riel lo ya, Nar.”

“Semoga, Zel.”

Akhirnya Razel dan bundanya, pergi ke dokter langganan mereka untuk meng cek up ulang hasil test, sebenarnya Razel tidak mau, namun dia terus menerus penglihatan kabur dan menjadi sering mimisan.

“Hasil test nya besok ya bu jadinya, saya akan beritahu kalian berdua.” kata dokternya.

“Anak saya gaakan sakit kan dok?”

“Mudah-mudahan, tapi dilihat-dilihat penyakit nya Razel ini masuk ke kanker nasofaring, tapi mudah-mudahan perkiraan saya tidak benar ya.” jelas dokter.

Razel pun membeku, dia bingung harus bagaiman, dia kaget, dan dia takut.

Akhirnya Razel dan bunda nya pulang, lalu Razel langsung kekamarnya, dia lagi malas berkomunikasi dengan siapapun.

“Ina, kakak gatau, bisa ikut rayain ulang tahun kamu atau ngga, miris ya, Na. Ditambah lagi kakak, bukan kakak kandung kamu, maafin kakak ya.” batin Razel

Flashback waktu itu Razel berumur lima tahun, dia anak panti, jika ingin tahu orang tua Razel yang sebenarnya dia pun tidak tau, semenjak kecil dia sudah diurus oleh bibi Minah. Setelah diurus oleh bibi Minah, dia tiba-tiba di pindah kan ke panti, sangat miris kedua orang tuanya tidak mau mengakui bahwa Razel anaknya.

Akhirnya ada sepasang suami istri, mengadopsi Razel, dan akhirnya Razel mempunyai adik tiri, yaitu Raina. Raina belum tahu kakak nya ini adalah kakak tirinya, Razel akan memberitahunya ketika Raina umur 17 tahun.

Razel pun mengenal Javas ketika sudah diadopsinya dia oleh Bunda dan Ayah nya yang sekarang adalah orang tua dalam kartu keluarganya. Javas waktu itu dia tidak bisa bermain sepeda, akhirnya dia diledek oleh teman-teman nya, kemudain Razel datang membela, pertemuan mereka sederhana dan sampai sekarang mereka sering dianggap anak kembar.

Kalau ditanya kapan Razel bertemu dengan Gema dan Deon, karena waktu itu Leon dan Gian belum lahir. Mereka bertemu pada saat pertandingan lari antar SD, pada saat itu yang juara pertama adalah Gema, yang kedua Deon dan yang ketiga Razel, Javas waktu itu hanya supporter saja. Mereka bersalaman layaknya anak kecil yang senang ketika mendapatkan medali yang dikalungkan.

“Hai, selamat kalian, karena kita menang. Pasti kita yang paling hebat. Ayo temenan?” kata Gema waktu kecil.

Dan semenjak saat itu mereka menjadi Gema, Deon, Javas dan Razel yang sekarang, dan datang Leon lalu Gian, tumbuh lah perjanjian “Kalau kita punya adik cowo, ajak aja main sama kita.” kata Razel.

Razel dengan keluarganya mereka sering membuat satu acara yang dimana isinya, mereka menonton film, mendengarkan musik bersama dan saling mengungkapkan pikirannya masing-masing.

“Ayah.” panggil Raina.

“Iya sayang.”

“Ayah, bunda sama kak Razel jangan ninggalin Ina ya, kalau salah satu dari kalian pergi, Ina sedih.” ucap jelas Raina.

“Loh kamu ngomongnya gitu?” sambung Bundanya.

“Aku denger kak Razel sakit, sakit apa bunda?”

“Sakit biasa, Ina.” jawab Razel.

“Boong, kak Razel boong.”

“Beneran, duarius.”

“Yaudah diulang tahun Ina yang ke delapan, kak Razel harus ada.”

Razel mengangguk, ntah anggukan yang artinya benar-benar iya, atau hanya untuk menenangkan adiknya saja.

“Tuh, udah dijawab, jadi sekarang Ina tidur ya?” ucap bundanya.

“Oke bunda!”

Akhirnya mereka membuat jadwal untuk bertemu dengan alih-alih ingin ngopi bersama.

Razel, Gema, Deon, Leon dan Gian pun sudah berangkat ke caffe langganan mereka, dari pukul 7 malam sampai 8 malam Javas masih belum ada balasan dan memang sepertinya dia tidak akan datang.

“Javas kemana ?” tanya Gema.

“Gatau.” jawab Razel.

“Khawatir ga sih?” tanya Gian.

“Iya, gue takut banget dia dihajar Dark Blood.” sambung Deon.

“Doain aja, semoga dia emang lagi dirumah nya sibuk.” jawab Leon menengahi.

Akhirnya mereka lekas pulang kerumah masing-masing.

Tapi ada satu kejanggalan yang dirasakan oleh Razel, dia seperti diikuti oleh seseorang tapi ntah siapa.

“Kayak Javas, tapi gamungkin.” batinnya.

“Javas, gue khawatir lo dimana sih.” batinnya lagi.

Javas pun menggunakan kemenangannya atas taruhan kemarin. Dia mengajak Binar jalan-jalan bersamanya.

“Mau kemana?” tanya Binar.

“Gapapa gue ajak jalan?”

“Gapapa dong, emang kenapa?”

Javas hanya tersenyum simpul, “oke, gapapa.”

Javas melajukan mobil nya, lalu mereka saling bercerita satu sama lain, mendengarkan musik, benar-benar seperti dunia milik berdua.

“Manis.” batin Javas.

“Masih jauh?”

“Lumayan.”

“Mau kemana sih?”

“Bawel banget.”

Kemudian Javas bertanya, tentang Razel kepada Binar.

“Razel orang nya gimana?”

“Loh, tiba-tiba?”

“Tiba-tiba apa?”

“Nanya Razel.”

“Ya tanya aja.”

“Baik, dingin tapi perhatian, ga bisa ditebak, tapi gue nyaman.”

“Nyaman?”

“Iya.”

“Oh, oke, hehehe.”

Arjuna dengan keenam saudaranya bergegas siap-siap berangkat seperti yang di janjikan Reksa. Arjuna sudah melarang agar mereka tidak ikut, tapi tetap saja mereka ngeyel, ingin ikut.

“Jayden gausah ikut.” ucap tegas Arjuna.

“Tapi bang-”

“Bang Arjuna bilang gausah ya gausah.” sambung dengan tegas nya Alden.

“Langit sama Rama jaga daerah timur.” kata Arjuna.

“Sena sama Candra, daerah barat.” balas Alden.

“Dan Jayden, lo jaga supaya ayah gak tau gue balapan.” sambung lagi Arjuna.

“Baik bang.” jawab Jayden.

Mereka berenam sudah berangkat, dan Jayden sekarang sedang mengawasi rumah.


Arjuna sudah sampai tempat tujuan, dan Alden mengawasi dari jauh. Namun Reksa sudah hampir setengah jam tidak kunjung datang. Akhirnya, Arjuna menelpon Alden.

“Lo serius ini, Reksa ngajak balap kan?”

“Serius.”

“Belum ada ini, ga biasanya dia telat.”

Tiba-tiba suara tembakan, “BANG AWASSSSS!!” suara Langit yang langsung memeluk abang nya agar tidak terkena tembakan.

“LANGIT!!!” teriak Rama.

“LANGIT, LO GAPAPA?” tanya Arjuna.

“Gapapa bang, hehehe. Gue pake baju anti peluru nih, disuruh Alden.” jawab Langit.

“Alden nya mana?” tanya Arjuna.

“Bang, ini gue di chat Alden katanya dia, Sena sama Candra di depan, nungguin kita. Katanya cabut aja. Ada yang ga beres.” jawab Rama.

“Oke, kalau gitu.”

Arjuna, Langit dan Rama menyusul Alden, Candra dan Sena. Mereka langsung bergegas pulang, dan melihat situasi dirumah.

Aldenata langsung segera bergegas ke rumah sakit setelah diberi kabar suster Wina.

“Semoga, kamu beneran bangun ya, Na.” batinnya.

Alden langsung masuk kerumah sakit itu dan alhasil ternyata hanya pergerakan tangan saja, tidak siuman. Suster Wina meminta maaf kepada Alden, tapi sungguh Alden tidak apa-apa dia hanya kesal dengan keadaan mengapa waktu itu Keana malah ikut pertemuan Sanskara dan Daneswara di gudang hara. Kalau saja Keana tidak ikut, mungkin dia sedang bersekolah, hidup seperti perempuan lainnya.

“Maafin aku, Ana.”

Alden pun pulang, dengan wajah lesu. Lalu Arjuna datang, dia tau adiknya ini sedang sedih.

“Kenapa?” tanya Arjuna.

“Keana, bang. Kapan ya bangun?” jawab Aldenata.

“Sabar. Keana pasti bangun.”

“Lo siap balap besok, bang?”

“Siap lah.”

“Kaki lo udah mendingan emang?”

“Udah. Gue mau nitip pesen aja buat lo, Al.”

“Apa?”

“Keana, ga mihak kita. Lo juga harus hati-hati akan itu.” ucap jelas Arjuna sembari menepuk pundak Alden, lalu pergi.

Arjuna memang benar, Keana tidak pernah memihak Sanskara, dia selalu memihak Daneswara. Tapi tetap saja, Alden selalu mengelak, bahwa Keana akan memihak Sanskara.