19 Gadis anak papa juga

“GADIS, KELUAR DARI KAMAR KAMU SEKARANG!” teriak papanya dari lantai bawah.

Rumah nya ini sudah seperti kapal pecah, semua gelas dipecahkan oleh ayah nya.

“ANAK SIALAN KELUAR KAMU!”

“Kak Nava, kak Sena dimana, ga-gadis takut.” ucap Gadis pelan sembari terhisak menangis.

Gadis pun memberanikan diri untuk keluar kamar, lalu menemui ayah nya.

“Pa-papa..”

“Keluar juga kamu!” ucap ayahnya sembari menjenggut rambut Gadis.

“Saya bilang jangan chat saya! kenapa kamu masih chat saya segala? istri saya marah, melihat saya masih berkomunikasi dengan kamu!” sentak Papa nya Gadis.

Gadis meringis kesakitan, “pah sakit tolong lepasin dulu tangannya dari rambut Gadis pah..”

Papanya semakin menjadi-jadi, dia tidak peduli anaknya sama sekali, semakin disiksa.

“PAH SAKIT PAHHHH....” teriak Gadis.

Lalu dari luar motor Damar terdengar, Damar segera masuk kedalam rumah, dan benar saja, seisi rumah sudah seperti kapal pecah.

“Gadis!” teriak Damarion.

Papa nya langsung berhenti setelah melihat Damar.

“Eh ada anak papa, baru pulang?” sambut Papa nya dengan senyum sumringah.

Gadis masih menangis.

“Gila, gue punya papa gila.” celetuk Damarion.

“Apa kamu bilang?”

“Perlakuan papa ke kita sama ke Gadis beda pa, padahal dia anak papa juga!” sentak Damar.

“Papa baru tau punya anak namanya Gadis.” jawab nya.

“Ngapain papa kesini? bukannya udah enak sama istri baru nya?” tanya Damarion.

“Kan mau ketemu sama anak-anak lelaki papa.”

“Gua gapernah punya seorang ayah yang gila kayak lo.” jawab Damarion.

“Damar!” sentak Papa nya.

“Biarin, pah. Lebih berdosa mana seorang ayah yang sering pukulin anak perempuannya atau seorang anak yang meneriaki ayahnya supaya sadar, kalau yang di siksa itu anak nya sendiri!” jawab jelas Damarion.

“Lihat? kamu jadi melawan papa, gara-gara anak sialan itu!”

“Gladis namanya, bukan anak sialan.” sanggah Damar.

“Ah, terserah. Papa pusing, papa mau pulang dulu kerumah istri papa.”

“Sana, gausah izin.” jawab Damarion.

Ayah nya pun langsung keluar rumah dengan menggebrakan pintu rumah.

“Sinting.” celetuk Damarion.


Gadis yang sedari tadi menutupi wajah nya dengan tangan sedang duduk dipojokan. Damarion pun menghampiri Gadis adik nya ini.

“Gadis?”

“Lo gapapa?”

“Gapapa, kak.”

“Lo gapapa?”

“Gapapa.”

Tanpa aba-aba, Damar pun memeluk adiknya ini. Dan benteng pertahanan Gadis agar tidak terlalu menangis itupun runtuh, Gadis menangis sejadi-jadinya.

“Gapapa, nangisin aja. Ada gue, lo aman.” ucap Damar sambil mengelus rambut Gadis.

“K-kak, maaf. Gadis pembawa sial ya buat keluarga ini?”

“Siapa bilang?” jawab Damarion.

“Buktinya kakak aja, gasuka sama aku, ga sayang sama aku.”

“Gue sayang sama lo, Dis.”

Akhirnya, Gadis di gendong oleh Damar ke kamarnya.

“Tidurin aja ya? istirahat.” ucap Damar sembari menyelimuti Gadis, ketika Damar beranjak keluar, tiba-tiba tangan Gadis menahan tangan Damar, “disini dulu kak, sampe aku tidur.”

Damar menuruti kemauan Gadis, ia duduk kembali dipinggir kasur adiknya.

Setelah beberapa menit, Gadis mulai tertidur lelap, dan Damar berbisik, “kakak sayang kamu, Gadis.” sembari mengecup kening adik nya ini, lalu beranjak dan pergi dari kamar Gadis.