47

Jefri, Mario, Reksa, Nalendra, Haris sudah berada di Caffe. Caffe ini tempat berkumpul nya anak-anak dari jurusan musik, mau dari angkatan termuda sampai tertua atau yang sudah alumni pun, Caffe adalah tempat mereka.

“Ziel belum sampe ya?” tanya Haris kepada Nalen.

Nalen menggeleng, “belum.”

“Nah, tuh dia.” ucap Nalen kepada Haris.

Haris mengangkat tangan lalu melambaikan tangan nya seakan-akan sedang memberi kode kepada Jeziel bahwa mereka duduk disebelah sini.

Jeziel pun melirik kearah Haris lalu berjalan menuju meja tersebut.

“Bang Jef.” sembari mengulurkan tangan nya untuk tos yang sering mereka lalukan.

“Kak Mario.” melakukan hal yang sama mereka tos seperti yang sering mereka lakukan jika bertemu.

Jeziel pun duduk disebelah Reksa.

“Gimana kabarnya?” tanya Jefri kepada Jeziel.

“Baik.”

“Bunda sehat?”

“Lagi sakit.”

“Jadi alasan lo balik?”

Jeziel mengangguk, “karena bunda.”

Jefri sangat tau junior nya ini tidak akan tiba-tiba pulang dan melanjutkan kuliah nya tanpa ada sebab.

“Terus, karir lo?”

“Gua lagi fokus cari duit aja bang sekarang.”

“Kalau butuh bantuan lo bisa kasih tau gue.” ucap Jefri sembari menepuk pundaknya Jeziel.

Reksa pun memecah keheningan, “Gimana kalau kita surub Ziel nyanyi aja ga sih? udah lama ga liat Jeziel nyanyi.”

Dulu mereka pernah membuat band sebelum Jeziel mengambil cuti kuliah nya, hanya iseng tadi nya, namun setelah band itu bubar karena kepergian Jeziel, banyak juga penggemar mereka yang bertanya, “kenapa band nya malah bubar.”, jika mereka ditanya seperti itu jawaban mereka hanya tertawa, karena membuat band itu hanya keisengan mereka saja.

Jeziel yang asalnya menolak untuk naik keatas panggung namun ia mengingat sesuatu lalu mengubah pikirannya, dan ia mau bernyanyi.

Jeziel pun naik keatas panggung, lalu mengambil gitar nya dan setelah itu ia duduk.

Jeziel memainkan gitar nya.