97
Genta dan Jeziel pun sekarang sudah berada di kolam renang tempat mereka latihan. Sebenarnya Jeziel sekarang sembari mengajar bukan hanya latihan. Alih-alih memberitahu mama nya hanya latihan padahal dia juga mengajar disana.
Setiap sore Genta latihan dan Jeziel mengajar, namun jika hari libur biasanya di pagi hari untuk jam latihan nya.
Kini Jeziel sedang memakai celana renang, dan tentu saja dada bidang nya terlihat, tangan yang kekar, dan perut yang sudah six-pack. Genta benar-benar terlihat kagum melihat Jeziel ketika sudah di tempat latihan. Benar-benar tampang seorang atlet yang sudah tidak diragukan lagi.
“Gimana latihannya? udah dikasih program sama kak Rian?” tanya Jeziel kepada Genta.
“Udah, kak. Ini baru beres.” jawab nya.
Jeziel mengangguk, “yaudah gih mandi dulu, nanti kakak nunggu diparkiran ya.”
“Oke, kak!”
Setelah 15 menit menunggu akhirnya Genta keluar dari tempat latihannya dan menuju ke motornya Jeziel.
“Kak Jeziel.” panggil Genta.
“Udah?”
“Udah.”
“Yaudah yuk, berangkat.”
Genta menuruti perintah Jeziel namun perjalanan ini malah bukan ke arah rumahnya.
“Kak, mau kemana?”
“Makan dulu ya, nanti kakak traktir.”
Mereka pun sampai di warung nasi langganan Jeziel.
“Kakak biasanya makan disini.” ujarnya.
Genta hanya mengangguk dan tersenyum.
Mereka pun menyantap makanan yang ada di warung nasi tersebut. Setelah selesai nya makan, Jeziel membuka pembicaraan.
“Genta, emang kamu sering dititipin gitu ke nalendra?”
“Iya kak, hehehe. Kak Maudy selalu gitu biar aku gak denger mama dan papa berantem.” jawab nya.
“Sering?”
“Gak sering, kalau dulu sih iya, cuman sekarang gak sesering itu.”
“Aku selalu kagum sama kak Maudy, selama aku hidup sama dia dan deket sama dia, aku gak pernah liat dia nangis ataupun sedih.” sambung Genta.
Jeziel yang terus menyimak, lalu mencerna perkataan nya Genta.
“Kakak kamu kuat.” ucap Jeziel kepada Genta.
Genta tersenyum.
Setelah pembicaraan selesai, mereka lekas bergegas untuk pulang, dan setelah sampai dirumah Genta, Jeziel menahan Genta.
“Genta, kalau ada apa-apa bisa telfon kakak.” ujarnya.
“Eh?”
Jeziel tersenyum, “kakak pamit pulang ya.”