Keana

Aldenata langsung segera bergegas ke rumah sakit setelah diberi kabar suster Wina.

“Semoga, kamu beneran bangun ya, Na.” batinnya.

Alden langsung masuk kerumah sakit itu dan alhasil ternyata hanya pergerakan tangan saja, tidak siuman. Suster Wina meminta maaf kepada Alden, tapi sungguh Alden tidak apa-apa dia hanya kesal dengan keadaan mengapa waktu itu Keana malah ikut pertemuan Sanskara dan Daneswara di gudang hara. Kalau saja Keana tidak ikut, mungkin dia sedang bersekolah, hidup seperti perempuan lainnya.

“Maafin aku, Ana.”

Alden pun pulang, dengan wajah lesu. Lalu Arjuna datang, dia tau adiknya ini sedang sedih.

“Kenapa?” tanya Arjuna.

“Keana, bang. Kapan ya bangun?” jawab Aldenata.

“Sabar. Keana pasti bangun.”

“Lo siap balap besok, bang?”

“Siap lah.”

“Kaki lo udah mendingan emang?”

“Udah. Gue mau nitip pesen aja buat lo, Al.”

“Apa?”

“Keana, ga mihak kita. Lo juga harus hati-hati akan itu.” ucap jelas Arjuna sembari menepuk pundak Alden, lalu pergi.

Arjuna memang benar, Keana tidak pernah memihak Sanskara, dia selalu memihak Daneswara. Tapi tetap saja, Alden selalu mengelak, bahwa Keana akan memihak Sanskara.