Pertemuan keluarga.
Pertemuan keluarga Gavileo dan Laneya pun sudah dimulai. Tepat pukul 7 malam, mereka memulai dengan acara makan malam bersama. Laneya memakai kemeja coklat polos dan celana jeans putih lalu rambut yang diurai. Dan, Gavileo memakai kemeja hitam, kancing yang sengaja dibuka satu, celana jeans hitam, lalu memakai jam tangan.
Setelah acara makan malam selesai, keluarga Laneya, pun keluarga Gavileo kini sedang berbincang bersama di ruang tamu.
“Baik, bu Mia, saya amat sangat banyak ber-terimakasih kepada ibu dan nak Avi, yang sudah menyempatkan datang kesini.” ujar Ayah Laneya.
Ibu Gavileo membalas dengan senyuman lalu menganggukan kepala, “sama-sama, seharusnya saya yang berterimakasih, karena sudah disiapkan makam malam juga.”
“Tidak apa-apa kok bu. Langsung saja ya? Disini mungkin dari nak Avi dan anak saya Laneya, sudah tau acara ini untuk apa dan tujuannya juga untuk apa. Saya tidak mau bertele-tele disini.” jelas Ayah Laneya sambil melirik Laneya.
“Ney, papa mau tau jawaban kamu dulu, apa kamu mau dijodohkan dengan Aa Avi?” tanya Ayah Laneya dengan sorot mata yang tajam yang tertuju pada Laneya.
Laneya menggigit bibir bawahnya, ia mengepalkan tangannya agar bisa menahan amarahnya, karena Laneya masih berdiam diri tidak mengeluarkan jawaban sedikit pun, semakin tajam sorotan mata ayah nya kepada Laneya. Mata Laneya mulai memerah dan berkaca-kaca.
Gavileo tidak tega melihat perempuan yang ada di depannya sudah mulai tertekan oleh ayahnya, akhirnya Gavileo membuka suara, “om gimana kalau Laneya dikasih waktu dulu? Kebetulan saya juga harus berbicara berdua dengan ibu saya. Boleh?”
Laneya langsung menunduk lemas, ketika ayah nya menjawab, “boleh, silahkan.”
“Ada apa aa ngajak ngobrol berdua?” tanya Ibunya.
“Ibun, aa keinget ayah. Mata Laneya tadi lagi ketakutan bun.” Gavileo melirik ke arah ibunya.
“Kayaknya, Laneya dikekang dirumah nya bun. Aa liat kakak nya juga sama, dia cuman bisa nahan gabisa lawan.” sambungnya.
“Jadi mau aa gimana? Sudah ada jawaban yang buat aa yakin?”
Gavileo mengangguk, “ada bun, aa udah jawaban nya.”
“Yaudah, ayo masuk lagi.”
Sejak umur 15 tahun, Gavileo ini bisa menilai sifat orang dengan cara melihat dari muka orang tersebut yang Gavileo nilai. Awalnya ia ragu memiliki kemampuan tersebut, namun sudah banyak orang yang selalu mengatakan bahwa penilaian Gavileo ini selalu benar, tidak pernah meleset.
“Om boleh dari saya saja jawabannya?” tanya Gavileo kepada ayah Laneya.
Ayah Laneya mengangguk, “tentu boleh.”
“Saya, Gavileo Zaresa menerima perjodohan ini. Tapi, disini saya dan Laneya mempunyai syarat juga om.”
“Apa? Syaratnya?”
“Saya mau, pernikahannya nanti, ketika saya sudah berkerja dan yang terpenting ketika Laneya sudah siap menikah tanpa paksaan dari siapapun.”
“Oke baik. Kalau itu syaratnya.” jawab Ayah Laneya.
Tepat pukul 9 malam acara itu selesai, Laneya dan Gavileo sudah resmi dijodohkan karena kedua belah pihak sudah saling setuju.