i love you

Akhirnya mereka sampai, lalu disambut oleh Gevano yang berlari kecil menuju Laneya dan memeluknya, “kakak!”

“Aduh, hahaha. Aku nya langsung di peluk ya.”

“Ekhem, ini pacar resmi nya ngga di peluk juga?”

“Hahaha, apaan sih kakak.” Laneya melepas dengan pelan pelukan dari Gevano, “gimana udah sembuh?”

Gevano mengangguk dengan semangat, “udah, ada kakak langsung sembuh!”

Laneya tertawa kecil lalu mencubit pipi Gevano, “gemes banget deh.”

“Terus aja terus, pacaran aja sono berdua.” ledek Gavileo.

Gevano mendelik, “nyebelin banget aa.”

“Bodo amat.” jawab Gavileo.

“Apaan sih jadi berantem gini.” Laneya mencoba untuk menjadi penengah, “udah-udah, yu kita kedalem.” ia menggandeng tangan Gavileo dan Gevano.

Mata Laneya menelusuri ruangan-ruangan yang ada di sekitar, ya bisa dibayangkan lah, rumah anak konglomerat, besar dan megah.

“Ibun mana?” tanya Laneya.

“Masih dikantor.”

“Ney, sini.” ajak Gavileo.

Laneya menuruti perintah dari Gavileo, pria itu menunjukan foto ketika dirinya masih kecil bersama ayah nya, “foto ini waktu ulang tahun ku yang ke-6. Masih sama ayah.”

“Kalau ini, foto si bocil.”

“Kak, itu foto kakak sama anak waykaze ya?”

“Hahaha iya, masih culun. Tapi aku ganteng sih waktu dulu.”

“Pede amat.”

“Kak, itu foto sama Kak Erick?”

Gavileo mengangguk, “banyak ya? mau aku buang tapi—”

“Jangan dipaksa dibuang, siapa tau kalian masih punya peluang buat temenan lagi.”

Gavileo memalingkan wajahnya, “nggak mungkin.”

“Tapi, Ney.”

“Apa?”

“Jangan benci Erick ya, dia baik. Cuman cara dia nunjukin ke kamu itu salah kemarin.”

“Maksud kakak?”

Gavileo mendekat kepada Gadis yang dihadapannya, lalu mengelus puncak kepala Laneya, “aku berusaha buat ada disisi kamu terus. Jangan takut, Ney.” Gavileo tersenyum samar, “percaya ya sama aku? apapun keputusan aku, artinya itu aku lagi perjuangin kamu.”

“Hah?”

“I love you, Laneya.”