Dandelions

Selama tiga jam Gavileo ikut berbaring bersama Gevano, sesekali ia duduk lalu membawa gitar dan memainkannya.

Selang beberapa menit, Gavileo dikagetkan dengan wanita paruh baya yang baru saja datang dan membawa banyak oleh-oleh dari luar kota.

“Kenapa kaget gitu?” tanya Mia ibunda dari Gavileo dan Gevano sembari menyimpan semua barang-barang nya ke sofa.

“Ibun ngga salam dulu, aa kaget.”

“Assalamualaikum.”

“Waalaikumsalam.”

Mia duduk disebelah Gavileo dan mengelus kening Gevano anak bungsunya ini.

“Gevano keinget ayah lagi?”

“Iya, semalem dia nangis, ketemu ayah katanya, pas mau peluk dia kebangun dan tiba-tiba demam.” jawab Gavileo sembari menyimpan gitarnya ke tempat semula.

Miles Harold dulu namanya terpampang dimana-mana. Karena, kebaikan ayah Gavileo ini membuat banyak masyarakat yang menyukai keluarga mereka.

“Ayah kamu dulu, pengen banget liat Gevano bisa berenang dan liat kamu jadi musisi terkenal.”

“Kayaknya, ayah dateng ke Gevano karena seneng ya? Dia udah mulai les berenang sesuai permintaannya.” sambung nya.

Gavileo hanya bisa diam mendengar ibundanya yang mungkin sama ia juga merindukan suaminya yaitu Miles Harold.

“Aa.”

“Iya?”

“Gimana sama Laneya?”

“Pacaran.”

Mia terkejut sekaligus gembira mendengar satu kata dari Gavileo bahwa mereka sudah menjalin hubungan berstatus.

“Serius?”

Gavileo mengangguk, “dua rius bun, kalo bisa.”

Kini, posisi ibunda nya berada disebelah kiri Gevano dekat tembok, sambil mengusap-ngusap puncak kepalanya dan Gavileo disebelah kanan, sambil memijit pelan kaki Gevano.

“Ibun mau tanya sama aa, boleh?”

“Tanya aja.”

“Kenapa kamu mau dan nerima perjodohan ini? Bahkan kamu sampe pacaran sama Ney? Selain alasan yang waktu itu kamu pernah bilang ya. Ibun pengen tau lebih jelasnya.”

“Dandelions.”

“Maksudnya?”

“Itu jawabannya.”

“Aa ini mirip ayah ya, bikin ibun pusing.”

Gavileo tertawa kecil, “aa liat Ney pertama kalinya, bukan waktu kita pertama kali ketemu dirumahnya. Setelah, aa liat perempuan yang sering aa temui dulu adalah Laneya Genevi seorang pelatih renang yang waktu itu aa iseng cari di twitter dan yang lebih kagetnya lagi dia adalah orang yang dijodohkan dengan aa, aa semakin yakin aa punya harapan sama dia. Aa tau punya harapan kepada manusia itu pasti sakit. Tapi, segala apapun yang kita mau tetap saja berbalik lagi ke kata “harapan” betul kan bun? Sejauh kita menjauh dari harapan tapi tetap saja ujung-ujung nya kita akan berharap.”