aku disini ney, kamu nggak sendiri.
Laneya yang masih fokus kepada ponselnya, sampai-sampai ia tidak sadar bahwa Gavileo sudah ada disisi nya sekarang.
“Fokus amat neng, liat hp nya.”
Laneya terkejut, “astagfirullah, kirain setan.”
Gavileo tertawa kecil, “kenapa? serius gitu?”
“Duduk dulu yu, kak.”
Gavileo menuruti apa yang dikatakan Laneya, mereka duduk sembari menunggu Gevano yang sedang mandi.
“Jadi, aku ditawarin buat ikut lagi event renang sama pelatih aku. Banyak yang dia jamin sih, cuman...”
“Cuman, kamu takut kan? buat mulai lagi?” timpal Gavileo kepada Laneya.
Laneya menunduk, “kalau dibilang takut, aku emang takut. Karena, aku udah beberapa bulan ngga pernah latihan, otomatis stamina aku turun drastis dan kalau aku nerima tawaran itu, papah pasti lebih ngatur aku, aku capek kak. Aku emang mau, pengen banget. Tapi, aku nggak siap ngadepin semua resiko nantinya.”
Gavileo tersenyum, lalu mengelus puncak kepala wanita yang ada dihadapannya ini, “Laneya, banyak orang yang pengen diposisi kamu, aku jelasin ya, yang pertama nih kamu itu atlet renang dan sekarang udah buka club sendiri buat ngajar, yang kedua kamu itu udah punya “nama” didunia olahraga renang ini, ya bisa dibilang legendaris lah ya? aku baca kok beberapa artikel yang tersebar di internet tentang kamu. Dan yang kedua, kamu disayang sama pelatih kamu, jarang-jarang loh ada pelatih yang ngechat mantan muridnya buat balik lagi dan masuk jadi atlet lagi. Yang terakhir, sekarang kamu udah punya aku, kamu cape atau lelah pun sekarang ada aku, aku bakal selalu ada buat kamu, jadi tameng kamu, jadi sandaran kamu dan jadi rumah kamu untuk pulang. Jangan khawatir perihal papah kamu, aku disini ney, kamu nggak sendiri.”
Laneya tertegun dengan omongan dari Gavileo, padahal pria yang ada dihadapannya ini anak band, dia tidak mengenal dunia atlet tapi dia paham dengan apa yang Laneya bicarakan.
“Coba deh, bayangin. Sekarang kamu, posisiin diri kamu sebagai pelatih, bukan murid. Jadi, di sini kamu yang minta salah satu murid kamu yang berbakat untuk minta balik lagi kedunia renang, gimana? paham, Ney?”
Laneya mengangguk pelan, tanpa disadari mata Laneya mulai berkaca-kaca, “makasih, kak. Karena, dulu aku gapunya tempat pulang. Gaada yang ngertiin aku kecuali Kak Nelson. Sekarang aku udah punya kakak, sekali lagi—”
Ketika, Laneya belum selesai berbicara, Gavileo segera mendekap Laneya dan mengelus punggungnya. Laneya menenggelamkan wajahnya di dada Gavileo.
“Jangan nangis, maaf aku baru ada buat kamu sekarang.”
Satu kalimat itu, membuat Laneya semakin mengeratkan pelukannya, “aku sayang Kak G.”
Gavileo tersenyum, lalu mengecup kening Laneya, “aku lebih sayang kamu, Laneya.”